

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

“Pernikahan mewah belum tentu bahagia. Justru kesederhanaan di awal bisa menyelamatkan rumah tanggamu dari kehancuran finansial dan mental. Inilah bimbingan akhlak dari Imam Ali Khamenei yang jarang diketahui banyak orang.” Membangun keluarga bahagia bukanlah soal pesta megah, mahar fantastis, atau gaya hidup konsumtif. Menurut bimbingan akhlak yang dirangkum dalam antologi

Dunia modern memuja produktivitas. Kita dilatih menjadi mesin-mesin efisien yang bekerja, berproduksi, dan mengonsumsi tanpa henti. Namun, dibalik semua gemerlap kesuksesan, ada keheningan yang mencekik: kelelahan jiwa yang tak terobati, kesepian di tengah keramaian, dan rumah yang terasa asing. Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, mengingatkan kita pada sebuah

Selama berpuluh-puluh tahun, para pemikir dan aktivis sosial sibuk merumuskan strategi besar untuk menyelamatkan peradaban. Seminar digelar. Dana mengucur. Lembaga internasional dibentuk. Namun, ironisnya, tingkat depresi, kenakalan remaja, dan disintegrasi keluarga justru meningkat. Mengapa? Mungkin karena kita semua salah fokus. Menurut Pemimpin Revolusi Islam, Imam Sayyid Ali Khamenei, akar dari

Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana seorang perempuan bekerja sepanjang hari seperti laki-laki, pulang ke rumah, lalu memulai “shift kedua” sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak—tanpa ada satu pun dokumen internasional yang mengakui beban ganda ini? Dunia itu bukan fiksi ilmiah. Itulah realitas yang diciptakan oleh dokumen-dokumen hak

“Keluarga bukan sekadar unit sosial—ia adalah batu penjuru peradaban.” Itulah pesan tegas yang disampaikan Imam Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pengumuman bersejarah pada 13 September 2016. Sebuah dokumen kebijakan yang tidak hanya mengatur, tetapi merancang ulang seluruh tatanan kehidupan berkeluarga dalam bingkai masyarakat Islam. Berikut ini terjemahan resmi

Cinta Bukan Kekerasan – Mengapa Rumah Tangga Islam Melarang “Kebebasan” Gaya Barat? Pernahkah Anda membayangkan bahwa mengucapkan “aku mencintaimu” kepada istri adalah sebuah kewajiban syariat? Di sebuah peradaban angka perceraian dan kekerasan rumah tangganya meledak, seorang pemimpin agama justru mengajarkan bahwa hak pertama seorang istri di rumah bukanlah uang atau

Bukan Pembantu, Melainkan Bunga – Hak Mendasar Perempuan dalam Pandangan Islam yang Menggetarkan (Bag1) Bayangkan sebuah ajaran agama yang menyebut perempuan sebagai “bunga” yang harus dirawat, bukan “pelaksana rumah” yang dibebani segala pekerjaan. Ajaran itu ada. Dan ajaran itu mengubah segalanya tentang cara kita memandang keadilan, martabat, dan cinta.

Pendahuluan Bayangkan sebuah sistem pemikiran yang 14 abad lalu, sudah menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dalam urusan spiritual, sosial, dan bahkan politik. Namun di saat yang sama, sistem ini dengan tegas memasang “batasan” yang oleh dunia modern disebut kontroversial. Apakah itu kontradiksi? Ataukah justru logika fitrah yang selama ini hilang?

Perdebatan tentang perempuan hampir selalu berputar pada dua kutub ekstrem: tradisi yang dituduh mengekang, dan modernitas yang mengklaim membebaskan. Di tengah tarik-menarik itu, Imam Ali Khamenei mengajak melihat kembali bagaimana Islam memandang perempuan—bukan melalui stereotip, melainkan melalui teks suci dan kerangka spiritual yang sering luput dari pembacaan populer. Beliau menegaskan

KHAMENEI.ID – Perdebatan tentang perempuan dalam Islam tak pernah benar-benar sunyi. Ia muncul di ruang akademik, media sosial, hingga meja makan keluarga modern. Sebagian melihat Islam sebagai pembatas ruang gerak perempuan, sebagian lain memandangnya sebagai sistem yang justru mengangkat martabat perempuan. Di tengah tarik-menarik tafsir ini, pemikiran yang kerap disampaikan