

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

Pernikahan sering dipahami sekadar seremoni, pesta, atau bahkan transaksi sosial. Tapi, bagaimana jika pernikahan sejatinya adalah sayap untuk terbang, bukan jangkar yang membelenggu? Inilah pesan mendasar yang disampaikan oleh Imam Ali Khamenei dalam sebuah acara pembacaan akad nikah, dimana ia mengajak kita merefleksikan ulang makna pernikahan, keluarga, dan anak dalam

Kini tibalah momen agung pertemuan dua jiwa yang diridhai Allah. Dua insan muda, dengan kesadaran penuh, hendak mengarungi hidup bergandengan tangan menuju tujuan tertinggi. Sungguh, ikatan ini begitu dalam dan penting. Naluri menginginkan pasangan, jiwa yang gelisah mendambakan teman hidup, dan ruh yang resah merasa tak sempurna tanpa belahan jiwa.

Apa rahasia dibalik usia pernikahan yang diberkahi? Mengapa Islam sangat menekankan pernikahan muda sementara Barat justru menggesernya ke usia paruh baya? Berikut adalah pandangan mendalam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tentang “usia tepat untuk menikah” berdasarkan fitrah manusia dan ajaran Islam yang otentik. Tidak Boleh Terpengaruh Budaya Barat Salah satu tuntutan

Dalam era globalisasi yang dibanjiri arus informasi dan nilai-nilai universal yang didengung-dengungkan, masyarakat dunia kerap dihadapkan pada satu narasi dominan mengenai isu perempuan. Namun, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengajak publik untuk melakukan langkah yang lebih mendasar, yaitu mengosongkan pikiran dari kata-kata klise produk Barat. Ajakan ini bukan sekadar retorika, melainkan

KHAMENEI.ID – Siapa bilang Islam membatasi ruang gerak wanita? Fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Topik mengenai kehadiran sosial kaum wanita dan kontribusi mereka dalam berbagai persoalan kemasyarakatan senantiasa menjadi titik perdebatan yang menarik sekaligus penuh tantangan di tengah masyarakat dan peradaban yang berbeda-beda. Di bumi Iran sendiri, beragam sikap yang cenderung

KHAMENEI.ID – Bayangkan sebuah dunia dimana perempuan dituntut tampil memukau setiap saat—bukan karena kebahagiaan pribadi, melainkan agar dinikmati oleh pandangan laki-laki. . Apakah itu bentuk kebebasan atau justru perbudakan modern? Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei dalam beberapa pertemuan khusus dengan peseerta perempuan menyatakan bahwa fenomena ini tak lain merupakan “ketidakadilan”

Allah menciptakan fitrah perempuan itu lembut. Sebuah ilustrasi sederhana: ada jari tangan yang besar dan kasar—sangat baik untuk menggali batu dari tanah, tetapi untuk meraba permata yang sangat kecil mungkin tidak mampu mengambilnya. Sebaliknya, ada jari tangan yang lembut dan ramping—tidak mampu menggali batu, tetapi sangat lincah mengumpulkan serpihan permata

“Rumah tangga bukanlah medan kuasa, melainkan laboratorium cinta dengan dua ahli kimia yang berbeda: satu menangani logam, satu menangani kristal. Pernikahan yang harmonis bukan soal siapa yang menang, tapi soal bagaimana dua fitrah yang berbeda justru saling mengisi. Apa rahasianya? Simak pandangan mendalam Imam Ali Khamenei tentang keseimbangan hak, peran,

Selama seratus tahun, Barat dengan uang, senjata, dan propaganda telah berusaha merenggut jati diri perempuan Muslim. Namun, hari ini, suara kebangkitan terdengar. Imam Ali Kamenei, dalam pidatonya yang bersejarah di hadapan para wanita cendekia dari seluruh dunia Islam, membongkar tipu daya Barat dan menawarkan visi kebanggaan serta kemuliaan bagi perempuan

Selama ini, diskusi tentang hak-hak perempuan seringkali terperangkap dalam dua kutub ekstrem: antara tekanan tradisi yang membelenggu atau kebebasan Barat yang tanpa batas. Namun, Islam menawarkan sebuah kerangka unik yang justru memandang laki-laki dan perempuan sebagai dua entitas yang diciptakan untuk saling melengkapi, bukan saling berlomba? Sebuah piagam hak yang









