Keluarga

Empat Sifat yang Perlahan Menghancurkan Sebuah Masyarakat

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

Seni Membangun Rumah Tangga: Harmoni dalam Pembagian Kerja

Pernikahan dalam pandangan Islam bukan sekadar ikatan kontrak sosial antara dua insan, melainkan sebuah perjalanan suci yang sarat dengan tujuan mulia. Dua jiwa yang dipersatukan oleh cinta karunia Ilahi memulai babak baru kehidupan dengan visi bersama: mencapai kemajuan baik secara material maupun spiritual. Tuhan Yang Mahabijaksana telah merancang suami dan

Peran Strategis Pemudi dalam Membangun Masa Depan Iran Islam

Islam memandang perempuan sebagai elemen penting dalam pembangunan masyarakat, bukan sekadar pelengkap atau warga kelas dua. Imam Ali Khamenei dengan tegas menyatakan bahwa lapangan aktivitas bagi para gadis terbuka lebar, dengan syarat menjaga kesucian diri dan menghindari percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan. Prinsip ini bukanlah pembatasan, melainkan kerangka perlindungan

Gaya Hidup Mewah yang Merusak Pernikahan

Banyak pasangan muda gagal melangkah ke pelaminan hanya karena terhalang oleh tuntutan mahar selangit dan seserahan mewah. Padahal, menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mahar dan seserahan bukanlah sumber kebahagiaan, bahkan bisa menjadi beban yang menghalangi pernikahan. Justru kesederhanaan dan peneladanan kepada keluarga Nabi Muhammad Saw lah

Peran Suami-Istri dalam Membangun Keluarga Islami

Dalam berbagai nasihatnya kepada pemuda-pemudi yang akad pernikahannya dilakukan oleh Beliau, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menekankan bahwa poros utama dari sebuah rumah tangga bukanlah harta, kecantikan, atau kemewahan, melainkan cinta. Cinta (mawaddah) yang Allah Swt tanamkan dalam hati pasangan suami-istri adalah perekat yang menjaga keutuhan keluarga

Gemerlap Pornografi dan Perdagangan Manusia: Penyebab Kehancuran Perempuan dan Anak

KHAMENEI.ID – Industri bernilai puluhan miliar dolar, puluhan persen lalu lintas internet, dan puluhan ribu korban perempuan setiap tahunnya. Inilah sisi lain dari “kebebasan” yang begitu digembar-gemborkan oleh Barat. Pertanyaannya, apakah ini yang disebut kemajuan? Dalam pidatonya pada pertemuan akbar dengan kaum perempuan di tanggal 12 Azar 1404 HS, Pemimpin

Pernikahan sebagai Mesin Gerak Menuju Tuhan

Pernikahan sering dipahami sekadar seremoni, pesta, atau bahkan transaksi sosial. Tapi, bagaimana jika pernikahan sejatinya adalah sayap untuk terbang, bukan jangkar yang membelenggu? Inilah pesan mendasar yang disampaikan oleh Imam Ali Khamenei dalam sebuah acara pembacaan akad nikah, dimana ia mengajak kita merefleksikan ulang makna pernikahan, keluarga, dan anak dalam

Nasehat-Nasehat Pernikahan Kepada Kedua Mempelai

Kini tibalah momen agung pertemuan dua jiwa yang diridhai Allah. Dua insan muda, dengan kesadaran penuh, hendak mengarungi hidup bergandengan tangan menuju tujuan tertinggi. Sungguh, ikatan ini begitu dalam dan penting. Naluri menginginkan pasangan, jiwa yang gelisah mendambakan teman hidup, dan ruh yang resah merasa tak sempurna tanpa belahan jiwa.

Usia Ideal Menikah dalam Pandangan Islam

Apa rahasia dibalik usia pernikahan yang diberkahi? Mengapa Islam sangat menekankan pernikahan muda sementara Barat justru menggesernya ke usia paruh baya? Berikut adalah pandangan mendalam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tentang “usia tepat untuk menikah” berdasarkan fitrah manusia dan ajaran Islam yang otentik. Tidak Boleh Terpengaruh Budaya Barat Salah satu tuntutan

Mengapa Pandangan Barat tentang Perempuan Perlu Ditinjau Ulang?

Dalam era globalisasi yang dibanjiri arus informasi dan nilai-nilai universal yang didengung-dengungkan, masyarakat dunia kerap dihadapkan pada satu narasi dominan mengenai isu perempuan. Namun, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengajak publik untuk melakukan langkah yang lebih mendasar, yaitu mengosongkan pikiran dari kata-kata klise produk Barat. Ajakan ini bukan sekadar retorika, melainkan