

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID – Setiap bangsa yang bercita-cita meraih kemuliaan materi, kebahagiaan spiritual, kepemimpinan politik, kemajuan ilmiah, dan kemakmuran kehidupan dunia harus menjadikan pendidikan dan pengajaran sebagai landasan fundamental. Mengapa demikian? Karena seluruh pencapaian tersebut bertumpu pada kualitas sumber daya manusia, yang utamanya dibentuk dan dikembangkan melalui sistem pendidikan. Ketika pendidikan dan

Pertemuan Imam Ali Khamenei dengan para pejabat Lembaga Pengembangan Pemikiran Anak dan Remaja menjadi momen untuk menyampaikan apresiasi mendalam atas seluruh jerih payah yang telah dilakukan. Pengamatan dari kejauhan pun cukup untuk menangkap besarnya dedikasi, terutama dalam menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan publisitas. Penghormatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengakuan

Dalam momentum kelahiran Zainab Kubra, sosok perempuan agung dalam sejarah Islam, kita diajak untuk merenungkan kembali penghargaan mendalam terhadap para pelayan kemanusiaan. Para perawat, dokter, dan tenaga medis yang setiap hari berhadapan langsung dengan penderitaan dan kesulitan, sesungguhnya tengah menjalani ujian besar kemanusiaan. Mereka adalah pilar-pilar kasih sayang di tengah

Peringatan Hari Perawat yang bertepatan dengan kelahiran Sayyidah Zainab al-Kubra bukanlah sekadar seremoni tahunan, melainkan pengakuan atas dwi-peran besar: penghormatan terhadap pengorbanan kemanusiaan para perawat dan peneladanan ketabahan sejati dalam pusaran sejarah. Momentum ini mengajak kita merenungkan hakikat pelayanan tanpa pamrih, di mana setiap untaian doa dan jerih payah di

Pernikahan dalam pandangan Islam bukan sekadar ikatan kontrak sosial antara dua insan, melainkan sebuah perjalanan suci yang sarat dengan tujuan mulia. Dua jiwa yang dipersatukan oleh cinta karunia Ilahi memulai babak baru kehidupan dengan visi bersama: mencapai kemajuan baik secara material maupun spiritual. Tuhan Yang Mahabijaksana telah merancang suami dan

Islam memandang perempuan sebagai elemen penting dalam pembangunan masyarakat, bukan sekadar pelengkap atau warga kelas dua. Imam Ali Khamenei dengan tegas menyatakan bahwa lapangan aktivitas bagi para gadis terbuka lebar, dengan syarat menjaga kesucian diri dan menghindari percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan. Prinsip ini bukanlah pembatasan, melainkan kerangka perlindungan

Banyak pasangan muda gagal melangkah ke pelaminan hanya karena terhalang oleh tuntutan mahar selangit dan seserahan mewah. Padahal, menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mahar dan seserahan bukanlah sumber kebahagiaan, bahkan bisa menjadi beban yang menghalangi pernikahan. Justru kesederhanaan dan peneladanan kepada keluarga Nabi Muhammad Saw lah

Dalam berbagai nasihatnya kepada pemuda-pemudi yang akad pernikahannya dilakukan oleh Beliau, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menekankan bahwa poros utama dari sebuah rumah tangga bukanlah harta, kecantikan, atau kemewahan, melainkan cinta. Cinta (mawaddah) yang Allah Swt tanamkan dalam hati pasangan suami-istri adalah perekat yang menjaga keutuhan keluarga

KHAMENEI.ID – Industri bernilai puluhan miliar dolar, puluhan persen lalu lintas internet, dan puluhan ribu korban perempuan setiap tahunnya. Inilah sisi lain dari “kebebasan” yang begitu digembar-gemborkan oleh Barat. Pertanyaannya, apakah ini yang disebut kemajuan? Dalam pidatonya pada pertemuan akbar dengan kaum perempuan di tanggal 12 Azar 1404 HS, Pemimpin

KHAMENEI.ID – Bayangkan, di salah satu negara paling maju di dunia, hampir separuh anak-anak tumbuh tanpa figur seorang ayah. Inilah realitas pahit yang kini membayangi Barat—sebuah kawasan yang selama ini mengklaim diri sebagai pelopor peradaban dan kebebasan. Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, dalam pertemuan dengan ribuan









