

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Setiap tahun jutaan manusia bergerak menuju satu titik yang sama: Karbala. Mereka datang dari berbagai kota, bangsa, bahasa, bahkan latar belakang kehidupan yang berbeda. Yang mereka pilih bukan perjalanan singkat dengan kenyamanan penuh, melainkan langkah demi langkah sepanjang puluhan kilometer. Tidak ada panggung hiburan, tidak ada hadiah di garis akhir.

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa bertahan bukan karena kekuatan senjata, bukan pula karena kokohnya benteng pertahanan. Ia bertahan karena ada orang-orang yang rela berdiri di garis paling depan, membawa keyakinan yang lebih besar daripada rasa takut terhadap kematian. Dalam sejarah umat manusia, selalu ada mereka yang memilih mengorbankan dirinya demi

KHAMENEI.ID– Tidak ada keberhasilan besar yang lahir dari langkah yang goyah. Sejarah selalu mencatat kemenangan mereka yang mampu bertahan ketika badai datang, bukan mereka yang berlari saat angin berubah arah. Keteguhan, dalam banyak kisah peradaban, bukan sekadar sikap bertahan. Ia adalah pilihan sadar untuk tetap berpijak pada prinsip ketika segala sesuatu

KHAMENEI.ID– Setiap zaman memiliki musuhnya. Ada yang datang dengan wajah yang mudah dikenali: kekuatan politik yang menekan, kepentingan ekonomi yang menguasai, propaganda yang membentuk opini, hingga berbagai bentuk dominasi yang menggerus kemandirian sebuah bangsa. Musuh-musuh semacam ini tampak nyata karena hadir di luar diri kita. Mereka memiliki nama, kekuatan, bahkan strategi

KHAMENEI.ID – Di hampir setiap rumah Muslim, Al-Qur’an menempati tempat yang paling mulia. Ia dibaca pada malam-malam Ramadan, dilantunkan ketika duka datang, dan menjadi teman saat hati gelisah. Namun, di balik penghormatan itu, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: apakah Al-Qur’an diturunkan hanya untuk menenangkan jiwa, ataukah ia juga hadir

KHAMENEI.ID – Selama puluhan tahun, Amerika Serikat diposisikan sebagai pusat gravitasi politik dunia. Kekuatan ekonomi, dominasi militer, jaringan aliansi, hingga pengaruh budaya menjadikannya simbol dari tatanan internasional pasca-Perang Dingin. Namun, benarkah dominasi itu akan bertahan selamanya? Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengemukakan pandangan yang berbeda dari narasi arus

KHAMENEI.ID – Di tengah zaman yang dipenuhi ledakan informasi, manusia sering menganggap seni sekadar pelengkap kehidupan. Ia ditempatkan di ruang hiburan, galeri, panggung pertunjukan, atau rak buku puisi. Ketika ekonomi memburuk atau politik memanas, seni kerap dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda. Padahal, menurut Imam Ali Khamenei qs, justru di situlah

KHAMENEI.ID – Dalam pandangan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, senyuman bukan sekadar ekspresi sosial atau basa-basi, melainkan unsur vital yang membedakan kehidupan surgawi dari kehidupan neraka. Beliau menegaskan bahwa “kehidupan tanpa kebahagiaan dan tanpa senyuman adalah kehidupan neraka,” sementara “kehidupan surgawi adalah kehidupan dengan senyuman.” Pernyataan tegas ini

KHAMENEI.ID – Pendahuluan: Mengapa Kita Menuntut, Bukan Membela Dalam wacana global tentang hak-hak perempuan, sering kali umat Islam ditempatkan pada posisi defensif—seolah-olah harus membela diri dari tuduhan ketertinggalan. Pandangan ini keliru. Sikap yang benar adalah sikap ofensif: menuntut, bukan membela. Dunia Barat—dengan segala modernitas dan peradaban yang mereka banggakan—justru adalah

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan yang diam-diam menguasai hidup manusia modern: menghitung segala sesuatu. Kita menghitung peluang keberhasilan, menghitung modal, menghitung risiko, bahkan menghitung kemungkinan gagal sebelum benar-benar melangkah. Logika menjadi kompas utama, sementara angka dipercaya sebagai penentu nasib. Padahal, sejarah kehidupan berkali-kali menunjukkan bahwa tidak semua hal yang menentukan masa depan