KHAMENEI.ID– Ada masa ketika manusia takut pada senjata karena senjata dapat membunuh tubuh. Kini ada sesuatu yang bekerja lebih pelan, lebih halus, dan karena itu sering luput dari perhatian: media. Ia tidak selalu menghancurkan bangunan atau menumpahkan darah. Ia cukup mengubah cara manusia melihat dunia, menentukan apa yang dianggap penting, siapa yang dipercaya, siapa yang dicurigai, bahkan bagaimana sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Di tengah banjir informasi, media bukan lagi sekadar perantara kabar. Ia telah menjadi salah satu kekuatan yang membentuk pikiran, kebudayaan, perilaku, dan pada akhirnya identitas manusia. Apa yang muncul berulang-ulang di layar perlahan dapat terasa sebagai kenyataan. Apa yang tidak pernah diberitakan bisa dianggap tidak pernah terjadi.
Di titik ini, persoalan media sesungguhnya bukan semata soal teknologi atau kecepatan informasi. Persoalannya adalah kekuasaan atas kesadaran.
Media memiliki kemampuan yang hampir paradoksal. Di satu sisi, ia dapat membuat manusia lebih dekat. Berita dari negeri yang jauh dapat hadir dalam hitungan detik. Penderitaan yang terjadi di benua lain dapat menggugah empati sebelum seseorang sempat mengetahui letak negeri itu di peta. Perbedaan budaya dapat dikenalkan tanpa harus menunggu manusia menyeberangi lautan.
Namun di sisi lain, kekuatan yang sama dapat digunakan untuk membangun jarak.
Media dapat memperbesar ketakutan, menyuburkan prasangka, dan menghidupkan kembali perasaan diskriminasi. Ia dapat menjadikan kebiasaan yang merusak tampak lumrah, bahkan menarik. Ia juga dapat membuat sebuah bangsa perlahan kehilangan hubungan dengan identitas budayanya sendiri karena terus-menerus disodori ukuran kehidupan yang berasal dari kepentingan lain.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah media berpengaruh. Pengaruh itu sudah nyata. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang menentukan arah pengaruh tersebut?
Dalam pandangan yang lebih luas, media tidak pernah benar-benar netral ketika seluruh proses produksinya dikendalikan oleh kepentingan tertentu. Jika keputusan editorial, pemilihan isu, dan cara sebuah peristiwa diceritakan terutama ditentukan oleh kepentingan perusahaan ekonomi, kelompok orang kaya, atau kekuasaan yang ingin mempertahankan dominasi, maka publik bukan lagi sekadar menerima informasi. Mereka menerima dunia yang telah dipilihkan untuk mereka.
Di sinilah bahaya terbesar muncul: ketika kepentingan ekonomi menyamar sebagai kepentingan publik.
Media semestinya tidak menjadi jalan satu arah. Jika hanya satu kelompok yang terus berbicara sementara kelompok lain hanya menjadi objek pemberitaan, yang tercipta bukan percakapan, melainkan dominasi. Dunia akan tampak seolah-olah hanya memiliki satu sudut pandang, satu ukuran kemajuan, satu definisi tentang kebebasan, dan satu cara untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Padahal manusia tidak hidup dalam satu kebudayaan.
Setiap bangsa memiliki pengalaman sejarah, nilai, ingatan kolektif, dan konsep tentang kehidupan yang tidak selalu dapat diukur dengan ukuran yang sama. Media yang sehat semestinya membuka ruang agar keragaman itu dapat saling berbicara. Bukan sekadar memberitakan bangsa lain, melainkan memberi kesempatan kepada bangsa-bangsa untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Gagasan ini menjadi semakin penting di zaman ketika algoritma ikut menentukan apa yang kita lihat. Seseorang dapat hidup dalam ruang informasi yang hampir seluruhnya mengulang keyakinannya sendiri. Ia membaca orang yang sepemikiran, menonton saluran yang menguatkan prasangka, lalu merasa bahwa pandangannya adalah satu-satunya kenyataan. Perbedaan tidak lagi menjadi kesempatan untuk memahami, melainkan ancaman yang harus ditolak.
Dalam keadaan seperti itu, media kehilangan salah satu fungsi paling mulianya: memperluas kesadaran.
Padahal media dapat menjadi jalan bagi pertukaran pengetahuan, kebudayaan, dan pengalaman moral antarmanusia. Ia dapat membuat masyarakat mengenal nilai yang dihormati bangsa lain tanpa harus menyetujuinya. Ia dapat memperkenalkan perbedaan tanpa mengubah perbedaan menjadi permusuhan.
Di sinilah media sesungguhnya mempunyai peran yang lebih dalam daripada sekadar menyampaikan berita. Ia dapat membantu manusia mendengar suara yang selama ini tertutup oleh kebisingan kekuasaan.
Media yang adil bukan berarti media yang selalu menyenangkan semua pihak. Keadilan justru menuntut keberanian untuk membuka ruang yang lebih luas, menguji klaim kekuasaan, menghadirkan suara yang tersisih, dan membiarkan publik menilai berdasarkan informasi yang cukup.
Sebab perdamaian antarbangsa tidak hanya dibangun melalui diplomasi dan perjanjian. Ia juga tumbuh dari cara manusia mengenal manusia lain. Ketika sebuah bangsa terus digambarkan melalui stereotip, kecurigaan akan mudah tumbuh. Sebaliknya, ketika masyarakat diberi kesempatan memahami sejarah, kebudayaan, penderitaan, dan harapan bangsa lain, jarak psikologis dapat menyusut.
Dalam konteks itu, media dapat menjadi semacam jembatan peradaban.
Tetapi jembatan hanya berguna jika kedua sisinya dapat dilewati. Jika arus informasi hanya berjalan dari satu pusat menuju seluruh dunia, jembatan itu sebenarnya hanyalah jalan satu arah. Yang terjadi bukan pertukaran, melainkan penyeragaman.
Maka tantangan media pada akhirnya bukan sekadar menghadapi berita palsu atau mengejar kecepatan pemberitaan. Tantangan yang lebih besar adalah menjaga agar manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir, membandingkan, mempertanyakan, dan mendengarkan.
Media yang baik tidak membuat manusia hanya tahu lebih banyak. Ia membuat manusia mampu memahami lebih dalam.
Dan mungkin di situlah ukuran paling sederhana dari media yang beradab: apakah setelah menggunakannya manusia menjadi lebih mudah membenci, atau justru lebih mampu memahami; apakah ia mempersempit dunia menjadi satu suara, atau membuka ruang bagi banyak suara untuk saling mengenal.
Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan media bukan hanya isi layar. Yang dipertaruhkan adalah manusia yang berdiri di hadapan layar itu; pikiran, ingatan, nilai, dan cara ia memandang sesamanya.






