Ketika Janji Tuhan Terasa Terlambat

KHAMENEI.ID– Ada jenis ketidaksabaran yang tidak selalu tampak seperti kemarahan. Ia bisa hadir sebagai pertanyaan yang diulang-ulang: mengapa belum terjadi, kapan keadaan berubah, sampai kapan harus menunggu? Pada mulanya pertanyaan itu terdengar wajar. Tetapi jika terus dipelihara, ia dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: kecurigaan kepada janji Tuhan.

Al-Qur’an menyimpan sebuah adegan tentang manusia yang nyaris kehilangan kesabaran itu. Ketika Nabi Musa a.s kembali kepada kaumnya setelah menerima wahyu dan mendapati mereka telah menyembah anak sapi, ia menegur mereka:

قالَ يٰقَومِ أَلَم يَعِدكُم رَبُّكُم وَعدًا حَسَنًا ۚ أَفَطالَ عَلَيكُمُ العَهدُ أَم أَرَدتُم أَن يَحِلَّ عَلَيكُم غَضَبٌ مِن رَبِّكُم

“Wahai kaumku, bukankah Tuhanmu telah memberikan janji yang baik kepadamu? Apakah masa perjanjian itu terlalu lama bagi kalian, atau kalian menghendaki kemurkaan dari Tuhan kalian?” (QS. Taha: 86)

Kalimat Musaa.s  itu terasa seperti teguran yang melampaui zaman. Persoalannya bukan semata-mata tentang anak sapi atau Bani Israil. Ada persoalan manusia yang jauh lebih tua: kita sering mengukur janji Tuhan dengan jam kita sendiri.

Kita ingin sesuatu segera selesai karena kita sudah lelah. Kita ingin pertolongan datang karena kesulitan telah berlangsung terlalu lama. Kita ingin perubahan terjadi karena kesabaran kita mulai menipis. Ketika kenyataan tidak bergerak sesuai harapan, perlahan muncul pertanyaan: mengapa Tuhan belum juga bertindak?

Di titik itu, kesabaran menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Musa a.s mengingatkan kaumnya bahwa Tuhan telah memberikan janji yang baik. Yang dipersoalkan bukan apakah janji itu ada, melainkan apakah mereka masih mampu mempercayainya ketika waktu pelaksanaannya belum tiba. Ada perbedaan besar antara menunggu dengan keyakinan dan menunggu dengan kecurigaan.

Baca Juga  Negeri yang Tak Kekurangan Modal untuk Maju

Yang pertama melahirkan keteguhan. Yang kedua perlahan menggerogoti jiwa.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah itu memperlihatkan bahwa manusia sering kali lebih mudah percaya kepada apa yang terlihat daripada kepada sesuatu yang belum terjadi. Kita melihat kekalahan hari ini dan lupa bahwa sejarah belum selesai. Kita melihat jalan buntu dan mengira perjalanan telah berakhir. Kita menyaksikan keadaan yang tidak berubah, lalu menganggap perubahan mustahil.

Padahal waktu Tuhan bukanlah waktu manusia.

Karena itu, berbaik sangka kepada Tuhan husnuzan bukan sekadar sikap emosional untuk menenangkan hati. Ia merupakan cara memandang kehidupan. Orang yang memiliki prasangka baik kepada Tuhan tidak berarti menutup mata terhadap kesulitan. Ia tetap melihat kenyataan, tetapi tidak menganggap kenyataan hari ini sebagai kata terakhir.

Sebaliknya, prasangka buruk kepada janji Tuhan dapat muncul dalam bentuk yang sangat sederhana: “Mengapa belum terjadi?” “Mengapa doa belum terkabul?” “Mengapa setelah berusaha, keadaan masih seperti ini?” Pertanyaan semacam itu manusiawi. Yang perlu diwaspadai adalah ketika pertanyaan berubah menjadi keyakinan bahwa pertolongan memang tidak akan datang.

Al-Qur’an bahkan memperingatkan orang-orang beriman agar tidak mengulangi pola semacam itu. Dalam kisah Bani Israil, mereka pernah mengeluh kepada Musa a.s bahkan setelah berbagai tanda pertolongan datang. Sebelum dan sesudah Musa a.s hadir, keluhan tetap menemukan jalannya.

Mereka berkata:

قالوا أوذينا مِن قَبلِ أَن تَأتِينا وَمِن بَعدِ ما جِئتَنا

“Mereka berkata, ‘Kami telah disakiti sebelum engkau datang kepada kami dan setelah engkau datang kepada kami” (QS. Al-A’raf: 129)

Seolah-olah tidak ada keadaan yang cukup untuk membuat mereka berhenti mengeluh.

Inilah yang menarik dari kisah tersebut. Masalah manusia ternyata tidak selalu terletak pada keadaan. Kadang-kadang masalahnya terletak pada cara ia memandang keadaan. Bahkan setelah terbebas dari satu penindasan, manusia dapat segera menemukan alasan baru untuk merasa tertindas. Setelah satu persoalan selesai, persoalan lain mengambil tempat. Setelah sebuah doa terkabul, perhatian bergeser kepada doa yang belum terkabul.

Baca Juga  Fatimah az-Zahra dan Gambaran Perempuan Ideal dalam Islam: Antara Ibadah, Keluarga, dan Perjuangan

Keluhan kemudian menjadi kebiasaan.

Di zaman sekarang, pola itu mudah ditemukan. Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan kecepatan. Pesan harus segera dibalas, pekerjaan harus segera selesai, hasil harus segera terlihat. Bahkan dalam urusan spiritual, kita kadang membawa logika yang sama: berdoa hari ini, berharap jawaban besok; berbuat baik sekarang, mengharapkan perubahan seketika.

Ketika hasil belum muncul, kita merasa Tuhan sedang diam.

Padahal bisa jadi yang sedang diuji bukan sekadar kesabaran kita, melainkan cara kita mempercayai-Nya.

Kesabaran dalam pengertian ini bukan sikap pasif. Musa a.s tidak mengajarkan kaumnya untuk duduk diam dan menunggu keajaiban. Ia mengingatkan mereka agar tidak merusak perjalanan hanya karena hasil belum terlihat. Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan ketika tujuan belum tampak.

Karena itu, persoalan besar bukan hanya apakah janji Tuhan akan terlaksana. Persoalannya adalah apakah kita masih menjadi orang yang sama ketika janji itu tiba.

Sebab penantian juga membentuk manusia. Waktu yang panjang dapat membuat seseorang lebih matang, tetapi juga dapat membuatnya pahit. Kesulitan dapat memperdalam iman, tetapi dapat pula menumbuhkan kecurigaan. Semua bergantung pada bagaimana seseorang mengisi jarak antara harapan dan kenyataan.

Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan kita sendiri. Barangkali ada doa yang terasa terlalu lama. Ada keadilan yang belum datang. Ada perubahan yang terus ditunggu. Ada jalan keluar yang belum terlihat meski segala usaha telah dilakukan.

Pada saat seperti itu, kisah Musa a.s mengingatkan sesuatu yang sederhana: jangan buru-buru menganggap keterlambatan sebagai ketiadaan janji.

Tidak semua yang belum datang berarti tidak akan datang.

Dan tidak semua pintu yang belum terbuka berarti Tuhan telah meninggalkan kita.

Baca Juga  Ketika Langit Menjadi Sandaran: Rahasia Kekuatan Spiritual dan Kemajuan Bangsa

Mungkin yang sedang diminta dari manusia bukan jawaban yang segera, melainkan kemampuan untuk tetap percaya tanpa kehilangan ikhtiar. Sebab dalam hidup, ada masa ketika satu-satunya cara untuk terus berjalan adalah percaya bahwa sejarah belum selesai ditulis.

Janji Tuhan tidak selalu datang menurut kalender manusia. Yang sering kali perlu diperbaiki bukan janji itu, melainkan kesabaran kita dalam menantikannya.

Barangkali di situlah makna terdalam dari teguran Musa a.s: jangan biarkan panjangnya penantian membuat kita lupa kepada siapa kita menaruh harapan.

Sebab kadang-kadang yang paling cepat binasa bukan sebuah harapan, melainkan keyakinan kita terhadapnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar