Ketika Nama Ali Harus Menjadi Cara Memimpin

KHAMENEI.ID– Setiap zaman punya cara sendiri untuk memuja masa lalu. Kita menuliskan nama tokoh besar di spanduk, mencetak wajahnya di poster, menggelar seminar tentang pemikirannya, lalu merasa telah cukup dekat dengannya. Padahal ada jarak yang sering luput kita sadari: jarak antara mengagumi seorang tokoh dan meniru cara hidupnya.

Pada pesan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs dalam rangka menyambut Tahun Baru 1380 Hijriah Syamsiah (kalender Persia), nama Imam Ali bin Abi Thalib ditempatkan bukan sekadar sebagai simbol sebuah tahun (“Tahun Ali a.s”). Ia justru diajukan sebagai ukuran bagi perilaku. Nama boleh diagungkan, tetapi yang lebih penting adalah apakah nilai yang melekat pada nama itu benar-benar mengubah cara manusia bekerja, memimpin, dan memperlakukan sesamanya.

Tahun sebelumnya telah dihiasi dengan nama Amirul Mukminin, gelar yang merujuk kepada Imam Ali a.s. Masyarakat Iran menyambutnya dengan berbagai kegiatan ilmiah dan kebudayaan. Namun ada kegelisahan yang lebih dalam: jangan sampai penghormatan berhenti sebagai kegiatan budaya. Sebab, jika Ali a.s hanya menjadi nama yang indah untuk dikenang, sementara cara kekuasaan bekerja tetap sama, penghormatan itu kehilangan sebagian maknanya.

Di titik ini, gagasan tentang “menjadi seperti Ali” menjadi penting. Menjadi seperti Ali tentu merupakan cita-cita yang begitu tinggi. Karena itu, yang lebih realistis adalah bergerak menuju sifat-sifat yang mencerminkan dirinya. Bukan kesempurnaan yang dituntut, melainkan arah perjalanan.

Ada sesuatu yang menarik dari gagasan tersebut. Ukuran keberagamaan tidak diletakkan pertama-tama pada seberapa sering seseorang berbicara tentang tokoh suci, melainkan pada ke mana perilakunya bergerak. Apakah kekuasaan membuat seseorang semakin dekat kepada orang miskin atau justru semakin jauh? Apakah jabatan membuatnya lebih takut kepada Tuhan atau lebih takut kehilangan kedudukan? Apakah pekerjaannya sungguh dilakukan sebagai pengabdian atau sekadar sebagai jalan mempertahankan pengaruh?

Baca Juga  Persatuan Dunia Islam Memiliki Tingkatan, dari Tidak Saling Menyerang hingga Membangun Peradaban Islam

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa tua, tetapi justru karena itulah ia selalu baru.

Imam Ali a.s dikenang karena ketaqwaannya, kezuhudannya, kedekatannya dengan kelompok lemah dan tertindas, keteguhannya dalam bekerja untuk Tuhan, serta ketahanannya dalam mengejar tujuan yang dianggap luhur. Nilai-nilai itu bukan ornamen sejarah. Ia adalah semacam cermin yang dapat diletakkan di depan siapa pun yang memegang amanah publik.

Terutama para pejabat.

Sebab kekuasaan memiliki godaan yang berbeda dari kehidupan biasa. Ketika seseorang memiliki jabatan, keputusan kecilnya dapat mengubah kehidupan banyak orang. Sebuah tanda tangan bisa membuka jalan bagi seseorang atau menutupnya. Sebuah kebijakan dapat mengurangi beban rakyat atau justru menambahnya. Dalam keadaan seperti itu, moralitas tidak lagi menjadi urusan pribadi semata. Ia berubah menjadi persoalan sosial.

Karena itu, kepemimpinan Imam Ali a.s menarik bukan hanya karena keberanian atau ketegasannya, melainkan karena hubungan antara kekuasaan dan tanggung jawab. Kekuasaan, dalam bayangan kepemimpinan semacam itu, bukan tempat untuk menikmati keistimewaan. Ia adalah beban yang harus dipikul dengan kesadaran bahwa ada kehidupan orang lain yang bergantung pada keputusan seorang pemimpin.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini menyentuh salah satu penyakit klasik pemerintahan: jarak antara pejabat dan rakyat. Semakin tinggi seseorang naik dalam struktur kekuasaan, semakin mudah ia kehilangan kemampuan melihat kehidupan dari bawah. Kemiskinan berubah menjadi angka statistik. Pengangguran menjadi grafik. Keluhan warga menjadi laporan. Orang-orang yang nyata perlahan berubah menjadi data.

Di sinilah keteladanan Imam Ali a.s memperoleh relevansinya.

Kedekatan dengan kelompok lemah bukan sekadar sikap sentimental. Ia adalah cara untuk menjaga agar kekuasaan tidak kehilangan kenyataan. Seorang pemimpin perlu mengetahui bagaimana kebijakan terasa bagi mereka yang tidak memiliki ruang untuk mengeluh, mereka yang tidak punya koneksi, mereka yang tidak dapat mengetuk pintu pejabat.

Baca Juga  Mengapa Imam Ali Mengeluhkan Umatnya? Ketika Pemimpin Besar Tak Dipahami Zamannya

Namun kepemimpinan tidak cukup hanya dengan kepedulian. Ada pula keteguhan. Pesan itu mengingatkan tentang kerja yang dilakukan demi Tuhan dan kegigihan dalam mencapai tujuan yang luhur. Artinya, pemimpin yang baik bukan hanya memiliki hati yang peka, tetapi juga daya tahan untuk bekerja ketika hasil belum terlihat.

Di zaman ketika jabatan kerap diukur dari popularitas dan keberhasilan politik dari citra, gagasan ini terdengar hampir asing. Pemimpin dituntut tampil, berbicara, merespons, dan selalu terlihat bekerja. Tetapi kerja yang paling penting kadang justru tidak spektakuler: membenahi institusi, menegakkan aturan secara adil, memastikan pelayanan berjalan, dan bertahan pada keputusan yang benar meski tidak selalu populer.

Nama Imam Ali a.s, dengan demikian, tidak seharusnya hanya tinggal di ruang peringatan.

Ia seharusnya masuk ke ruang rapat, meja pengambilan keputusan, kantor pemerintahan, ruang pengadilan, parlemen, bahkan ke dalam cara seorang pejabat memandang orang yang datang kepadanya membawa persoalan.

Gagasan tersebut juga berlaku jauh di luar pemerintahan. Setiap orang yang memegang amanah; pemimpin perusahaan, kepala lembaga, guru, pengelola organisasi, bahkan orang tua, memiliki bentuk kekuasaan masing-masing. Ukurannya mungkin berbeda, tetapi pertanyaannya serupa: untuk apa kekuasaan itu digunakan?

Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak menjadi lebih baik hanya karena memiliki tokoh besar untuk dikagumi. Ia menjadi lebih baik ketika nilai-nilai tokoh itu perlahan menemukan bentuk dalam perilaku warganya.

Nama Ali a.s dapat diucapkan jutaan kali. Tetapi maknanya baru mulai hidup ketika seorang yang memiliki kuasa memilih untuk tidak menyalahgunakannya; ketika seorang pemimpin memilih mendengar mereka yang lemah; ketika seseorang tetap bekerja meski tidak dipuji; dan ketika amanah diperlakukan sebagai beban moral, bukan fasilitas pribadi.

Baca Juga  Perhitungan Musuh yang Berulang Kali Keliru

Mungkin itulah ukuran paling sederhana dari sebuah penghormatan: bukan seberapa indah kita mengenang seseorang, melainkan seberapa jauh kita bersedia mengubah diri setelah mengenalnya.

Sebab pada akhirnya, nama besar tidak meminta kita tinggal di masa lalu. Ia hanya bertanya ke mana kita hendak membawa masa depan.

Bagikan:
Terkait
Komentar