Negeri yang Kehilangan Nalar Saat Membiarkan Nenek Moyangnya Pergi

KHAMENEI.ID – Sebuah negara bisa kehilangan orang-orang terbaiknya jauh sebelum mereka benar-benar meninggalkan negeri itu. Kehilangan itu bermula ketika seorang anak muda yang berprestasi merasa bahwa kelebihannya tidak berarti apa-apa; ketika kecerdasannya tidak membuka pintu, ketika kerja kerasnya kalah oleh hubungan, dan ketika kampus atau lembaga negara justru membuatnya bertanya-tanya: untuk apa saya menjadi unggul?

Di titik itulah persoalan kaum intelektual dan generasi berbakat tidak lagi sekadar soal pendidikan. Ia berubah menjadi persoalan masa depan sebuah bangsa.

Dalam sebuah pertemuan dengan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan Republik Islam Iran, perhatian diarahkan pada satu gagasan besar: rekayasa kebudayaan negara. Dewan tersebut diposisikan bukan sekadar sebagai lembaga yang menghasilkan keputusan administratif, melainkan sebagai pusat perencanaan kebudayaan; tempat sebuah peta besar tentang ke mana masyarakat hendak dibawa seharusnya disusun.

Namun sebuah peta tidak banyak berarti jika hanya tergantung di dinding.

Peta harus sampai ke jalan. Ia harus terlihat dalam kebijakan, lembaga pendidikan, cara pemerintah memperlakukan anak muda, sampai pada keputusan tentang siapa yang diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar cita-cita besar tentang kebudayaan, melainkan rancangan yang memiliki jalan keluar nyata: apa yang harus dikerjakan, siapa yang mengerjakannya, dan bagaimana gagasan itu diterjemahkan menjadi tindakan.

Persoalan tersebut menjadi semakin nyata ketika pembicaraan beralih kepada para elite intelektual dan kaum berbakat. Sebuah bangsa mungkin memiliki siswa-siswa peraih olimpiade, mahasiswa unggulan, peneliti muda, dan orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Tetapi memiliki mereka di atas kertas tidak otomatis berarti memiliki masa depan.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah: di mana mereka ditempatkan?

Seorang anak muda yang memiliki kemampuan luar biasa bisa menghasilkan sesuatu yang besar jika ditempatkan pada ruang yang tepat. Di kementerian tertentu ia mungkin mampu menyelesaikan masalah yang selama bertahun-tahun tidak tersentuh. Di lembaga riset ia dapat menemukan jalan baru. Di universitas ia dapat melahirkan generasi berikutnya. Masalahnya, negara sering kali pandai menemukan orang-orang hebat, tetapi tidak selalu pandai menemukan tempat yang tepat bagi mereka.

Baca Juga  Di Hadapan Tuhan, Satu Orang Tak Pernah Menjadi Kecil 

Karena itu, pembinaan kaum intelektual tidak cukup berhenti pada pemberian penghargaan. Mereka perlu diidentifikasi, dipetakan kemampuannya, diorganisasi, lalu dihubungkan dengan kebutuhan nyata negara.

Gagasan tentang penempatan anak-anak muda di kementerian dan lembaga pemerintahan, misalnya, akan jauh lebih kuat jika ditopang oleh sistem yang mampu mengetahui siapa yang memiliki kemampuan untuk mengisi kebutuhan tertentu. Negara tidak sekadar membutuhkan generasi muda yang pintar. Negara membutuhkan cara untuk mengenali di mana kepintaran itu dapat menjadi tenaga perubahan.

Di sinilah sebuah lembaga untuk kaum berbakat memperoleh makna yang lebih dalam. Ia semestinya bukan sekadar tempat administrasi penghargaan bagi mereka yang berprestasi, melainkan jembatan antara kemampuan pribadi dan kepentingan publik.

Namun ada satu perkara yang sering terlambat disadari: seorang manusia tidak hidup hanya dari prestasinya.

Para peneliti muda membutuhkan ruang untuk bekerja. Mereka membutuhkan dukungan penelitian, tetapi juga membutuhkan kepastian bahwa kehidupan mereka tidak sepenuhnya diabaikan. Mereka perlu merasakan bahwa negara menganggap kemampuan mereka berharga. Sebab, pada akhirnya, keputusan seorang anak muda untuk bertahan atau pergi bukan hanya ditentukan oleh besarnya gaji atau fasilitas.

Ada perasaan dihargai yang jauh lebih menentukan.

Karena itu, pembicaraan mengenai migrasi kaum terdidik sering terlalu sederhana jika hanya dihitung dari berapa banyak orang yang pergi ke luar negeri. Yang lebih penting adalah mengapa mereka merasa perlu pergi, dan mengapa sebagian dari mereka tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk kembali.

Jika sebuah negeri ingin mempertahankan orang-orang terbaiknya, negeri itu harus membuat mereka merasa dibutuhkan.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih sensitif: keadilan di universitas. Seorang mahasiswa unggulan dapat bekerja keras bertahun-tahun untuk mencapai prestasi akademik tertentu. Tetapi jika ketika memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi ia menemukan bahwa prestasinya tidak banyak berarti, muncul luka yang lebih dalam daripada sekadar kegagalan memperoleh beasiswa atau tempat di program doktoral.

Baca Juga  Bila Agama Menjauh dari Kekuasaan, Siapa yang Mengisi Kekosongan?

Ia belajar sebuah pesan yang berbahaya: bahwa menjadi unggul tidak terlalu berguna di negerinya sendiri.

Perasaan diperlakukan tidak adil, terutama dalam penerimaan pendidikan lanjutan dan pemberian beasiswa, dapat menghancurkan kepercayaan generasi muda terhadap sistem. Sebaliknya, ketika seorang anak muda melihat bahwa kemampuan dan kerja kerasnya benar-benar dihargai, muncul keterikatan yang tidak bisa dibeli dengan slogan.

Pada akhirnya, persoalan kaum intelektual bukan semata-mata bagaimana mencegah mereka pergi ke luar negeri. Persoalannya adalah bagaimana membuat sebuah negeri layak untuk ditinggali oleh orang-orang yang memiliki banyak pilihan.

Sebab orang yang tidak punya pilihan mungkin bertahan karena terpaksa. Tetapi orang yang punya kemampuan untuk pergi hanya akan bertahan jika ia menemukan alasan untuk tinggal.

Di situlah sebuah negara diuji. Bukan pada seberapa sering ia berbicara tentang generasi emas, melainkan pada bagaimana ia memperlakukan anak-anak muda yang sudah menunjukkan tanda-tanda keemasannya. Sebab masa depan tidak pernah datang sebagai hadiah. Ia tumbuh dari manusia-manusia yang hari ini diberi kesempatan untuk bekerja, dipercaya, dan merasa bahwa kemampuan mereka memiliki tempat.

Jika peta kebudayaan hanya berhenti sebagai dokumen, ia tidak akan membawa siapa pun ke mana-mana. Tetapi jika peta itu sampai ke ruang kelas, laboratorium, universitas, kementerian, dan kehidupan nyata kaum muda, mungkin di sanalah sebuah bangsa mulai menemukan arah.

Dan barangkali, mempertahankan orang-orang terbaik bukan terutama soal menahan mereka agar tidak pergi. Ia adalah soal menciptakan sebuah negeri yang membuat mereka sendiri merasa bahwa pulang dan tinggal tetap layak diperjuangkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar