KHAMENEI.ID –
Tafsir Imam Ali Khamenei tentang makna mengulang “Ihdinash Shirathal Mustaqim” setiap hari
Ada satu pertanyaan yang sering luput ketika membaca Surah Al-Fatihah. Jika seorang muslim telah beriman, mengenal Allah swt, dan berusaha menjalankan agama-Nya, mengapa ia masih harus berulang kali memohon,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6).
Bukankah ia sudah berada di jalan itu?
Pertanyaan inilah yang dijawab Imam Ali Khamenei (qs) dalam lanjutan tafsir Surah Al-Fatihah. Menurut beliau, pengulangan doa tersebut bukanlah sebuah formalitas. Justru di dalamnya tersimpan pelajaran besar tentang hakikat perjalanan hidup manusia.
Beliau mengawali penjelasannya dengan mengingatkan bahwa Allah telah memberikan manusia kemampuan memilih. Nasib akhir seseorang tidak ditentukan oleh keadaan semata, tetapi oleh pilihan-pilihan yang diambil sepanjang hidupnya. Karena itulah Al-Qur’an menyatakan:
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad [90]: 10).
Menurut Imam Ali Khamenei, inilah salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia: kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Ada saat ketika pilihan terasa mudah karena kebenaran tampak jelas. Namun, tidak sedikit keadaan ketika batas antara yang benar dan yang keliru menjadi semakin tipis sehingga membutuhkan ketelitian, kebijaksanaan, dan pertolongan Allah swt.
Karena itu, perjalanan menuju Allah tidak pernah berhenti pada satu keputusan besar di awal kehidupan. Hidayah bukanlah tiket sekali pakai yang membuat seseorang otomatis selamat hingga akhir.
Beliau mengibaratkan ash-shirāṭ al-mustaqīm bukan seperti sebuah terowongan lurus atau rel kereta api yang, setelah dimasuki, akan membawa seseorang sampai ke tujuan tanpa kemungkinan menyimpang. Sebaliknya, jalan lurus itu dipenuhi persimpangan.
Ada persimpangan yang tampak sederhana, tetapi menentukan arah hidup. Ada pilihan yang kelihatannya kecil, namun mengubah perjalanan seseorang bertahun-tahun kemudian. Ada pula situasi ketika dua jalan sama-sama tampak benar, sehingga manusia memerlukan petunjuk Allah swt agar mampu melihat mana yang benar-benar merupakan jalan lurus.
Di situlah makna pengulangan doa “Ihdinash Shirathal Mustaqim.”
Menurut Imam Ali Khamenei, ketika seorang muslim membaca doa itu hari ini, ia sedang memohon petunjuk untuk persoalan hari ini. Ketika ia membacanya esok hari, ia sedang memohon petunjuk untuk tantangan yang baru. Demikian pula pada hari-hari berikutnya. Setiap fase kehidupan menghadirkan pilihan-pilihan baru yang membutuhkan bimbingan Allah.
Dengan demikian, hidayah bukan hanya sesuatu yang dicari sebelum menemukan jalan, tetapi juga sesuatu yang terus dibutuhkan agar tetap mampu berjalan di atas jalan tersebut.
Pandangan ini menghadirkan cara baru dalam memaknai kehidupan. Banyak orang membayangkan bahwa iman adalah sebuah titik akhir: setelah seseorang memperoleh keyakinan, seluruh persoalan dianggap selesai. Padahal, menurut Imam Ali Khamenei, iman justru membuka perjalanan panjang yang dipenuhi berbagai ujian, keputusan, dan persimpangan yang harus dihadapi dengan kesadaran.
Namun demikian, beliau juga mengingatkan agar manusia tidak memandang perjalanan ini dengan rasa putus asa. Allah tidak membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian di tengah persimpangan hidup.
Petunjuk telah Allah sediakan.
Dalam penjelasannya, Imam Ali Khamenei mengutip firman Allah swt yang menegaskan bahwa Allah tidak membinasakan suatu kaum sementara mereka belum memperoleh penjelasan dan masih berada dalam ketidaktahuan:
ذَٰلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ
“Demikian itu karena Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri secara zalim, sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah.” (QS. Al-An’am [6]: 131).
Menurut beliau, ayat ini menunjukkan salah satu sunnatullah yang penting. Allah swt tidak menuntut manusia tanpa terlebih dahulu menghadirkan sarana petunjuk. Wahyu, akal, fitrah, dan berbagai tanda kebesaran-Nya merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia tidak tersesat tanpa arah.
Karena itu, doa memohon hidayah bukanlah permintaan kepada Allah agar menciptakan jalan yang baru. Jalan itu sudah ada. Petunjuk itu juga telah diberikan. Yang diminta adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan memilihnya setiap kali kehidupan menghadapkan manusia pada pilihan-pilihan yang baru.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, penjelasan Imam Ali Khamenei terasa semakin relevan. Setiap hari manusia dihadapkan pada keputusan-keputusan yang tidak selalu hitam dan putih. Teknologi berkembang, informasi datang tanpa henti, nilai-nilai berubah, dan berbagai pilihan hidup bermunculan. Dalam keadaan seperti itu, seorang mukmin tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Ia membutuhkan petunjuk Allah yang terus-menerus agar mampu membedakan jalan yang benar dari jalan yang sekilas tampak benar.
Barangkali di situlah letak keindahan Surah Al-Fatihah. Allah swt mengajarkan manusia untuk tidak pernah merasa cukup dengan hidayah yang telah diperoleh kemarin. Sebab, setiap hari menghadirkan persimpangan baru, dan setiap persimpangan memerlukan cahaya petunjuk yang baru pula.
Maka, setiap kali seorang muslim mengucapkan اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, ia sedang mengakui satu kenyataan yang mendalam: perjalanan menuju Allah adalah perjalanan seumur hidup. Jalan lurus bukan sekadar ditemukan sekali, melainkan dipilih kembali setiap hari, di setiap persimpangan, hingga manusia akhirnya kembali kepada-Nya.







