Jangan Pensiunkan Al-Qur’an Setelah Ramadan

KHAMENEI.ID– Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang indah. Masjid-masjid ramai oleh lantunan ayat suci. Suara tilawah menggema dari rumah, musala, hingga media sosial. Banyak orang menargetkan khatam Al-Qur’an satu kali, dua kali, bahkan lebih. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apa yang terjadi setelah Ramadan berlalu?

Sering kali hubungan kita dengan Al-Qur’an mengikuti kalender. Ketika bulan suci datang, mushaf dibuka setiap hari. Ketika Syawal tiba, perlahan ia kembali disimpan di rak. Kadang masih dibaca sesekali, tetapi tidak lagi menjadi teman perjalanan harian. Al-Qur’an seakan menjadi tamu musiman yang dihormati sebulan penuh, lalu dipersilakan pergi selama sebelas bulan berikutnya.

Padahal, persoalan terbesar umat bukanlah kurangnya tilawah di bulan Ramadan. Persoalan yang lebih mendasar adalah terputusnya hubungan dengan Al-Qur’an setelah Ramadan berakhir.

Al-Qur’an tidak pernah diturunkan untuk menemani satu bulan tertentu. Ia hadir sebagai petunjuk sepanjang hayat. Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an tidak boleh bersifat musiman. Hubungan itu harus menjadi hubungan yang terus hidup, tumbuh, dan mengakar dalam keseharian.

Dalam sebuah riwayat dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s disebutkan:

الْقُرْآنُ عَهْدُ اللَّهِ إِلَى خَلْقِهِ فَقَدْ يَنْبَغِی لِلْمَرْءِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَنْظُرَ فِی عَهْدِهِ وَ أَنْ يَقْرَأَ مِنْهُ فِی كُلِّ يَوْمٍ خَمْسِينَ آيَةً

“Al-Qur’an adalah pesan dan perjanjian Allah kepada manusia. Maka sudah sepantasnya seorang Muslim memperhatikan pesan itu dan membaca darinya setiap hari lima puluh ayat.”

Ungkapan ini sangat menarik. Al-Qur’an tidak digambarkan sekadar sebagai kitab bacaan, melainkan sebagai surat dan pesan langsung dari Tuhan kepada manusia. Bayangkan seseorang menerima surat dari orang yang paling dicintainya. Apakah ia akan membacanya hanya setahun sekali? Tentu tidak. Ia akan membuka kembali surat itu berkali-kali untuk memahami setiap kalimatnya.

Baca Juga  Kemuliaan yang Terlupakan: Mengapa Penjaga Al-Qur’an dan Penghidup Malam Adalah Elite Sejati dalam Islam?

Begitulah semestinya hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an.

Tentu tidak semua orang mampu membaca lima puluh ayat setiap hari. Tetapi semangat dari riwayat tersebut bukanlah soal angka semata. Yang lebih penting adalah kontinuitas. Sepuluh ayat yang dibaca setiap hari dengan perhatian penuh jauh lebih berharga daripada satu juz yang dibaca tergesa-gesa lalu ditinggalkan berhari-hari.

Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Banyak orang mengira keberhasilan membaca Al-Qur’an diukur dari jumlah halaman yang selesai dibaca atau banyaknya khatam yang berhasil diraih. Padahal Al-Qur’an sendiri mengarahkan perhatian kita pada sesuatu yang lebih dalam: pemahaman dan perenungan.

Ada cara membaca Al-Qur’an yang hanya berorientasi pada penyelesaian. Ayat demi ayat dilalui dengan cepat agar segera mencapai akhir surah atau akhir juz. Cara ini tentu tetap memiliki nilai. Membaca Al-Qur’an, bagaimanapun, adalah ibadah. Namun manfaat yang dihasilkan sering kali sangat terbatas jika dibandingkan dengan tujuan besar diturunkannya Al-Qur’an.

Tujuan Al-Qur’an bukan sekadar dibaca. Ia ingin dipahami, direnungkan, lalu mengubah cara pandang dan perilaku manusia.

Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan seperti membaca daftar tugas yang harus segera diselesaikan. Ia lebih mirip mendengarkan nasihat dari seseorang yang sangat mencintai kita.

Dalam riwayat lain, ketika menjelaskan makna firman Allah:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Bacalah Al-Qur’an dengan perlahan dan tertata.” (QS. Al-Muzammil: 4)

Dijelaskan bahwa membaca Al-Qur’an tidak boleh seperti melafalkan syair dengan tergesa-gesa atau menebarkan pasir tanpa arah. Yang terpenting adalah menghadirkan hati dan membiarkan ayat-ayat itu mengetuk bagian terdalam diri manusia. Bahkan disebutkan bahwa fokus utama pembaca Al-Qur’an bukanlah mencapai akhir surah, melainkan memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga  Logika Al-Qur'an: Kesetaraan Hakiki Laki-laki dan Perempuan

Nasihat ini terasa tepat di zaman modern. Kita hidup dalam budaya serba cepat. Artikel dibaca sepintas. Video ditonton dengan kecepatan dua kali lipat. Informasi dikonsumsi dalam hitungan detik. Kebiasaan itu tanpa sadar terbawa saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Akibatnya, kita membaca banyak tetapi merenung sedikit.

Padahal, perubahan hidup sering kali lahir dari satu ayat yang benar-benar dipahami, bukan dari ratusan halaman yang sekadar dilalui. Ada orang yang hidupnya berubah karena merenungi satu kalimat tentang kesabaran. Ada yang menemukan ketenangan setelah memahami satu ayat tentang tawakal. Ada pula yang menemukan arah hidup setelah merenungkan ayat tentang tujuan penciptaan manusia.

Semua itu tidak lahir dari kecepatan membaca, melainkan dari kedalaman interaksi.

Karena itulah, ukuran keberhasilan tilawah tidak selalu terletak pada seberapa jauh kita melangkah di dalam mushaf, tetapi seberapa jauh ayat-ayat itu melangkah masuk ke dalam hati kita.

Jika hubungan seperti ini berhasil dibangun, Al-Qur’an tidak akan lagi menjadi bacaan musiman. Ia akan berubah menjadi sahabat harian. Seseorang yang telah merasakan kedekatan semacam itu akan sulit berpisah darinya. Ia akan mencari waktu untuk membaca, meskipun hanya beberapa menit. Ia akan membuka mushaf bukan karena target, melainkan karena kebutuhan.

Sama seperti seseorang yang rindu membaca surat dari orang yang dicintainya.

Ramadan memang bulan Al-Qur’an. Tetapi Al-Qur’an bukan milik Ramadan semata. Ia adalah petunjuk untuk seluruh perjalanan hidup. Maka ketika Ramadan telah berlalu dan masjid tidak lagi seramai sebelumnya, pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kita juga akan meninggalkan Al-Qur’an di belakang?

Ataukah justru Ramadan menjadi titik awal lahirnya persahabatan baru yang akan bertahan sepanjang tahun?

Baca Juga  Istiqamah yang Membuat Nabi Menua: Beratnya Menjaga Manusia Tetap di Jalan Lurus

Sebab yang paling dibutuhkan Al-Qur’an bukan sekadar pembaca yang rajin mengkhatamkannya, melainkan hati yang terus membuka diri untuk mendengarkan pesannya.

Bagikan:
Terkait
Komentar