Ali dan Matahari yang Tak Pernah Tenggelam: Mengapa Dunia Terus Kembali kepada Sang Amirul Mukminin?

KHAMENEI.ID– Ada tokoh-tokoh yang dikenang karena kemenangan. Ada yang diingat karena kekuasaan. Ada pula yang bertahan dalam sejarah karena pengaruhnya. Namun, ada sedikit manusia yang melampaui semuanya yang bahkan setelah berabad-abad, namanya tetap hidup bukan karena propaganda, melainkan karena keagungan yang sulit disangkal. Ali bin Abi Thalib a.s adalah salah satunya.

Di tengah dunia yang semakin kehilangan teladan, sosok Ali a.s justru terasa semakin relevan. Ia bukan hanya milik satu mazhab, satu kelompok, atau bahkan satu agama. Ia adalah milik kemanusiaan. Sebab ketika orang berbicara tentang keberanian, keadilan, pengorbanan, keteguhan prinsip, dan kasih sayang kepada yang lemah, nama Ali a.s selalu muncul di antara deretan tertinggi.

Sejarah mencatat sesuatu yang menarik: para pengagum Ali a.s tidak hanya berasal dari kalangan Syiah. Kaum Sunni menempatkannya sebagai salah satu figur terbesar dalam Islam. Bahkan banyak pemikir dan penulis Kristen menulis pujian tentang dirinya. Fenomena ini mengundang pertanyaan mendasar: apa sebenarnya yang membuat Ali a.s begitu istimewa?

Mungkin jawabannya terletak pada kenyataan bahwa keagungan Ali a.s tidak pernah berhasil ditutupi, meskipun banyak pihak pernah berusaha melakukannya. Cahaya matahari tidak bisa disembunyikan dengan telapak tangan. Ia tetap memancar, menembus kabut dan kegelapan. Begitu pula Ali a.s. Semakin sejarah bergerak, semakin jelas sosoknya terlihat.

Namun berbicara tentang Ali a.s sesungguhnya seperti berbicara tentang samudra. Kita bisa melihat ombaknya, merasakan anginnya, bahkan mengagumi keindahannya dari pantai. Tetapi siapa yang benar-benar mampu mengukur kedalamannya?

Yang kita lihat hanyalah permukaan dari samudra itu: keberaniannya yang legendaris, ibadahnya yang mendalam, kemurahan hatinya, kesetiaannya kepada prinsip-prinsip ilahi, pengorbanannya yang tanpa pamrih, kepekaannya membaca zaman, kelembutannya terhadap kaum lemah, dan ketegasannya menghadapi para tiran.

Baca Juga  Surga Adalah Harga Diri Manusia: Jangan Menjual Jiwa Terlalu Murah

Bahkan permukaan samudra itu saja sudah cukup membuat manusia terpana.

Ali a.s adalah anak muda yang mengenali kebenaran ketika sebagian besar masyarakat menolaknya. Pada usia sekitar sepuluh tahun, ia menjadi orang pertama yang menerima Islam dari kalangan anak-anak. Di usia ketika kebanyakan manusia masih mencari arah hidup, Ali a.s sudah menemukan kompasnya.

Ketika Nabi Muhammad saw harus meninggalkan Makkah dalam peristiwa hijrah, Ali a.s yang masih sangat muda menerima tugas yang nyaris mustahil. Ia tidur di tempat tidur Nabi saw pada malam ketika para pembunuh mengepung rumah beliau. Ia tahu risiko yang menantinya. Pedang bisa saja menghujam tubuhnya sebelum fajar tiba. Tetapi ia tetap berbaring di sana.

Keberanian seperti itu tidak lahir dari nekat. Ia lahir dari keyakinan.

Pada masa Madinah, Ali a.s menjadi garda terdepan hampir dalam setiap ujian besar yang dihadapi umat Islam. Dalam peperangan, ia berada di barisan paling depan. Dalam persoalan-persoalan sulit, ia menjadi pemecah kebuntuan. Ketika banyak orang mundur karena takut, Ali a.s justru melangkah maju.

Yang lebih mengagumkan, semua itu dilakukannya tanpa tuntutan pribadi. Tidak ada ambisi kekuasaan yang tampak. Tidak ada pencarian popularitas. Hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk sebuah cita-cita yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Namun mungkin salah satu episode paling menakjubkan dalam kehidupan Ali a.s justru terjadi setelah wafatnya Nabi saw. Ia meyakini bahwa dirinya memiliki hak untuk memimpin umat. Ia menyampaikan pandangannya. Ia memperjuangkan keyakinannya. Tetapi ketika melihat bahwa perselisihan dapat merobek kesatuan umat yang masih muda, ia memilih menahan diri.

Dalam salah satu ungkapannya yang terkenal, Ali a.s menggambarkan masa itu seperti duri di mata dan tulang yang tersangkut di tenggorokan. Sakit, tetapi harus ditahan.

Baca Juga  Kemuliaan yang Lahir dari Sujud: Pelajaran Abadi dari Kehidupan Fatimah Az-Zahra 

Selama dua puluh lima tahun, ia memendam kepedihan demi menjaga persatuan masyarakat Islam.

Di zaman sekarang, ketika orang rela menghancurkan organisasi, komunitas, bahkan negara hanya demi jabatan, sikap Ali terasa hampir mustahil dipahami.

Ketika akhirnya masyarakat mendesaknya untuk menerima kepemimpinan, Ali a.s tidak datang sebagai politisi yang haus kekuasaan. Ia justru sempat menolak. Tetapi setelah melihat kebutuhan umat yang mendesak, ia menerima amanah itu.

Dan sejak hari pertama menjadi khalifah hingga darahnya mengalir di mihrab masjid, ia tidak pernah berkompromi dengan ketidakadilan.

Prinsip yang dipegangnya sederhana namun berat: keadilan harus ditegakkan meskipun merugikan orang-orang dekat.

Al-Qur’an menggambarkan misi para nabi dengan kalimat yang sangat singkat namun kuat:

لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Agar manusia menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

Ali menjadikan ayat itu bukan sekadar slogan, melainkan jalan hidup. Banyak sahabat lama menjauh karena merasa kepentingannya terganggu. Sebagian orang yang dahulu memujinya berubah menjadi musuh ketika melihat betapa tegasnya ia dalam urusan keadilan. Tetapi semua itu tidak membuatnya bergeser sedikit pun.

Karena itu lahir ungkapan yang terkenal tentang dirinya: ia terbunuh di mihrab ibadah karena kerasnya komitmen terhadap keadilan.

Di sinilah letak pelajaran terbesar dari Ali a.s. Menjadi pengagumnya ternyata tidak cukup. Mencintainya juga tidak cukup.

Ali a.s tidak pernah mengajarkan kultus individu. Ia tidak menginginkan manusia berhenti pada pujian. Yang ia inginkan adalah perjalanan. Menjadi pengikut Ali a.s berarti berjalan di jalan yang ia tempuh: jalan kejujuran, keberanian, pengabdian, dan keadilan.

Sebab seseorang tidak menjadi “Alawi” hanya karena sering menyebut nama Ali a.s atau menggelar peringatan untuknya. Seseorang menjadi pengikut Ali a.s ketika ia berusaha menegakkan kebenaran meskipun sulit, ketika ia menolak kezaliman meskipun menguntungkan dirinya, dan ketika ia tetap setia kepada prinsip meskipun harus membayar harga yang mahal.

Baca Juga  Bertahan di Jalan yang Benar: Pelajaran Istiqamah dari Imam Ali a.s 

Itulah mengapa Ali a.s tetap hidup hingga hari ini.

Ia bukan sekadar tokoh sejarah yang terjebak dalam lembaran-lembaran kuno. Ia adalah cermin yang terus menguji setiap generasi. Semakin manusia mencari teladan tentang bagaimana memadukan spiritualitas dengan keberanian, kekuasaan dengan kerendahan hati, serta cinta dengan keadilan, semakin mereka akan menemukan dirinya berdiri di sana.

Seperti matahari yang tidak pernah benar-benar tenggelam.

Dan mungkin itulah alasan mengapa, setelah lebih dari empat belas abad, dunia masih terus kembali kepada Ali bin Abi Thalib: bukan karena sejarah memaksanya untuk dikenang, tetapi karena kemanusiaan selalu membutuhkan cahaya yang ia tinggalkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar