KHAMENEI.ID– Ada keyakinan yang sering luput dalam percakapan tentang kemajuan: manusia bisa saja mencapai puncak kesejahteraan, tetapi tetap merasa kalah pada akhir hidupnya. Di tengah perlombaan mengejar pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan kemakmuran material, pertanyaan yang paling mendasar justru jarang diajukan: untuk apa semua keberhasilan itu jika tidak menghadirkan ketenangan ketika menatap ujung perjalanan?
Dalam pandangan Islam, kemajuan material bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari amanah yang mesti diwujudkan. Masyarakat yang bekerja keras, mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun industri, memperkuat ekonomi, dan menjaga martabat sosial adalah masyarakat yang sedang menjalankan salah satu sisi ajaran agama. Tidak ada pertentangan antara iman dan kemajuan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kemajuan dianggap sebagai tujuan terakhir.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena miskin, melainkan karena kehilangan arah. Mereka memiliki kekuatan, tetapi tidak memiliki pegangan. Mereka berhasil menaklukkan dunia, namun gagal menaklukkan dirinya sendiri. Di titik inilah iman menemukan maknanya: bukan sebagai penghalang ambisi, melainkan sebagai kompas yang memastikan setiap langkah menuju tujuan yang benar.
Kesadaran tentang kehidupan setelah kematian melahirkan keberanian yang berbeda. Seseorang yang yakin bahwa hidup tidak berhenti di dunia tidak mudah dikuasai rasa takut. Ia mampu bertahan dalam kesulitan, rela berkorban demi kebenaran, dan tidak gentar menghadapi risiko selama meyakini bahwa perjuangannya memiliki nilai di hadapan Tuhan.
Karena itu, doa yang diajarkan oleh Imam Sajjad a.s dalam Shahifah Sajjadiyah terasa begitu menyentuh. Beliau memohon:
أَمِتْنَا مُهْتَدِينَ غَيْرَ ضَالِّينَ، طَائِعِينَ غَيْرَ مُسْتَكْرِهِينَ، تَائِبِينَ غَيْرَ عَاصِينَ وَ لَا مُصِرِّينَ، يَا ضَامِنَ جَزَاءِ الْمُحْسِنِينَ، وَ مُسْتَصْلِحَ عَمَلِ الْمُفْسِدِينَ
“Wafatkanlah kami dalam keadaan mendapat petunjuk, bukan dalam kesesatan. Jadikan kami menyambut kematian dengan penuh kerelaan, bukan dengan keterpaksaan. Jadikan kami termasuk orang-orang yang bertobat, bukan para pendosa yang terus-menerus mengulangi kesalahannya. Wahai Tuhan yang menjamin balasan bagi orang-orang yang berbuat baik dan memperbaiki amal orang-orang yang pernah berbuat kerusakan”
Doa ini tidak meminta umur panjang, kekayaan melimpah, atau jabatan tinggi. Yang dimohon justru jauh lebih mendasar: akhir kehidupan yang baik. Sebab, kualitas hidup seorang manusia pada akhirnya diukur bukan hanya dari bagaimana ia hidup, melainkan juga bagaimana ia mengakhiri kehidupannya.
Dalam konteks yang lebih luas, keyakinan seperti inilah yang melahirkan manusia-manusia tangguh. Mereka tidak mudah menyerah karena harapan mereka tidak berhenti pada hasil yang tampak. Mereka mampu melewati penderitaan karena percaya bahwa setiap kesabaran memiliki makna yang melampaui hitungan dunia.
Tak mengherankan bila orang-orang yang memiliki keyakinan mendalam sering kali mampu melakukan pengorbanan yang tampak mustahil. Mereka memasuki wilayah penuh risiko tanpa dikuasai kepanikan. Mereka rela kehilangan kenyamanan demi mempertahankan nilai-nilai yang diyakini. Keberanian semacam itu bukan lahir dari kenekatan, melainkan dari kepastian bahwa kehidupan tidak berhenti pada batas kematian.
Namun, iman tidak pernah mengajarkan untuk mengabaikan urusan dunia. Justru sebaliknya. Agama memahami bahwa manusia yang lapar sulit berpikir jernih, sementara mereka yang terhimpit kemiskinan lebih rentan kehilangan harapan.
Karena itu, Rasulullah saw mengingatkan:
كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُونَ كُفْراً
“Kemiskinan hampir-hampir menyeret seseorang kepada kekufuran”
Ungkapan singkat ini menyimpan pesan sosial yang sangat dalam. Kemiskinan bukan sekadar persoalan pendapatan. Ia dapat menjadi pintu bagi putus asa, kejahatan, penyimpangan, bahkan hilangnya kepercayaan kepada nilai-nilai moral. Ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, ketika pekerjaan sulit diperoleh, ketika kesenjangan sosial semakin lebar, maka ruang bagi ketenangan batin pun ikut menyempit.
Karena itulah, memperbaiki kesejahteraan masyarakat bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral. Memberantas kemiskinan berarti menjaga martabat manusia. Membuka lapangan kerja berarti memperkuat harapan. Mengurangi ketimpangan berarti menciptakan ruang yang lebih sehat bagi tumbuhnya keimanan.
Gagasan ini kemudian menyentuh sebuah kenyataan yang sering dilupakan. Banyak orang memisahkan urusan agama dari pembangunan ekonomi, seolah keduanya berjalan di rel yang berbeda. Padahal, keduanya saling menopang. Iman yang kokoh melahirkan etos kerja, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Sebaliknya, kehidupan ekonomi yang sehat membantu manusia menjaga ketenangan jiwa sehingga lebih mudah mendekat kepada Tuhan.
Maka, masyarakat ideal bukanlah masyarakat yang hanya kaya atau hanya saleh. Yang dicita-citakan adalah masyarakat yang mampu memadukan keduanya: kemajuan material yang dibimbing oleh nilai-nilai spiritual. Di sana ilmu berkembang tanpa kehilangan hikmah, kekayaan bertambah tanpa melahirkan keserakahan, dan kekuasaan dijalankan tanpa mengorbankan keadilan.
Pada akhirnya, keberhasilan sejati tidak lahir dari memilih antara dunia atau akhirat. Keberhasilan justru hadir ketika dunia dijadikan jalan menuju akhirat. Iman memberi arah, sementara kesejahteraan menyediakan sarana. Ketika keduanya berjalan beriringan, manusia tidak hanya mampu membangun peradaban yang kuat, tetapi juga menyiapkan bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang daripada seluruh usia yang dihabiskannya di dunia.







