Ketika Tauhid Menjadi Kekuatan yang Mengguncang Dominasi Kekuatan Dunia

KHAMENEI.ID – Mengapa nilai-nilai Islam terus menjadi sasaran permusuhan? Mengapa setiap kebangkitan umat Islam yang berlandaskan ajaran agamanya hampir selalu dihadapkan pada tekanan politik, ekonomi, budaya, bahkan militer?

Dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, jawabannya tidak terletak pada identitas umat Islam semata, melainkan pada substansi ajaran Islam itu sendiri. Yang ditentang bukan sekadar nama “Islam”, tetapi nilai-nilai tauhid yang melahirkan manusia merdeka—manusia yang tidak tunduk kepada siapa pun selain Allah swt.

Selama seorang Muslim hanya menjadikan Islam sebagai identitas budaya atau ritual pribadi, ia mungkin tidak dianggap ancaman. Namun ketika Islam benar-benar membentuk cara berpikir, keberanian, dan sikap hidup seseorang, di situlah benturan mulai terjadi. Sebab Islam mengajarkan kemerdekaan sejati: hanya Allah swt yang berhak disembah dan hanya kepada-Nya manusia bergantung.

Tauhid yang Membebaskan Manusia

Dalam salah satu penjelasannya, Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa berbagai bentuk permusuhan terhadap dunia Islam pada hakikatnya diarahkan kepada nilai-nilai Islam yang autentik.

Menurut beliau, jika umat Islam meninggalkan prinsip-prinsip agamanya, menyesuaikan diri dengan pola hidup, cara berpikir, dan sistem nilai yang dikehendaki kekuatan-kekuatan dominan dunia, maka sebagian besar permusuhan itu akan menghilang. Hal itu menunjukkan bahwa yang sebenarnya ditolak bukan umat Islam sebagai manusia, melainkan ajaran Islam yang menentang kezaliman dan penindasan.

Nilai-nilai Islam berdiri di atas prinsip tauhid, sedangkan sistem kekuasaan yang zalim selalu menuntut ketundukan manusia kepada selain Allah—kepada kekuatan politik, ekonomi, atau militer.

Karena itu, pertarungan terbesar bukanlah pertarungan senjata, melainkan pertarungan nilai.

Makna Besar di Balik “Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn”

Setiap Muslim membaca Surah Al-Fatihah berkali-kali setiap hari. Namun sering kali kalimat itu hanya menjadi bacaan yang akrab di lisan tanpa benar-benar direnungkan maknanya.

Baca Juga  Islam dan Krisis Peradaban: Obat bagi Luka-Luka Manusia Modern

Allah swtberfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Menurut Imam Ali Khamenei, ayat ini bukan sekadar ungkapan ibadah individual. Di dalamnya terkandung sebuah deklarasi kemerdekaan.

Ketika seorang mukmin mengucapkan “Hanya kepada-Mu kami menyembah,” ia sekaligus menyatakan bahwa dirinya tidak akan menghambakan diri kepada kekuasaan, uang, tekanan politik, ataupun intimidasi manusia.

Dan ketika ia mengucapkan “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,” ia sedang memutus ketergantungan dari seluruh sumber kekuatan yang bersifat sementara.

Inilah ruh tauhid yang membentuk manusia merdeka.

Manusia yang hanya bergantung kepada Allah tidak mudah dibeli, tidak mudah diancam, dan tidak mudah dipaksa mengorbankan prinsip-prinsipnya.

Bagi Imam Khamenei, justru karakter seperti inilah yang paling ditakuti oleh sistem-sistem kekuasaan yang dibangun di atas dominasi dan penindasan.

Ketika Ketergantungan Berubah Menjadi Kekuatan

Imam Khamenei kemudian mengaitkan prinsip ini dengan sosok Imam Khomeini.

Menurut beliau, rahasia terbesar keberhasilan Imam Khomeini bukan pertama-tama terletak pada strategi politik, kecerdasan, atau kepemimpinan organisatorisnya. Semua itu penting, tetapi bukan fondasi utamanya.

Beliau mengatakan bahwa kunci keberhasilan Imam Khomeini adalah keikhlasan, hubungan yang mendalam dengan Allah swt, dan kemampuannya menghadirkan makna “Iyyāka Nasta‘īn” dalam kehidupan nyata.

Imam Khomeini tidak hanya membaca ayat tersebut, tetapi menjadikannya prinsip hidup.

Karena itulah, menurut Imam Khamenei, seorang manusia yang secara lahir tampak lemah mampu menghadapi kekuatan-kekuatan dunia yang jauh lebih besar.

Beliau memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah. Manusia ibarat sebuah bejana kecil. Selama ia mengandalkan dirinya sendiri, kapasitasnya tetap terbatas. Namun ketika bejana kecil itu tersambung dengan samudra yang tidak bertepi, ia memperoleh kekuatan yang tidak lagi diukur oleh ukuran dirinya sendiri.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 6): Mengapa Takwa Harus Dijaga Sepanjang Hayat?

Begitu pula seorang mukmin. Ketika ia menghubungkan dirinya kepada sumber kekuasaan Allah swt yang tidak terbatas, kekuatan manusiawi yang terbatas tidak lagi menjadi ukuran utama.

Di situlah lahir keberanian yang sering kali tampak mustahil dijelaskan oleh logika material.

Jalan Keselamatan Umat

Dari sudut pandang Imam Khamenei, keselamatan umat Islam tidak akan lahir dari sekadar peningkatan kekayaan, persenjataan, atau diplomasi internasional, meskipun semua itu memiliki tempatnya masing-masing.

Fondasi utamanya tetap sama: kesetiaan kepada ajaran Islam.

Selama umat Islam mempertahankan tauhid, syariat, dan nilai-nilai moral yang membentuk karakter mereka, mereka akan memiliki daya hidup yang tidak mudah dihancurkan oleh tekanan dari luar.

Sebaliknya, ketika mereka kehilangan prinsip-prinsip itu dan menggantinya dengan ketergantungan kepada kekuatan dunia, maka mereka sebenarnya telah kehilangan sumber kekuatan yang paling mendasar.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, perjuangan terbesar umat Islam sesungguhnya bukan hanya menghadapi musuh dari luar, tetapi menjaga agar hubungan mereka dengan Allah tidak terputus.

Sebab kemenangan selalu bermula dari sana.

Kalimat yang dibaca dalam setiap rakaat salat ternyata bukan sekadar doa yang diulang-ulang. Ia adalah janji seorang mukmin kepada Tuhannya: hanya Allah yang disembah, hanya Allah tempat bergantung. Dan selama janji itu benar-benar hidup di dalam hati, seorang manusia tidak akan pernah benar-benar kehilangan kekuatannya.

Bagikan:
Terkait
Komentar