Nabi Muhammad dan Akhir Sebuah Peradaban Zalim

KHAMENEI.ID– Peradaban tidak runtuh hanya karena bangunan-bangunannya roboh. Ia lebih dulu hancur ketika manusia kehilangan arah, ketika keadilan menjadi barang langka, dan ketika kasih sayang digantikan oleh dendam yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itulah wajah dunia Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. Sebuah masyarakat yang tampak hidup, tetapi sesungguhnya sedang tenggelam dalam krisis kemanusiaan.

Yang dihadapi Nabi Muhammad saw bukan sekadar sekumpulan orang yang belum mengenal Islam. Beliau berhadapan dengan sebuah sistem sosial yang telah lama menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Penindasan menjadi hukum yang tak tertulis. Kekuatan menentukan kebenaran. Suku menjadi ukuran harga diri, sementara kemanusiaan kehilangan nilainya.

Dalam waktu sepuluh tahun memimpin masyarakat Madinah, Nabi saw berusaha membangun fondasi yang sama sekali baru. Bukan hanya mendirikan pemerintahan, melainkan membentuk manusia. Sebab perubahan sejati tidak pernah berlangsung seketika. Ia tumbuh perlahan, menembus kebiasaan, tradisi, dan cara berpikir yang telah mengakar selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Fondasi yang beliau bangun bertumpu pada empat pilar besar: pengetahuan, penghambaan kepada Allah, keadilan, dan kasih sayang. Empat hal inilah yang nyaris tidak ditemukan pada masyarakat jahiliah.

Mereka hidup dalam kebingungan intelektual. Pengetahuan digantikan oleh prasangka. Kepercayaan diwariskan tanpa dipertanyakan. Kebenaran ditentukan oleh leluhur, bukan oleh akal dan wahyu. Dalam suasana seperti itu, manusia mudah diperbudak oleh kekuasaan yang sewenang-wenang.

Di sisi lain, penghambaan kepada Tuhan telah bergeser menjadi penghambaan kepada manusia. Berhala bukan sekadar patung yang berdiri di sekitar Ka’bah, tetapi juga simbol dari berbagai bentuk tirani. Kekuasaan menjadi sesuatu yang dipertuhankan. Nafsu menjadi hakim. Yang kuat bebas menentukan nasib yang lemah.

Baca Juga  Ribuan Pedoman Hidup dalam Al-Qur'an: Membaca Keindahan yang Mengubah Kehidupan 

Akibatnya, keadilan nyaris tidak memiliki tempat.

Seseorang dapat dibunuh bukan karena kesalahannya, melainkan karena kebetulan berasal dari suku tertentu. Jika seorang anggota suatu kabilah terbunuh, maka balas dendam harus dilakukan kepada siapa pun dari kabilah lawan, sekalipun orang itu sama sekali tidak bersalah. Logika hukum digantikan oleh logika kebencian.

Bahkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup demi menjaga apa yang mereka sebut sebagai kehormatan keluarga. Tangisan seorang bayi tak mampu mengalahkan rasa malu yang dibangun oleh tradisi. Dalam masyarakat seperti itu, belas kasih dianggap kelemahan.

Ali bin Abi Thalib a.s melukiskan kondisi tersebut dengan bahasa yang sangat kuat dalam Nahjul Balaghah. Beliau menggambarkan manusia kala itu berada di tengah gelombang fitnah yang “menginjak mereka dengan telapak kaki dan menghancurkan mereka dengan kuku-kukunya.” Gambaran itu bukan sekadar metafora sastra, melainkan potret sebuah masyarakat yang kehilangan pijakan moral.

Beliau juga menggambarkan keadaan dunia sebelum diutusnya Rasulullah saw:

فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا

“Mereka berada dalam berbagai fitnah yang menginjak mereka dengan telapak kaki dan menghancurkan mereka dengan kuku-kukunya”

Dalam khutbah yang sama, Imam Ali a.s menjelaskan bahwa saat itu tali agama telah terputus, fondasi keyakinan berguncang, jalan menuju keselamatan menjadi samar, sementara manusia lebih memilih mengikuti jejak setan daripada petunjuk Tuhan. Kebenaran nyaris kehilangan suaranya, sedangkan kebatilan berdiri dengan percaya diri.

Di tengah situasi itulah Nabi Muhammad saw diutus.

Beliau tidak memulai perubahan dengan pedang, melainkan dengan cara berpikir. Ayat pertama yang turun bukan perintah berperang, tetapi perintah membaca. Seolah-olah Islam ingin mengatakan bahwa revolusi terbesar selalu dimulai dari kesadaran.

Namun pengetahuan saja tidak cukup. Nabi saw kemudian mengembalikan manusia kepada penghambaan yang benar. Ketika seseorang hanya tunduk kepada Allah, tidak ada lagi manusia yang berhak memperbudaknya. Tauhid ternyata bukan hanya persoalan akidah, tetapi juga pembebasan sosial. Orang yang benar-benar mengenal Tuhan tidak akan rela menjadi budak sesama manusia ataupun menjadikan dirinya sebagai tuhan bagi orang lain.

Baca Juga  Mereka yang Mencintai Nabi Tanpa Pernah Melihatnya

Dari sinilah lahir keadilan.

Islam menghapus berbagai bentuk diskriminasi yang telah mengakar. Kemuliaan seseorang tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan, warna kulit, atau kekuatan sukunya. Standarnya berubah menjadi ketakwaan dan integritas. Sebuah perubahan yang pada zamannya merupakan revolusi sosial yang luar biasa.

Namun Nabi saw tidak berhenti pada keadilan formal. Beliau menambahkan sesuatu yang jauh lebih dalam: kasih sayang.

Peradaban tidak cukup dibangun dengan hukum yang adil apabila hati manusia tetap dipenuhi kebencian. Karena itu Rasulullah saw mengajarkan agar anak yatim dihormati, perempuan dimuliakan, budak dibebaskan, tetangga diperhatikan, bahkan musuh sekalipun diperlakukan dengan batas-batas kemanusiaan.

Di titik ini, tampak jelas bahwa misi kenabian bukan sekadar mengganti struktur kekuasaan. Yang diubah adalah cara manusia memandang manusia lain.

Perubahan itu memang tidak selesai hanya dalam sepuluh tahun. Nabi saw sendiri memahami bahwa membangun karakter jauh lebih sulit daripada membangun kota. Sebuah masyarakat yang selama berabad-abad hidup dalam kebencian tentu tidak mungkin berubah dalam hitungan hari. Karena itu pendidikan menjadi inti perjuangan beliau. Sedikit demi sedikit, akar-akar kejahiliahan dicabut dan diganti dengan nilai-nilai yang lebih manusiawi.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Jahiliah bukan sekadar nama sebuah periode sejarah, melainkan keadaan ketika manusia kehilangan kompas moral. Ketika kebohongan dipelihara, diskriminasi dianggap biasa, kekuasaan dipakai untuk menindas, dan empati menghilang, saat itulah wajah jahiliah muncul kembali, meskipun teknologi telah berkembang dan gedung-gedung menjulang tinggi.

Karena itu, warisan terbesar Nabi Muhammad saw bukan hanya sebuah agama yang dianut miliaran orang, melainkan sebuah cara membangun peradaban: menghidupkan ilmu, memurnikan penghambaan kepada Allah, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan kasih sayang.

Baca Juga  Mab'ats Nabi Muhammad: Ketika Seluruh Nabi Menanti Sang Penutup Kenabian

Empat fondasi itulah yang dahulu mengakhiri zaman jahiliah. Dan mungkin, empat fondasi yang sama pula yang hari ini paling kita butuhkan untuk menyembuhkan dunia yang kembali dipenuhi ketimpangan, kebencian, dan kehilangan arah.

Bagikan:
Terkait
Komentar