Ketika Perpecahan Merampas Kemuliaan: Pelajaran dari Imam Ali tentang Persatuan

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang runtuh bukan karena miskin sumber daya. Ada masyarakat yang kehilangan wibawa bukan karena lemah persenjataan. Bahkan, ada peradaban yang perlahan menghilang bukan karena kalah dalam peperangan. Sering kali, kehancuran bermula dari sesuatu yang tampak sederhana: hilangnya kemampuan untuk tetap bersatu.

Sejarah manusia berulang kali memperlihatkan kenyataan itu. Ketika kepentingan pribadi mulai mengalahkan kepentingan bersama, ketika ego lebih nyaring daripada nurani, dan ketika persaudaraan berganti dengan saling curiga, saat itulah fondasi sebuah masyarakat mulai retak. Keretakan itu mungkin tidak langsung terlihat, tetapi perlahan menggerogoti kehormatan yang selama ini dibangun.

Dalam salah satu khutbah paling monumental di Nahjul Balaghah, yakni Khutbah Qashi’ah, Imam Ali bin Abi Thalib a.s mengajak manusia belajar bukan dari angan-angan, melainkan dari sejarah. Menurut beliau, sejarah adalah cermin yang memantulkan akibat dari pilihan manusia. Di sana terlihat jelas bahwa suatu kaum dapat mencapai puncak kemuliaan ketika mereka hidup dalam kebersamaan. Sebaliknya, mereka jatuh ketika membiarkan perpecahan menguasai hati.

Imam Ali a.s tidak sekadar mengajak mengenang masa lalu sebagai romantisme sejarah. Beliau meminta manusia memperhatikan bagaimana akhir perjalanan umat-umat terdahulu. Mereka pernah memiliki kekuatan, kehormatan, dan kedudukan yang disegani. Namun semua itu berubah ketika persatuan mulai tercerai-berai.

Beliau berkata:

فَانظُروا اِلَى ما صاروا اِلَیهِ فی آخِرِ اُمورِهِم حینَ وَقَعَتِ الفُرقَةُ وَ تَشَتَّتَتِ الاُلفَة

“Perhatikanlah bagaimana keadaan mereka pada akhir perjalanan hidup mereka ketika perpecahan terjadi dan ikatan persatuan tercerai-berai”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung peringatan yang melampaui zamannya. Imam Ali a.s tidak sedang membahas satu kelompok tertentu. Beliau sedang menjelaskan hukum sosial yang berlaku sepanjang sejarah: persatuan melahirkan kekuatan, sedangkan perpecahan mengundang kehancuran.

Baca Juga  Persatuan Umat Islam: Ketika Persamaan Mengalahkan Perbedaan

Namun jika ditarik lebih jauh, yang hilang akibat perpecahan ternyata bukan hanya kekuatan politik atau ekonomi. Yang pertama kali lenyap justru sesuatu yang lebih halus: martabat.

Imam Ali a.s melanjutkan peringatannya dengan ungkapan yang sangat puitis sekaligus menggugah:

قَد خَلَعَ اللَّهُ عَنهُم لِباسَ كَرامَتِهِ وَ سَلَبَهُم غَضارَةَ نِعمَتِه

“Allah melepaskan dari mereka pakaian kemuliaan dan mencabut kesegaran nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada mereka.”

Pilihan kata “pakaian kemuliaan” menyimpan makna yang dalam. Kemuliaan digambarkan seperti pakaian yang membungkus manusia dengan kehormatan. Selama pakaian itu dikenakan, seseorang atau sebuah bangsa tampak terhormat. Namun ketika pakaian itu dilepas, yang tersisa hanyalah tubuh yang rapuh dan mudah tersakiti.

Begitulah perpecahan bekerja. Ia tidak selalu datang dengan ledakan atau peperangan. Kadang ia hadir sebagai kebiasaan saling menjatuhkan, gemar mencari kesalahan, atau merasa kelompok sendiri paling benar sambil menutup pintu dialog. Sedikit demi sedikit, rasa saling percaya menghilang. Persaudaraan berubah menjadi kompetisi yang melelahkan. Di titik itulah kemuliaan mulai tercabut tanpa disadari.

Dalam konteks yang lebih luas, nikmat yang dimaksud Imam Ali a.s juga bukan semata-mata kekayaan atau kelimpahan materi. Sebuah masyarakat bisa saja makmur secara ekonomi, tetapi kehilangan ketenteraman karena dipenuhi kebencian. Mereka memiliki gedung-gedung tinggi, teknologi canggih, dan angka pertumbuhan yang mengesankan, tetapi gagal menghadirkan rasa aman dan saling menghormati. Nikmat kehilangan kesegarannya karena tidak lagi menghadirkan kedamaian.

Di sinilah letak pelajaran besar yang sering luput dipahami. Persatuan bukan sekadar slogan yang diteriakkan pada momen tertentu. Ia adalah budaya yang dibangun setiap hari melalui sikap saling menghargai, kemampuan mendengar perbedaan, dan kesediaan mengutamakan kepentingan bersama di atas ego pribadi.

Baca Juga  Imam Khamenei tentang Invasi Modern dan Pentingnya Menjaga Harapan Bangsa

Tentu, persatuan bukan berarti menghapus semua perbedaan. Sejak dahulu manusia memang diciptakan dengan latar belakang, cara berpikir, dan pengalaman yang beragam. Perbedaan adalah keniscayaan. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan. Ketika identitas dijadikan alasan untuk saling merendahkan, maka benih-benih kehancuran mulai ditanam oleh tangan manusia sendiri.

Fenomena itu terasa sangat dekat dengan kehidupan modern. Media sosial mempercepat arus informasi, tetapi juga mempercepat penyebaran prasangka. Orang lebih mudah menghakimi daripada memahami. Perdebatan sering berubah menjadi pertengkaran, sementara kemenangan dalam argumen dianggap lebih penting daripada menjaga persaudaraan. Akibatnya, ruang publik dipenuhi kebisingan, tetapi miskin kebijaksanaan.

Gagasan Imam Ali a.s kemudian menyentuh persoalan yang lebih mendasar: kemuliaan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau kekayaan, melainkan oleh kualitas hubungan antarmanusianya. Ketika masyarakat mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan, mereka sedang menjaga nikmat Allah agar tetap melekat. Sebaliknya, ketika perpecahan dibiarkan tumbuh, mereka sesungguhnya sedang menanggalkan pakaian kemuliaannya sendiri.

Karena itu, sejarah bukan sekadar kumpulan kisah tentang masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan masa depan. Bangsa yang enggan belajar dari keruntuhan generasi sebelumnya berisiko mengulangi kesalahan yang sama. Dan sering kali, kehancuran itu datang bukan karena musuh terlalu kuat, melainkan karena persaudaraan di dalam diri mereka telah lebih dahulu hancur.

Pada akhirnya, pesan Imam Ali a.s bukan hanya untuk para pemimpin, tetapi juga untuk setiap individu. Persatuan dimulai dari ruang-ruang kecil: keluarga, lingkungan, tempat kerja, dan komunitas. Dari sanalah masyarakat dibangun. Sebab kemuliaan bukanlah hadiah yang turun begitu saja dari langit. Ia adalah nikmat yang dijaga bersama. Dan ketika manusia memilih memelihara persaudaraan di atas kepentingan sesaat, mereka sedang mempertahankan pakaian kehormatan yang Allah anugerahkan kepada mereka.

Baca Juga  Ulama, Hikmah, dan Jejak Para Nabi
Bagikan:
Terkait
Komentar