KHAMENEI.ID– Ada banyak kerajaan yang runtuh karena perang. Ada bangsa yang hancur karena kemiskinan. Namun, ada pula peradaban yang perlahan kehilangan jiwanya bukan karena musuh dari luar, melainkan karena penyakit yang tumbuh di dalam diri manusia: merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dalam pandangan Islam, penyakit itu bernama takabur.
Sejarah menunjukkan bahwa kehancuran tidak selalu diawali dengan kekalahan di medan perang. Kadang ia bermula dari perubahan cara pandang manusia terhadap sesamanya. Ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih mulia karena keturunan, jabatan, kekuasaan, atau kekayaan, saat itulah benih kerusakan mulai tumbuh. Yang semula dibangun di atas nilai persaudaraan berubah menjadi panggung untuk mempertontonkan superioritas.
Itulah sebabnya Imam Ali bin Abi Thalib a.s memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bahaya takabur dalam Nahjul Balaghah. Salah satu peringatan paling kuat terdapat dalam Khutbah Qashi’ah, sebuah khutbah yang secara khusus membedah akar kesombongan manusia. Menurut beliau, penyakit ini bukan sekadar cacat moral pribadi, melainkan ancaman besar yang mampu mengubah arah perjalanan sebuah masyarakat.
Beliau mengingatkan:
فَاللَّهَ اللَّهَ فِي كِبْرِ الْحَمِيَّةِ، وَفَخْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، فَإِنَّهُ مَلَاقِحُ الشَّنَآنِ، وَمَنَافِخُ الشَّيْطَانِ… أَلَا فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ مِنْ طَاعَةِ سَادَاتِكُمْ وَكُبَرَائِكُمُ الَّذِينَ تَكَبَّرُوا عَنْ حَسَبِهِمْ وَتَرَفَّعُوا فَوْقَ نَسَبِهِمْ
“Maka takutlah kepada Allah terhadap kesombongan karena fanatisme dan kebanggaan jahiliah. Semua itu adalah benih permusuhan dan tiupan setan yang dengannya ia menipu umat-umat terdahulu dan generasi yang telah berlalu…. Waspadalah, sungguh waspadalah, jangan menaati para pemimpin dan orang-orang besar yang menyombongkan diri karena kedudukan mereka dan menganggap diri lebih tinggi daripada orang lain”
Ungkapan itu tidak berhenti sebagai nasihat moral. Ia adalah pembacaan tajam terhadap sejarah manusia. Imam Ali a.s melihat bahwa kesombongan selalu menjadi pintu masuk lahirnya berbagai bentuk ketidakadilan. Ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi, ia tidak lagi memandang orang lain sebagai sesama manusia yang memiliki martabat yang sama. Dari sanalah lahir diskriminasi, penindasan, bahkan penyalahgunaan kekuasaan.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini menjelaskan mengapa Islam sejak awal begitu keras menolak segala bentuk aristokrasi yang dibangun atas kebanggaan keturunan, suku, atau status sosial. Nabi Muhammad saw membangun masyarakat yang meletakkan kemuliaan pada ketakwaan, bukan pada garis darah atau kekuatan politik. Namun, ketika semangat itu mulai digantikan oleh budaya membanggakan kedudukan, perlahan-lahan arah sejarah pun berubah.
Takabur bukan hanya mengubah karakter individu. Ia juga mampu mengubah wajah sebuah sistem politik. Ketika para pemimpin mulai merasa memiliki hak istimewa di atas rakyat, kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan sebagai hak warisan. Kepemimpinan berubah menjadi simbol kemuliaan pribadi, bukan lagi pengabdian kepada masyarakat.
Di titik inilah bahaya terbesar muncul. Kesombongan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu ditemani oleh keinginan untuk dipuji, hasrat mempertahankan privilese, serta kecenderungan menolak kritik. Orang yang takabur perlahan kehilangan kemampuan mendengar suara kebenaran karena ia merasa dirinya telah menjadi ukuran kebenaran itu sendiri.
Imam Ali a.s ternyata tidak hanya memperingatkan para pemimpin. Beliau juga mengingatkan masyarakat. Sebab, kesombongan hanya bisa bertahan apabila ada orang-orang yang bersedia menerimanya. Karena itu, beliau memberikan dua peringatan sekaligus: jangan pernah merasa lebih tinggi daripada orang lain, dan jangan pula menerima klaim superioritas orang lain sebagai sesuatu yang wajar.
Pesan kedua ini sering kali luput dari perhatian. Padahal ia memiliki makna sosial yang sangat besar. Sebuah masyarakat akan tetap sehat apabila warganya menolak budaya mengkultuskan manusia. Ketika seseorang diperlakukan seolah-olah berada di atas hukum, di atas kritik, bahkan di atas nilai-nilai moral, saat itulah benih kerusakan mulai tumbuh. Kesombongan tidak hanya hidup di hati seorang pemimpin, tetapi juga dipelihara oleh lingkungan yang membiasakan diri tunduk tanpa pertimbangan.
Namun jika ditarik lebih jauh, peringatan Imam Ali a.s sesungguhnya juga berbicara kepada setiap orang. Takabur tidak selalu tampil dalam bentuk yang kasar. Ia bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari dengan wajah yang lebih halus: merasa paling saleh, paling berilmu, paling berjasa, atau paling benar. Bahkan keberhasilan spiritual pun dapat berubah menjadi jebakan apabila melahirkan rasa lebih mulia dibandingkan orang lain.
Ironisnya, semakin tinggi seseorang merasa dirinya, semakin jauh ia dari hakikat penghambaan kepada Allah. Sebab seorang hamba sejati selalu menyadari bahwa semua kelebihan hanyalah titipan. Ilmu dapat dicabut, jabatan dapat hilang, kekayaan dapat lenyap, dan kemuliaan hanya akan bertahan selama Allah menghendakinya. Tidak ada alasan bagi manusia untuk membanggakan sesuatu yang pada hakikatnya bukan miliknya.
Di tengah dunia modern yang dipenuhi budaya pencitraan, persaingan status, dan perlombaan menunjukkan keberhasilan, pesan Imam Ali a.s terasa semakin relevan. Media sosial, misalnya, sering kali mendorong manusia membangun citra diri yang lebih besar daripada kenyataan. Pengakuan menjadi kebutuhan, pujian menjadi candu, sementara kerendahan hati perlahan dianggap sebagai kelemahan.
Padahal, peradaban yang kokoh tidak dibangun oleh orang-orang yang merasa paling tinggi. Ia dibangun oleh mereka yang sadar bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Kerendahan hati bukanlah tanda kekalahan, melainkan fondasi keadilan. Dari sanalah lahir kepemimpinan yang melayani, masyarakat yang saling menghormati, dan kekuasaan yang tidak kehilangan nuraninya.
Mungkin karena itulah Imam Ali a.s berkali-kali mengingatkan bahaya takabur. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa keruntuhan sering kali tidak dimulai dari serangan musuh, melainkan dari kesombongan yang dibiarkan tumbuh di dalam hati. Ketika manusia merasa dirinya lebih tinggi daripada sesamanya, saat itulah ia sedang menjauh dari nilai-nilai Islam yang sejati dan tanpa disadari, sedang membuka jalan bagi penyimpangan yang lebih besar.







