Di Mana Cinta Berhenti Menjadi Milik Kita 

KHAMENEI.ID – Ada hal-hal dalam hidup yang tampak sangat pribadi: kepada siapa kita memberi kasih, kepada siapa kita menjaga jarak, siapa yang kita bela, dan kepada siapa kita menolak memberi sesuatu. Perasaan-perasaan itu biasanya dianggap sebagai wilayah paling bebas dalam diri manusia. Kita mencintai karena merasa cocok, membenci karena pernah terluka, memberi karena merasa iba, dan menahan pemberian karena merasa orang lain tidak layak menerimanya.

Namun dalam ajaran Islam, bahkan wilayah yang paling personal itu dapat berubah menjadi ukuran kedalaman iman. Cinta dan benci tidak semata-mata dinilai dari kepada siapa keduanya diarahkan, tetapi juga dari alasan yang menggerakkannya.

Nabi Muhammad saw bersabda:

وَدُّ الْمُؤْمِنِ الْمُؤْمِنَ فِي اللَّهِ مِنْ أَعْظَمِ شُعَبِ الْإِيمَانِ، وَمَنْ أَحَبَّ فِي اللَّهِ وَأَبْغَضَ فِي اللَّهِ وَأَعْطَى فِي اللَّهِ وَمَنَعَ فِي اللَّهِ فَهُوَ مِنَ الْأَصْفِيَاءِ

“Kasih sayang seorang mukmin kepada mukmin lainnya karena Allah merupakan salah satu cabang iman yang paling agung. Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka ia termasuk orang-orang pilihan”

Kalimat itu menyimpan perubahan cara pandang yang tidak sederhana. Sebab ia mengajak manusia keluar dari pusat dirinya sendiri. Cinta tidak lagi sepenuhnya tentang apa yang saya rasakan. Benci tidak lagi sekadar tentang siapa yang pernah menyakiti saya. Bahkan memberi dan tidak memberi pun tidak selalu harus mengikuti dorongan hati.

Di titik ini, persoalannya bukan menjadi manusia yang tidak memiliki perasaan, melainkan manusia yang tidak diperbudak oleh perasaannya.

Kita mungkin mencintai seseorang karena ia menyenangkan kita. Kita mendekati orang yang menguntungkan. Kita memberi kepada mereka yang kita sukai dan menjauh dari mereka yang tidak sejalan dengan kepentingan kita. Semua itu terasa wajar karena manusia memang memiliki kecenderungan untuk membangun hubungan berdasarkan kesukaan dan kepentingan.

Baca Juga  Ketika Jibril Datang kepada Fatimah: Keagungan Sayidah Zahra dalam Cahaya Wahyu

Tetapi cinta karena Allah menuntut sesuatu yang lebih dalam. Ia membuat seseorang bertanya sebelum mencintai: apa yang sebenarnya sedang saya cintai? Dirinya, keuntungan yang saya peroleh darinya, atau kebaikan yang ada padanya?

Pertanyaan semacam itu mengubah arah cinta. Sebab orang yang mencintai karena Allah tidak menjadikan kedekatan sebagai alasan untuk membenarkan segala sesuatu. Ia dapat mencintai seseorang sekaligus tidak menyukai kesalahannya. Ia dapat tetap menghendaki kebaikan bagi orang lain tanpa harus menyetujui semua tindakannya.

Begitu pula dengan benci.

Benci karena Allah bukanlah kebencian yang lahir dari dendam pribadi, iri hati, atau luka harga diri. Ia bukan lisensi untuk merendahkan manusia lain. Jika kebencian hanya menjadi kendaraan bagi ego, maka nama Tuhan yang ditempelkan padanya tidak mengubah hakikatnya.

Karena itu, membenci karena Allah justru membutuhkan pengendalian diri yang lebih besar. Seseorang mungkin menolak suatu keburukan tanpa kehilangan keadilan terhadap pelakunya. Ia dapat menjaga jarak dari sesuatu yang merusak tanpa membiarkan hatinya dipenuhi keinginan untuk menghancurkan orang lain.

Dalam konteks yang lebih luas, prinsip yang sama berlaku pada tindakan memberi dan menahan.

Memberi sering dipandang sebagai kebaikan yang selalu positif. Tetapi ajaran ini menyelipkan satu kemungkinan yang lebih rumit: ada keadaan ketika tidak memberi justru menjadi bentuk kebaikan. Bukan karena pelit, bukan karena permusuhan, melainkan karena seseorang memahami bahwa pemberian tertentu dapat memperkuat keburukan atau membuat seseorang semakin jauh dari kebaikan.

Demikian pula, memberi bukan sekadar persoalan jumlah. Yang menentukan adalah sumber keputusan itu. Seseorang dapat memberikan sesuatu dalam jumlah besar demi dipuji, sementara orang lain memberi sedikit tetapi dengan ketulusan yang jauh lebih dalam. Yang satu mungkin mendapatkan tepuk tangan manusia; yang lain mungkin hanya diketahui oleh Tuhan.

Baca Juga  Universitas Bukan Sekadar Tempat Kuliah: Imam Khamenei tentang Misi Ilmu, Inovasi, dan Masa Depan Peradaban

Gagasan ini kemudian menyentuh sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan modern: betapa mudahnya manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat penilaian.

Kita memilih teman berdasarkan manfaat. Kita mengikuti seseorang selama ia menguntungkan. Kita memuji ketika mendapatkan sesuatu dan mencela ketika kepentingan kita terganggu. Bahkan dalam hubungan yang mengatasnamakan nilai dan prinsip, kepentingan pribadi kadang diam-diam menyusup dan mengambil alih.

Cinta karena Allah menawarkan jalan yang berbeda. Ia menggeser pusat pertimbangan dari “apa yang saya dapatkan?” menjadi “apa yang benar dan baik di hadapan Allah?”

Perubahan kecil dalam pertanyaan itu dapat mengubah banyak hal.

Persahabatan tidak lagi sekadar menjadi tempat mencari kenyamanan. Ia dapat menjadi ruang untuk saling menjaga dari kesalahan. Ketegasan tidak lagi harus berubah menjadi permusuhan. Pemberian tidak selalu harus dibarengi harapan untuk mendapatkan kembali. Bahkan penolakan dapat dilakukan tanpa kebencian.

Barangkali karena itulah hadis tersebut tidak berhenti pada kata “mukmin”. Ia menyebut al-ashfiya’, orang-orang yang dipilih atau disucikan. Seolah-olah ada tingkat tertentu dalam kehidupan iman ketika manusia tidak lagi sepenuhnya digerakkan oleh selera pribadi. Ia mulai belajar menundukkan cinta, benci, memberi, dan menahan kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.

Pada akhirnya, ukuran kedewasaan iman mungkin bukan seberapa banyak kita mampu mengatakan bahwa kita mencintai Tuhan, melainkan seberapa jauh cinta kepada Tuhan mengubah cara kita mencintai manusia.

Sebab cinta yang masih sepenuhnya mengikuti kepentingan diri mudah berubah menjadi kepemilikan. Benci yang masih dikuasai ego mudah berubah menjadi dendam. Pemberian yang menunggu balasan mudah berubah menjadi transaksi.

Tetapi ketika semuanya dikembalikan kepada Allah, hati perlahan belajar melepaskan dirinya dari pusat.

Baca Juga  Mereka yang Menunggu Negara Retak 

Dan mungkin di situlah persahabatan, ketegasan, pemberian, bahkan penolakan menemukan maknanya yang paling sunyi: bukan lagi tentang apa yang kita inginkan dari manusia, melainkan tentang bagaimana kita menjaga hati agar tetap berada di jalan yang kita yakini benar.

Bagikan:
Terkait
Komentar