KHAMENEI.ID – Bagaimana jika seseorang berhasil mendapatkan semua yang selama ini dikejarnya, tetapi justru merasa kehilangan segalanya ketika usia mulai senja?
Manusia menghabiskan banyak waktu untuk mengejar sesuatu. Ada yang belajar bertahun-tahun demi memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Ada yang bekerja tanpa mengenal waktu demi mengumpulkan kekayaan. Ada pula yang mempertaruhkan kesehatan, hubungan keluarga, bahkan keselamatan dirinya demi jabatan, kekuasaan, dan kenikmatan hidup.
Sekilas, semua itu tampak sebagai bagian wajar dari kehidupan. Manusia membutuhkan uang, tempat tinggal, makanan, kenyamanan, dan berbagai fasilitas untuk menjalani hidup. Tidak ada yang keliru dengan bekerja keras atau berusaha memperbaiki keadaan ekonomi. Namun, persoalan muncul ketika seluruh kehidupan hanya diarahkan untuk memenuhi kepentingan material diri sendiri.
Imam Ali Khamenei qs mengangkat persoalan tersebut dan mengingatkan bahwa terdapat jenis kehidupan yang sepenuhnya berpusat pada kebutuhan pribadi. Manusia belajar agar memperoleh penghasilan, bekerja agar mendapatkan lebih banyak keuntungan, dan mengerahkan seluruh kemampuannya demi mencapai kesenangan, kekayaan, kedudukan, atau kekuasaan.
Menurut beliau, pola hidup seperti itu bukan fenomena baru. Sepanjang sejarah, banyak manusia dari berbagai lapisan masyarakat menjalani kehidupan dengan orientasi yang sama. Perbedaan tingkat pendidikan dan pengetahuan tidak selalu membuat seseorang memiliki tujuan hidup yang lebih luas. Seseorang bisa sangat terpelajar, memiliki kecakapan profesional, bahkan mencapai kedudukan tinggi, tetapi seluruh pencapaiannya tetap berpusat pada kepentingan dirinya sendiri.
Yang menarik, Imam Khamenei tidak langsung memulai kritiknya dari perhitungan dosa dan pahala di akhirat. Beliau justru mengajak manusia melihat kelemahan kehidupan materialistis dari pengalaman duniawi itu sendiri.
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya bekerja keras untuk menjadi kaya. Ia berhasil mengumpulkan banyak uang, membeli rumah, menikmati berbagai fasilitas, memperoleh jabatan, dan merasakan kesenangan yang selama ini diimpikannya. Anggaplah seluruh targetnya tercapai. Tidak ada kegagalan dalam daftar ambisinya.
Namun, waktu terus berjalan. Masa muda berlalu, tubuh mulai melemah, dan usia mendekati penghujungnya. Pada saat itulah ia menoleh ke belakang dan menyaksikan perjalanan hidupnya sendiri.
Apa yang tersisa?
Dalam gambaran Imam Khamenei, seseorang yang hanya hidup untuk mengejar kepentingan material akan berhadapan dengan kenyataan pahit: semua yang pernah diperjuangkannya ternyata tidak dapat dipertahankan selamanya. Kekayaan yang dikumpulkan, kenikmatan yang dirasakan, kekuasaan yang pernah dimiliki, dan kedudukan yang dibanggakan perlahan-lahan menjadi bagian dari masa lalu.
Pada usia muda, kenyataan ini sering kali sulit dipahami. Masa depan terlihat panjang dan seolah menyediakan cukup banyak waktu untuk menikmati segala sesuatu. Manusia merasa masih memiliki kesempatan untuk mengejar apa pun yang diinginkannya. Akan tetapi, ketika usia semakin jauh meninggalkan masa muda, pandangan terhadap kehidupan berubah. Apa yang dahulu tampak sebagai tujuan utama bisa terasa begitu kecil ketika seseorang menyadari bahwa waktunya tidak dapat diputar kembali.
Di sinilah letak kritik mendasar Imam Khamenei. Persoalannya bukan karena manusia memiliki harta atau menikmati kehidupan dunia, melainkan karena ia menjadikan semua itu sebagai satu-satunya alasan untuk hidup.
Kehidupan yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi pada akhirnya berisiko berubah menjadi kumpulan kenangan yang tidak lagi dapat digenggam. Bahkan keberhasilan sekalipun tidak selalu mampu menghapus perasaan kehilangan. Sebab, ada sesuatu yang lebih mendasar daripada kehilangan harta: kesadaran bahwa waktu telah berlalu tanpa digunakan untuk tujuan yang lebih bermakna.
Al-Qur’an memberikan gambaran yang jauh lebih besar mengenai penyesalan tersebut. Allah swt berfirman dalam Surah Maryam ayat 39: “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.”
Dalam ayat lain, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk memperingatkan manusia tentang yaumul hasrah, hari penyesalan. Gambaran ini menunjukkan bahwa penyesalan tidak hanya berkaitan dengan kegagalan memperoleh sesuatu, tetapi juga kesadaran bahwa kesempatan untuk memperbaiki perjalanan hidup telah berakhir.
Karena itu, pertanyaan penting bagi manusia bukan sekadar berapa banyak kekayaan yang berhasil dikumpulkan, seberapa tinggi jabatan yang diraih, atau berapa banyak kesenangan yang pernah dinikmati. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: untuk apa semua itu diperjuangkan?
Bekerja keras tetap penting. Mencari nafkah, membangun keluarga, dan memperbaiki kesejahteraan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Namun, semua itu akan kehilangan makna apabila kehidupan hanya diukur dari kepuasan pribadi dan akumulasi materi.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya perlu menghitung apa yang berhasil diperolehnya, tetapi juga apa yang telah dilakukannya dengan waktu yang diberikan kepadanya.
Sebab, penyesalan terbesar bukan selalu karena gagal mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan karena baru menyadari bahwa seluruh hidup telah dihabiskan untuk sesuatu yang ternyata tidak mampu dibawa melampaui batas usia.
Sumber: Pidato Imam Khamenei dalam pertemuan dengan sejumlah komandan dan personel Angkatan Udara Republik Islam Iran, 10 Februari 1993 (19 Bahman 1371).







