

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang ganjil dalam hubungan manusia dengan dunia. Hampir semua orang sadar bahwa hidup ini sementara. Kita menyaksikan kematian, kehilangan, dan perubahan setiap hari. Namun anehnya, kesadaran itu tidak serta-merta membuat kita menjaga jarak. Justru sebaliknya. Semakin lama hidup, semakin banyak yang merasa dunia adalah tempat menetap, bukan sekadar

KHAMENEI.ID– Ada banyak cara memilih pemimpin. Sebagian mengandalkan suara mayoritas, sebagian lagi bertumpu pada garis keturunan, kekuatan politik, atau pengaruh ekonomi. Namun, peristiwa Ghadir menawarkan sebuah gagasan yang sama sekali berbeda: bagaimana jika pemimpin tertinggi sebuah masyarakat bukan sekadar orang yang paling populer atau paling kuat, melainkan manusia yang paling bersih

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika jabatan sering dipandang sebagai puncak prestise, gagasan bahwa kekuasaan adalah beban terasa hampir asing. Politik dipenuhi perlombaan merebut kursi, sementara keberhasilan kerap diukur dari seberapa tinggi seseorang mampu mendaki tangga kekuasaan. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Nahjul Balaghah menghadirkan pandangan yang jauh lebih dalam: pemerintahan bukan sekadar

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika manusia merasa dirinya berada di puncak peradaban, tetapi sesungguhnya sedang berjalan dalam gelap. Jalan-jalan kota ramai, kerajaan-kerajaan berdiri megah, ilmu berkembang di tangan segelintir orang, dan kekuasaan tampak kokoh. Namun di balik kemegahan itu, manusia kehilangan arah. Kekuatan menggantikan keadilan, kesombongan menutupi nurani, dan kekerasan dianggap sebagai

KHAMENEI.ID– Ada anggapan bahwa semakin maju sebuah peradaban, semakin sedikit manusia membutuhkan agama. Teknologi dianggap cukup menggantikan kebijaksanaan, sementara kemajuan ekonomi diyakini mampu menghapus penderitaan. Namun, kenyataan justru memperlihatkan paradoks. Di tengah kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya, dunia tetap dipenuhi perang, ketimpangan, krisis kemanusiaan, dan kegelisahan yang sulit dijelaskan.

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa, sebuah komunitas, bahkan seorang manusia merasa jalan di depannya seolah tertutup rapat. Hambatan datang dari segala arah: tekanan, ketidakadilan, keterbatasan, hingga rasa putus asa yang perlahan menggerus keyakinan. Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi bagaimana meraih kemenangan, melainkan apakah kemenangan itu masih

KHAMENEI.ID– Keadilan sering dibayangkan sebagai sesuatu yang lahir di ruang sidang, di balik meja pemerintahan, atau dari keputusan seorang pemimpin. Padahal, menurut Imam Ali bin Abi Thalib a.s, keadilan justru dimulai dari tempat yang jauh lebih sunyi: dari dalam diri manusia sendiri. Sebelum seseorang mampu berlaku adil kepada orang lain, ia

KHAMENEI.ID– Ada satu paradoks yang kerap muncul dalam kehidupan sosial. Semakin banyak nasihat disampaikan, semakin sering pula orang merasa kehilangan kepercayaan pada kata-kata. Bukan karena kebaikan yang diajarkan itu keliru, melainkan karena lidah yang mengucapkannya berjalan di depan, sementara perilakunya tertinggal jauh di belakang. Di situlah sebuah nasihat berubah menjadi ironi.

KHAMENEI.ID– Ada satu ilusi yang hampir selalu berhasil memperdaya manusia: keyakinan bahwa masih ada banyak waktu. Kita menunda berbuat baik karena merasa esok masih panjang. Kita menumpuk ambisi seolah usia adalah milik sendiri. Padahal, yang paling pasti dalam hidup justru sesuatu yang paling sering kita abaikan: kematian. Berabad-abad silam, Imam Ali

KHAMENEI.ID– Kekuasaan hampir selalu dipersepsikan sebagai sesuatu yang harus direbut. Dalam politik modern, kemenangan sering dianggap sebagai legitimasi tertinggi. Siapa yang berhasil memperoleh dukungan, menguasai panggung opini, dan memenangkan suara, dialah yang dianggap paling berhak memimpin. Namun, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam Nahjul Balaghah.









