

KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tidak lahir karena kekalahan. Ia justru muncul ketika kemenangan telah lewat, peperangan telah usai, tetapi sahabat-sahabat seperjuangan satu per satu telah tiada. Kesedihan semacam itulah yang pernah menyelimuti hati Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Bukan kesedihan seorang pemimpin yang kehilangan kekuasaan, melainkan duka seorang manusia yang

Ada satu pertanyaan yang kerap muncul setiap kali bangsa menghadapi tekanan besar: apakah harapan masih rasional ketika semua tanda di permukaan tampak suram? Dalam sejumlah pidatonya, Imam Ali Khamenei qs mengajak pendengarnya melihat satu faktor yang sering dianggap terlalu sederhana—bahkan naif—namun justru menentukan arah sejarah: kepercayaan pada janji Tuhan. Bagi

Ada paradoks yang sunyi namun nyata di dunia Islam hari ini: kitab suci dibaca di mana-mana, tetapi cahaya yang dijanjikannya belum sepenuhnya menyinari kehidupan umat. Masjid penuh, lantunan ayat menggema, tetapi kebingungan, perpecahan, dan konflik tetap mengintai. Pertanyaannya sederhana sekaligus mengguncang: apakah kita benar-benar bertemu dengan Al-Qur’an, atau sekadar mendengarnya?

Di banyak sudut dunia Islam hari ini, sebuah paradoks terasa semakin terlihat jelas. Islam kerap hadir sebagai nama, tetapi justru dipakai untuk melawan Islam itu sendiri. Fenomena ini bukan sekadar konflik teologis, melainkan pergulatan identitas, politik, dan kekuasaan. Di tengah kabut itulah muncul istilah yang diinisiasi oleh Imam Khomeini ra

Haji kerap dipahami sebagai puncak ritual individual: perjalanan spiritual menuju pengampunan. Namun dalam perspektif Imam Ali Khamenei qs, haji tidak berhenti pada dimensi personal. Ia adalah peristiwa besar yang menyatukan langit dan bumi—ibadah yang sekaligus membentuk manusia, masyarakat, dan peradaban. Di titik inilah haji menjadi ibadah yang unik: spiritual sekaligus