

KHAMENEI.ID – Ada yang lebih berbahaya daripada melakukan kesalahan: kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang salah. Sebab, selama seseorang masih bersedia menegur dirinya sendiri, masih ada pintu yang terbuka untuk kembali. Namun, ketika suara hati mulai bungkam, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan, kebiasaan menjelma pembenaran dan pembenaran perlahan membentuk watak

KHAMENEI.ID – Ada bahaya yang datang dengan suara keras, tetapi ada pula yang tumbuh dalam diam. Ia tidak selalu tampak sebagai kekacauan, perang, atau pertikaian. Kadang ia bermula dari sesuatu yang jauh lebih dekat: keinginan memiliki lebih banyak, dorongan memenuhi hasrat, lalu keputusan untuk mengikuti siapa saja yang menjanjikan pembenaran bagi

KHAMENEI.ID – Ada jenis kelelahan yang tidak lahir dari terlalu banyak bekerja. Ia tumbuh dari terlalu sering melihat kehidupan orang lain. Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baru, jabatan yang lebih tinggi, perjalanan yang lebih jauh, atau sekadar kehidupan yang tampak lebih mudah di layar ponsel. Semakin lama mata tertambat

KHAMENEI.ID – Kebangkitan sebuah gagasan tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan. Kadang ia muncul dari jalan-jalan, ruang kelas, masjid, kampus, medan perjuangan, dan terutama dari generasi muda yang mulai mempertanyakan kembali identitas mereka. Itulah yang oleh Imam Ali Khamenei qs dibaca sebagai salah satu tanda paling penting dari perubahan dunia

KHAMENEI.ID – Ada hal-hal yang datang dalam hidup dengan wajah yang sulit kita terima. Penyakit, kehilangan, kegagalan, rencana yang berantakan, atau kabar yang membuat hati seketika runtuh. Pada saat seperti itu, manusia biasanya segera bertanya: mengapa harus saya? Mengapa jalan ini yang dipilihkan untuk saya? Pertanyaan semacam itu lahir dari cara

KHAMENEI.ID – Ada jenis kekayaan yang justru membuat manusia miskin: ketika terlalu banyak yang dimiliki membuatnya lupa bahwa semua itu bukan miliknya. Ada pula bentuk ketinggian yang diam-diam menjatuhkan: ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Di antara dua jebakan itu, kerendahan hati menemukan tempatnya. Bukan sebagai kelemahan, apalagi

KHAMENEI.ID – Ada jenis kebusukan yang tidak segera terlihat. Ia tidak berada di wajah, pakaian, atau tubuh yang tampak di hadapan orang lain. Ia bersembunyi lebih dalam: di hati yang menyimpan iri, dendam, kebencian, kesombongan, dan niat yang tak pernah benar-benar dibersihkan. Karena itu, seseorang bisa tampak begitu bersih di hadapan

KHAMENEI.ID – Ada orang yang benar dalam banyak hal, tetapi membuat orang lain enggan berada di dekatnya. Ia mungkin tekun beribadah, rajin berbicara tentang kebaikan, dan merasa hidupnya berada di jalan yang benar. Namun ketika berhadapan dengan orang lain, wajahnya kaku, ucapannya tajam, dan kehadirannya justru terasa sebagai beban. Di sinilah

KHAMENEI.ID – Ada rasa malu yang membuat manusia lebih bermartabat. Tetapi ada pula rasa malu yang justru membuat seseorang menjauh dari kebaikan. Keduanya sama-sama disebut malu, namun tidak selalu lahir dari sumber yang sama. Nabi Muhammad saw pernah memberikan gambaran yang sederhana sekaligus tajam tentang hal itu. Beliau bersabda: الْحَيَاءُ حَيَاءَانِ،

KHAMENEI.ID – Ada orang yang tampak baik selama hidup berjalan sesuai keinginannya. Ia mudah tersenyum ketika disukai, mudah memuji ketika membutuhkan sesuatu, dan tampak tenang ketika tidak sedang berhadapan dengan kepentingan. Namun manusia sering kali baru memperlihatkan siapa dirinya ketika tiga hal datang bersamaan dengan godaan: rasa suka, kemarahan, dan kekuasaan.

KHAMENEI.ID – Ada sesuatu yang sering kita salahpahami dari dunia: kita mengira apa yang sedang berada di tangan kita akan tetap menjadi milik kita. Kekayaan, kedudukan, kesehatan, nama baik, bahkan kesempatan yang hari ini terasa begitu dekat, diam-diam kita perlakukan seperti sesuatu yang akan bertahan sampai usia menutup pintu. Padahal dunia









