

KHAMENEI.ID– Ada kedekatan yang lahir karena hubungan darah. Ada pula yang tumbuh karena kesamaan cita-cita. Namun, ada jenis kedekatan yang jauh lebih langka: kedekatan yang dibentuk oleh pendidikan, pengorbanan, dan perjalanan ruhani yang ditempuh bersama. Itulah hubungan antara Imam Ali bin Abi Thalib a.s dan Nabi Muhammad saw. Sebuah persahabatan sekaligus

Di tengah dunia yang makin terhubung—dan sekaligus makin tegang—gagasan tentang “tidak bergantung pada kekuatan asing” sering terdengar seperti ajakan menutup diri. Tuduhan itu pula yang kerap diarahkan pada Iran. Namun dalam sejumlah ceramahnya, Ali Khamenei justru mengajak melihat ulang makna kemandirian nasional: bukan isolasi, melainkan keberanian berdiri sejajar. Gagasan itu

Ada masa ketika peta politik Timur Tengah tampak seperti sketsa yang digambar dari satu pusat kekuasaan. Keputusan-keputusan besar di banyak negara seolah beresonansi dari satu arah. Namun, menurut pandangan yang sering disampaikan Imam Ali Khamenei qs, peta itu kini sedang digambar ulang—perlahan, tetapi pasti. Sebuah istilah muncul untuk menggambarkan perubahan

Ada satu pertanyaan besar yang diam-diam menghantui banyak bangsa: siapa yang akan membangun masa depan? Bukan gedung, bukan teknologi, bukan bahkan kekayaan alam, melainkan manusia. Dalam berbagai kesempatan, gagasan tentang “peradaban Islam modern” atau kebangkitan kembali peradaban Islam kerap disampaikan oleh Imam Ali Khamenei qs sebagai proyek jangka panjang yang

Perdebatan tentang perempuan dalam Islam tak pernah benar-benar sunyi. Ia muncul di ruang akademik, media sosial, hingga meja makan keluarga modern. Sebagian melihat Islam sebagai pembatas ruang gerak perempuan, sebagian lain memandangnya sebagai sistem yang justru mengangkat martabat perempuan. Di tengah tarik-menarik tafsir ini, pemikiran yang kerap disampaikan oleh Imam

Suatu bangsa bisa runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kalah dalam menjelaskan kebenaran. Kekalahan itu sunyi, tak berdarah, namun merambat pelan melalui kabut keraguan, simpang-siur informasi, dan kata-kata setengah hati dari mereka yang seharusnya berbicara. Di sinilah sebuah konsep penting mengemuka: Jihad Tabyin (Jihad Narasi) atau perjuangan dalam menjelaskan

Sejarah sering mengajarkan bahwa kekuatan dibangun dari senjata, strategi, dan keberanian. Namun ada pelajaran yang jarang disadari: banyak gerakan runtuh bukan karena kalah di medan perang, melainkan karena retak dari dalam. Imam Ali Khamenei qs memandang bahwa benteng sebuah gerakan tidak pertama-tama berdiri di atas kekuatan fisik, tetapi di atas

Lautan manusia bergerak dalam satu arus yang sama. Dari benua yang berjauhan, dari bahasa yang tak saling dimengerti, dari sejarah yang sering kali saling bertentangan—semuanya berkumpul di satu titik. Di tanah suci, dunia seakan dipadatkan menjadi satu ruang, satu waktu, satu arah. Pemandangan ini selalu memunculkan pertanyaan besar: apakah haji

Ada satu hal yang jarang kita akui dengan jujur: hati kita tidak selalu bersih. Ia mungkin tampak tenang di permukaan, tetapi di dalamnya tersimpan lapisan-lapisan yang tak kasatmata—cinta yang salah arah, kebencian yang berlebihan, keinginan yang tak terkendali, dan keterikatan yang diam-diam mengikat jiwa. Kita menjalaninya seperti biasa, tanpa merasa

Dari Liang Kubur Sa’ad bin Mu’adz, Pelajaran Besar tentang Profesionalisme dalam Islam Di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa, ketika pekerjaan kerap dipandang sekadar rutinitas yang harus segera selesai, sebuah kisah klasik dari sejarah Islam menghadirkan jeda yang menggetarkan. Bukan tentang perang besar, bukan pula tentang pidato politik, melainkan tentang

Tafsir إِیّاکَ نَعبُدُ Setelah kesadaran tentang “مٰلِکِ یَومِ الدّین” menegaskan bahwa seluruh hidup manusia akan bermuara pada satu hari pertanggungjawaban di bawah kekuasaan mutlak Tuhan, maka secara alami lahirlah satu sikap batin yang paling mendasar: penyerahan diri sepenuhnya. Dari titik inilah ayat beralih menjadi sebuah pernyataan yang tidak lagi sekadar