

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang terus berulang dalam sejarah umat manusia: sesuatu yang indah sering kali tersembunyi di balik prasangka, kesalahpahaman, atau bahkan kabut cerita-cerita yang tidak jelas asal-usulnya. Hal itu juga terjadi pada warisan intelektual dan spiritual Ahlul Bait. Banyak orang mengenal nama mereka, tetapi tidak sedikit yang belum

KHAMENEI.ID– Di dunia Islam, hampir tidak ada nama yang mampu menyatukan rasa hormat lintas mazhab seperti Ahlul Bait keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka dicintai, dimuliakan, dan dikenang dalam berbagai tradisi keislaman. Namun di balik penghormatan yang hampir universal itu, tersimpan satu pertanyaan penting: apakah mencintai Ahlul Bait sudah cukup? Pertanyaan

KHAMENEI.ID– Di abad yang memuja teknologi, manusia sering terpesona oleh satu hal: kemajuan. Negara yang maju dianggap negara yang menguasai ilmu pengetahuan. Universitas berlomba mengejar riset. Industri berlomba menciptakan inovasi. Masyarakat pun percaya bahwa semakin tinggi ilmu, semakin tinggi pula peradaban. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan: ilmu untuk apa?

KHAMENEI.ID– Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang indah. Masjid-masjid ramai oleh lantunan ayat suci. Suara tilawah menggema dari rumah, musala, hingga media sosial. Banyak orang menargetkan khatam Al-Qur’an satu kali, dua kali, bahkan lebih. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apa yang terjadi setelah Ramadan berlalu? Sering kali hubungan kita

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang cukup umum tentang zikir. Banyak orang mengira zikir hanya berarti melafalkan kalimat-kalimat suci: tasbih, tahmid, tahlil, atau takbir. Bibir bergerak, suara lirih terdengar, lalu selesai. Padahal, dalam tradisi Islam, makna zikir jauh lebih dalam dan lebih menantang daripada sekadar ucapan. Zikir sejati justru diuji pada

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang semakin bising, manusia modern menghadapi satu kenyataan yang sering luput disadari: bukan hanya tubuh yang bisa lelah, tetapi juga hati. Setiap hari, perhatian kita diperebutkan oleh berbagai hal, ambisi, hiburan, kekhawatiran, keinginan, dan godaan yang datang tanpa henti. Dalam situasi seperti itu, zikir atau mengingat

KHAMENEI.ID– Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering merasa dirinya sibuk tetapi kosong. Hari-hari dipenuhi rapat, target, notifikasi, dan berita yang datang tanpa jeda. Kita mengetahui banyak hal, tetapi sering kehilangan sesuatu yang paling mendasar: kesadaran tentang tujuan hidup. Dalam bahasa Al-Qur’an, keadaan itu disebut ghaflah kelalaian yang membuat manusia

Allah menciptakan fitrah perempuan itu lembut. Sebuah ilustrasi sederhana: ada jari tangan yang besar dan kasar—sangat baik untuk menggali batu dari tanah, tetapi untuk meraba permata yang sangat kecil mungkin tidak mampu mengambilnya. Sebaliknya, ada jari tangan yang lembut dan ramping—tidak mampu menggali batu, tetapi sangat lincah mengumpulkan serpihan permata

“Rumah tangga bukanlah medan kuasa, melainkan laboratorium cinta dengan dua ahli kimia yang berbeda: satu menangani logam, satu menangani kristal. Pernikahan yang harmonis bukan soal siapa yang menang, tapi soal bagaimana dua fitrah yang berbeda justru saling mengisi. Apa rahasianya? Simak pandangan mendalam Imam Ali Khamenei tentang keseimbangan hak, peran,

KHAMENEI.ID – Di banyak peringatan Idul Ghadir, perhatian umat Islam sering terfokus pada satu perdebatan klasik: siapa yang ditunjuk Nabi Muhammad saw sebagai penerus setelah beliau wafat? Namun dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, peristiwa Ghadir Khum menyimpan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan suksesi. Ghadir adalah deklarasi