

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID – Ada dua cara yang sama-sama dapat menghilangkan wajah asli Islam. Yang pertama adalah menjadikannya sekadar urusan sajadah, doa, dan hubungan pribadi dengan Allah swt. Yang kedua adalah mengubahnya menjadi semata-mata alat perebutan kekuasaan, tanpa akhlak, kasih sayang, dan penyucian jiwa. Keduanya tampak berlawanan, tetapi sesungguhnya berakhir pada titik yang

KHAMENEI.ID – Menurut Imam Ali Khamenei qs, kejayaan Islam tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari pembinaan manusia yang kemudian melahirkan masyarakat berperadaban. Ketika berbicara tentang lahirnya peradaban Islam, banyak orang langsung membayangkan penaklukan kota-kota besar, berdirinya pemerintahan Madinah, atau meluasnya wilayah kekuasaan kaum Muslim. Padahal, menurut beliau, semua itu hanyalah

KHAMENEI.ID – Selama berabad-abad, banyak orang menganggap agama cukup tinggal di ruang ibadah. Masjid mengurus salat, ulama mengurus doa, sementara negara berjalan dengan logikanya sendiri. Dalam pandangan seperti ini, Islam hanya dipahami sebagai hubungan pribadi antara manusia dan Tuhan. Ia menghibur hati, tetapi tidak mengatur masyarakat. Ia mengajarkan akhlak, tetapi

KHAMENEI.ID – Ada banyak peristiwa besar di dunia yang lahir dari perencanaan matang, anggaran promosi yang fantastis, dan kampanye media yang masif. Stadion dipenuhi melalui iklan, konser disesaki melalui pemasaran digital, dan agenda politik digerakkan oleh mesin propaganda. Namun ada sebuah fenomena yang terus berulang setiap tahun tanpa bergantung pada

Dalam pandangan Islam, perempuan tidak pernah ditempatkan sebagai figur pinggiran yang hanya menjadi pelengkap peradaban. Sebaliknya, Islam mengangkat derajat perempuan sebagai pelaku utama dalam peristiwa-peristiwa besar yang membentuk jalan sejarah umat manusia. Salah satu bukti paling nyata dari kebenaran ini adalah kepribadian agung Sayyidah Zainab Kubra, putri dari Amirul Mukminin

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa yang mengubah sejarah karena sebuah pengorbanan. Namun ada pula peristiwa yang tetap hidup berabad-abad karena seseorang menolak membiarkannya tenggelam dalam lupa. Tragedi Karbala adalah contoh paling nyata. Di sana, Imam Husain a.s gugur mempertahankan prinsip. Tetapi gema pengorbanan itu tidak berhenti di padang Karbala. Ia terus berdenyut

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah yang tidak pernah benar-benar berakhir. Waktunya memang berlalu, para pelakunya telah lama tiada, tetapi denyut maknanya terus hidup, menyeberangi generasi dan memasuki kehidupan orang-orang yang bahkan tidak pernah menyaksikannya secara langsung. Asyura adalah salah satu peristiwa semacam itu. Lebih dari sekadar tragedi, Karbala adalah

KHAMENEI.ID– Setiap peradaban memiliki momen-momen yang mengubah arah sejarah. Ada peristiwa yang tidak hanya mengguncang sebuah bangsa, tetapi juga meninggalkan jejak yang terus memengaruhi perjalanan manusia berabad-abad kemudian. Dalam pandangan Islam, salah satu momen terbesar itu adalah kelahiran Nabi Muhammad saw, sebuah peristiwa yang bukan sekadar kelahiran seorang manusia, melainkan

KHAMENEI.ID – Dua hari setelah tragedi Karbala, padang pasir masih menyimpan jejak darah para syuhada. Tubuh-tubuh mulia tergeletak tanpa kepala. Keluarga Rasulullah saw kehilangan pelindung mereka. Anak-anak menjadi yatim. Para perempuan menjadi tawanan. Di tengah suasana yang bagi manusia biasa hanya menyisakan kesedihan dan kehancuran, muncul seorang perempuan yang mengubah

KHAMENEI.ID – Sejarah menunjukkan bahwa menggulingkan sebuah rezim sering kali lebih mudah daripada menjaga ruh perubahan tetap hidup. Banyak bangsa berhasil melakukan revolusi. Mereka turun ke jalan, menumbangkan penguasa lama, mengubah konstitusi, bahkan membangun sistem politik baru. Namun setelah beberapa tahun berlalu, mereka mendapati sesuatu yang ironis: wajah-wajah mungkin berubah,









