

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID– Ada satu sisi dari kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s yang jarang dibicarakan. Orang mengenalnya sebagai ksatria yang tak terkalahkan, panglima perang yang disegani, sekaligus hakim yang adil dan pemimpin yang bijaksana. Namun di balik keberanian dan keteguhannya, ada seorang manusia yang berkali-kali menangis karena kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya.

KHAMENEI.ID– Lima puluh tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, sesuatu yang nyaris tak terbayangkan terjadi. Kursi yang dahulu diduduki seorang nabi yang membawa risalah tauhid dan keadilan kini ditempati oleh penguasa yang, menurut banyak catatan sejarah Islam, tenggelam dalam kemewahan, penyimpangan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Yang lebih mengejutkan bukanlah kemunculan penguasa

KHAMENEI.ID– Di tengah padang pasir yang terik, dalam perjalanan pulang dari haji terakhir Nabi Muhammad saw, sebuah peristiwa terjadi yang terus menggema melampaui batas zaman. Di sebuah tempat bernama Ghadir Khum, Nabi saw menghentikan ribuan pengikutnya. Di sana, di hadapan umat yang baru saja menyelesaikan ibadah terbesar dalam Islam, beliau

KHAMENEI.ID – Di tengah sejarah Islam yang dipenuhi tokoh-tokoh besar, ada satu sosok yang keagungannya melampaui batas-batas usia, gender, dan zaman. Ia bukan seorang panglima perang, bukan pula penguasa sebuah negeri. Namun ketika ia memasuki ruangan, manusia paling mulia di muka bumi berdiri menyambutnya. Bukan sekadar berdiri, tetapi melangkah mendekat

KHAMENEI.IR – Ada banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam yang berbicara tentang keberanian. Namun hanya sedikit yang berbicara tentang keberanian dengan harga yang begitu mahal: membawa orang-orang yang paling dicintai ke tengah medan pembuktian kebenaran. Di sinilah letak keistimewaan peristiwa Mubahalah. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Mubahalah bukan sekadar debat

KHAMENEI.ID– Ada tokoh-tokoh besar yang lahir dari sejarah panjang. Mereka ditempa oleh puluhan tahun pengalaman, diuji oleh berbagai zaman, lalu dikenang sebagai manusia luar biasa. Namun ada pula sosok yang menentang logika sejarah. Umurnya singkat, ruang geraknya terbatas, tetapi pengaruhnya melampaui abad demi abad. Fatimah Zahra a.s adalah salah satunya.

KHAMENEI.ID– Ada tokoh-tokoh yang dikenang karena kemenangan. Ada yang diingat karena kekuasaan. Ada pula yang bertahan dalam sejarah karena pengaruhnya. Namun, ada sedikit manusia yang melampaui semuanya yang bahkan setelah berabad-abad, namanya tetap hidup bukan karena propaganda, melainkan karena keagungan yang sulit disangkal. Ali bin Abi Thalib a.s adalah salah

KHAMENEI.ID – Di banyak peringatan Idul Ghadir, perhatian umat Islam sering terfokus pada satu perdebatan klasik: siapa yang ditunjuk Nabi Muhammad saw sebagai penerus setelah beliau wafat? Namun dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, peristiwa Ghadir Khum menyimpan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan suksesi. Ghadir adalah deklarasi

KHAMENEI.ID – Di tengah terik padang pasir yang membakar, ribuan orang berhenti melangkah. Mereka baru saja menyelesaikan Haji Wada’, haji terakhir Nabi Muhammad saw. Sebagian telah berjalan jauh meninggalkan rombongan, sebagian lain masih tertinggal di belakang. Namun pada hari itu, di sebuah tempat bernama Ghadir Khum, sejarah Islam seakan diminta

KHAMENEI.ID– Ada banyak tokoh besar dalam sejarah. Sebagian dikenang karena kemenangan politiknya, sebagian karena kecerdasannya, dan sebagian lagi karena keberaniannya di medan perang. Namun hanya sedikit sosok yang mampu memadukan semuanya sekaligus: ilmu, keberanian, spiritualitas, dan keadilan. Di antara sedikit nama itu, Ali bin Abi Thalib a.s berdiri sebagai salah