

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID – Setiap masyarakat selalu bergulat dengan satu pertanyaan yang sama: siapa yang berhak memimpin dan untuk apa kekuasaan digunakan? Sejarah manusia dipenuhi pergantian raja, presiden, panglima, dan penguasa. Namun, di tengah panjangnya perjalanan sejarah itu, ada satu peristiwa yang dalam pandangan Islam memiliki makna jauh melampaui penunjukan seorang pemimpin.

KHAMENEI.ID— Ada kematian yang selesai bersama pemakamannya. Ada pula kematian yang justru memulai penderitaan panjang sebuah zaman. Syahadah Ali bin Abi Thalib a.s termasuk yang kedua. Ia bukan sekadar tragedi sejarah yang dikenang setiap tanggal tertentu, lalu dilupakan setelah air mata mengering. Luka itu, dalam banyak hal, masih hidup sampai

KHAMENEI.ID— Ada momen-momen dalam hidup ketika manusia kalah bukan karena lawannya terlalu kuat, melainkan karena dirinya sudah lebih dulu merasa kecil. Rasa takut datang diam-diam, membesar di kepala, lalu melumpuhkan langkah sebelum pertempuran benar-benar dimulai. Di zaman modern, bentuknya bisa bermacam-macam: takut gagal, takut kehilangan pekerjaan, takut melawan ketidakadilan, atau

KHAMENEI.ID— Ada kematian yang berhenti di liang kubur. Ada pula kematian yang justru memulai sejarah panjang tentang perlawanan, ingatan, dan nurani manusia. Kesyahidan Imam Ali a.s dan Imam Husain a.s termasuk jenis yang kedua. Tubuh mereka memang terkubur, tetapi darah mereka terus bergerak melintasi zaman, menggugat kekuasaan, menampar kemunafikan, dan