Sebelum Mengurus Negara, Belajarlah Melihat Keseluruhannya 

KHAMENEI.ID– Sebuah negara tidak hanya bisa melemah karena konflik terbuka. Ia juga dapat tersendat oleh sesuatu yang jauh lebih sunyi: para pengelolanya tidak saling mengetahui apa yang sedang dikerjakan.

Di satu ruangan, pejabat pemerintahan berbicara tentang kebijakan ekonomi. Di ruangan lain, pejabat pertahanan menyusun strategi menghadapi ancaman. Di tempat berbeda, birokrat mengurus pelayanan publik, sementara lembaga lain mengejar target pembangunan. Semuanya bekerja untuk negara, tetapi belum tentu semuanya mengetahui kerja satu sama lain.

Di situlah persoalan koordinasi negara menjadi lebih dalam daripada sekadar urusan rapat dan laporan.

Gagasan semacam ini pernah mengemuka dalam pertemuan para pejabat dan mantan pejabat pemerintahan Iran. Pertemuan itu dipandang penting bukan semata karena banyak tokoh negara berkumpul dalam satu forum, melainkan karena perjumpaan semacam itu dapat menciptakan kesamaan pemahaman di antara para pengelola negara. Mereka bertemu, berbicara, saling menjelaskan, dan yang tak kalah penting, mengoreksi kesalahpahaman yang mungkin selama ini tumbuh di antara institusi.

Dalam negara yang kompleks, kesatuan tidak selalu lahir dari keseragaman. Ia sering kali justru dimulai dari kesediaan untuk saling mengetahui.

Kita terlalu sering membayangkan persatuan dalam bentuk simbol: satu bendera, satu slogan, satu panggung. Padahal dalam kehidupan pemerintahan, persatuan mempunyai bentuk yang jauh lebih sederhana dan praktis. Seorang pejabat perlu memahami apa yang dikerjakan pejabat lain. Sebuah lembaga perlu mengetahui arah lembaga lain. Pemerintah hari ini perlu belajar dari orang-orang yang pernah berada di dalam pemerintahan kemarin.

Tanpa itu, negara dapat berubah menjadi kumpulan pulau.

Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Masing-masing memiliki data, program, dan target. Masing-masing merasa sedang bekerja untuk kepentingan nasional. Namun karena tidak ada cukup jembatan di antara mereka, pengetahuan yang seharusnya menjadi milik bersama berhenti di dalam ruang masing-masing.

Baca Juga  Kehadiran Rakyat dalam Islam: Mengapa Kekuasaan Tak Pernah Berdiri Sendiri

Di titik ini, laporan menjadi penting. Bukan hanya sebagai dokumen administratif, melainkan sebagai cara sebuah negara memperlihatkan dirinya sendiri kepada para pengelolanya.

Laporan tentang pembangunan, kemajuan teknologi, pertahanan, ekonomi, atau pelayanan publik tidak semestinya hanya ditujukan kepada masyarakat. Para pejabat negara sendiri perlu mengetahuinya. Sebab bagaimana mungkin sebuah pemerintahan bergerak sebagai satu tubuh jika tangan kanan tidak tahu apa yang dilakukan tangan kiri?

Ada ironi dalam birokrasi modern. Informasi tersedia dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi pengetahuan bersama justru bisa tetap terbatas. Data tersimpan di server. Dokumen beredar melalui surat elektronik. Presentasi disusun dalam puluhan halaman. Rapat berlangsung setiap hari. Namun semua itu belum tentu menghasilkan pemahaman yang sama.

Pengetahuan bukan sekadar memiliki informasi. Pengetahuan juga berarti melihat hubungan antara satu pekerjaan dan pekerjaan lain.

Karena itu, gagasan tentang perlunya “tur” untuk memperlihatkan secara langsung berbagai capaian negara mengandung pesan yang lebih besar daripada yang tampak. Para pengambil kebijakan kadang perlu keluar dari meja mereka. Mereka perlu melihat sendiri bagaimana sebuah proyek berjalan, bagaimana sebuah teknologi dikembangkan, bagaimana pelayanan publik diberikan, atau bagaimana sebuah kebijakan bekerja di lapangan.

Sebab ada pengetahuan yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh dari laporan.

Ada perbedaan antara membaca bahwa sebuah program berhasil dan melihat keberhasilannya dengan mata sendiri. Ada jarak antara mengetahui angka produksi sebuah industri dan berdiri di dalam pabrik yang menghasilkan angka itu. Ada perbedaan antara membaca laporan tentang kemajuan suatu wilayah dan berbicara langsung dengan orang-orang yang menjalani perubahan tersebut.

Dalam konteks yang lebih luas, cara melihat semacam ini juga penting bagi hubungan antara negara dan masyarakat. Pemerintah tidak cukup hanya mengatakan bahwa sesuatu telah dilakukan. Ia perlu mampu menunjukkan apa yang telah dikerjakan, apa hasilnya, apa yang belum selesai, dan mengapa sebagian persoalan masih membutuhkan waktu.

Baca Juga  Fatimah Az-Zahra Membuktikan: Kemuliaan Tidak Lahir dari Darah Bangsawan 

Di sinilah transparansi bertemu dengan kepercayaan.

Masyarakat lebih mudah memahami sebuah negara ketika kerja pemerintah dapat diterangkan dengan bahasa yang konkret. Sebaliknya, pemerintah juga membutuhkan masyarakat yang memahami kenyataan di lapangan, bukan hanya potongan informasi yang beredar melalui perdebatan politik.

Pertemuan antara pejabat yang sedang menjabat dan mereka yang pernah memegang tanggung jawab sebelumnya juga memiliki arti tersendiri. Kekuasaan memang berganti tangan, tetapi pengalaman tidak semestinya ikut dibuang. Negara yang sehat tidak memperlakukan pergantian pemerintahan sebagai penghapusan ingatan.

Pengalaman masa lalu dapat menjadi cermin bagi keputusan hari ini.

Karena itu, perjumpaan lintas lembaga dan lintas masa pemerintahan bukan sekadar seremoni. Ia dapat menjadi ruang untuk mengumpulkan serpihan pengalaman yang tercecer: apa yang pernah dicoba, apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apa yang seharusnya tidak diulang.

Pada akhirnya, persoalan pemerintahan bukan hanya tentang siapa yang paling pintar mengambil keputusan. Negara membutuhkan orang-orang yang mampu melihat keseluruhan gambar.

Sebuah kementerian mungkin bekerja dengan sangat baik, tetapi keberhasilannya dapat kehilangan arti jika lembaga lain tidak mengetahuinya. Sebuah program mungkin menghasilkan kemajuan besar, tetapi dampaknya tidak akan maksimal jika tidak terhubung dengan kebijakan lain. Dan sebuah pemerintahan mungkin memiliki banyak pencapaian, tetapi semua itu dapat terasa jauh bagi masyarakat jika tidak pernah diterjemahkan menjadi pengalaman yang bisa dilihat dan dirasakan.

Negara, dengan demikian, bukan hanya mesin yang harus terus bergerak. Ia adalah jaringan manusia dan lembaga yang harus terus saling mengenal.

Mungkin karena itu sebuah pertemuan antarpengelola negara menjadi penting justru ketika dunia di luar ruangan sedang penuh dengan perbedaan. Di tengah banyaknya kepentingan, tafsir, dan prasangka, duduk bersama untuk mendengar pekerjaan orang lain adalah tindakan politik yang sederhana, tetapi mendasar.

Baca Juga  Saat Agama Menemukan Penjaganya: Makna Ghadir bagi Hati dan Umat 

Sebab terkadang yang dibutuhkan sebuah negara bukan lebih banyak suara, melainkan lebih banyak kesediaan untuk mendengar.

Dan sebelum berbicara tentang persatuan, mungkin ada pertanyaan yang lebih sederhana yang perlu dijawab oleh setiap pengelola negara: apakah kita sungguh tahu apa yang sedang dikerjakan oleh orang yang bekerja di sebelah kita?

Jika jawabannya belum, maka pekerjaan membangun negara barangkali belum dimulai dari kebijakan besar. Ia mungkin harus dimulai dari sebuah percakapan.

Bagikan:
Terkait
Komentar