Cara Islam Mengajarkan Kita Mencintai dan Membangun Dunia

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang sering berulang dalam cara sebagian orang memandang kehidupan. Dunia dianggap sebagai sesuatu yang rendah, penuh tipu daya, dan harus dijauhi. Kekayaan dicurigai, kemajuan dipandang dengan waswas, bahkan kenikmatan hidup kadang dianggap sebagai penghalang menuju Tuhan. Akibatnya, lahir pandangan bahwa semakin jauh seseorang dari urusan dunia, semakin dekat pula ia kepada kesalehan.

Namun benarkah demikian?

Dalam khazanah Islam, ternyata ada cara pandang lain yang jauh lebih seimbang. Dunia tidak selalu digambarkan sebagai musuh. Sebaliknya, ia sering dipandang sebagai ladang, ruang belajar, dan bahkan tempat bertransaksi untuk meraih kebahagiaan yang lebih besar. Masalahnya bukan pada dunia itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia memperlakukannya.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang penciptaan alam, nada yang digunakan bukanlah nada penolakan, melainkan pemberian. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 29)

Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendasar: bumi dan segala isinya diciptakan untuk dimanfaatkan manusia. Gunung, sungai, lautan, tanah subur, hutan, mineral, ilmu pengetahuan, hingga kemampuan berpikir manusia sendiri adalah bagian dari anugerah yang disediakan agar kehidupan berkembang.

Jika demikian, mengapa dunia harus dibenci?

Dunia pada hakikatnya adalah seluruh unsur yang membentuk kehidupan manusia. Umur yang kita jalani adalah dunia. Anak-anak yang kita cintai adalah dunia. Harta yang diperoleh dari kerja keras adalah dunia. Ilmu yang dipelajari bertahun-tahun adalah dunia. Bahkan sumber daya alam yang menjadi penopang peradaban juga bagian dari dunia.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Justru banyak ajaran Islam yang mendorong manusia untuk mengelola dan memakmurkan kehidupan. Membangun ekonomi, mengembangkan ilmu pengetahuan, menciptakan kemaslahatan sosial, serta memanfaatkan potensi alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Baca Juga  Kemuliaan yang Lahir dari Sujud: Pelajaran Abadi dari Kehidupan Fatimah Az-Zahra 

Karena itu, para ulama dan tokoh spiritual sering mengingatkan bahwa yang tercela bukanlah dunia, melainkan keterikatan berlebihan kepada dunia. Bukan hartanya yang menjadi masalah, melainkan ketika harta menguasai hati. Bukan jabatannya yang berbahaya, melainkan ketika jabatan membuat seseorang lupa pada keadilan dan kemanusiaan.

Pandangan ini tercermin dalam sebuah ungkapan terkenal yang diwariskan dalam tradisi Islam:

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ

“Dunia adalah ladang bagi akhirat.”

Perumpamaan ini sangat menarik. Ladang bukanlah tujuan akhir seorang petani. Namun tanpa ladang, ia tidak akan pernah menuai hasil panen. Ladang adalah tempat bekerja, berkeringat, menanam, merawat, dan bersabar.

Begitu pula kehidupan dunia. Ia bukan tujuan akhir manusia, tetapi juga bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Dunia adalah tempat menanam amal, menumbuhkan karakter, membangun peradaban, dan mengumpulkan bekal yang kelak akan dipanen di kehidupan berikutnya.

Perspektif yang lebih dalam lagi muncul dalam sebuah nasihat panjang dari Imam Ali a.s. Dikisahkan, beliau mendengar seseorang mencela dunia. Orang itu menganggap dunia sebagai sumber segala kesesatan dan penderitaan. Namun Imam Ali a.s justru menegurnya.

Beliau bertanya, mengapa seseorang menyalahkan dunia setelah dirinya sendiri yang terjebak dalam berbagai kesalahan? Kapan sebenarnya dunia pernah menipu manusia? Bukankah dunia sejak awal telah menunjukkan sifatnya yang fana?

Dunia tidak pernah menyembunyikan kenyataan bahwa semua yang hidup akan mati. Kuburan para ayah dan ibu, generasi demi generasi yang datang lalu pergi, semuanya merupakan pelajaran terbuka yang dapat dilihat setiap hari. Dunia tidak berbohong tentang kefanaannya. Manusialah yang sering menolak belajar darinya.

Dalam nasihat itu, Imam Ali a.s menggambarkan dunia dengan cara yang sangat mengejutkan. Beliau menyebut dunia sebagai rumah kejujuran bagi orang yang memahaminya, tempat keselamatan bagi mereka yang mengambil pelajaran, dan bahkan pasar para kekasih Tuhan.

Baca Juga  Cinta Dunia, Akar Segala Dosa: Pelajaran Abadi Imam Ali untuk Zaman yang Terobsesi Kepemilikan

Ungkapan yang paling menarik adalah ketika beliau menyebut dunia sebagai:

“Tempat perdagangan para wali Allah.”

Sebuah pasar adalah ruang aktivitas, bukan ruang pelarian. Di pasar, orang bekerja, berinteraksi, mengambil risiko, dan memperoleh keuntungan. Menurut Imam Ali a.s , para kekasih Tuhan justru meraih rahmat dan keuntungan spiritual mereka di tengah kehidupan dunia, bukan dengan melarikan diri darinya.

Pesan ini terasa sangat relevan bagi manusia modern.

Di tengah kemajuan teknologi, persaingan ekonomi, dan perubahan sosial yang cepat, sering muncul dua kecenderungan ekstrem. Sebagian orang tenggelam sepenuhnya dalam urusan materi hingga kehilangan arah hidup. Sebagian lainnya justru memusuhi dunia dan menganggap kemajuan sebagai ancaman bagi spiritualitas.

Padahal Islam menawarkan jalan tengah yang lebih realistis. Dunia bukan berhala yang harus disembah, tetapi juga bukan musuh yang harus dimusuhi. Ia adalah amanah yang harus dikelola.

Seorang ilmuwan yang menemukan teknologi bermanfaat sedang memanfaatkan dunia. Seorang guru yang mendidik generasi muda sedang memanfaatkan dunia. Seorang pengusaha yang menciptakan lapangan kerja sedang memanfaatkan dunia. Seorang ayah yang bekerja untuk keluarganya juga sedang memanfaatkan dunia.

Semua itu dapat menjadi bagian dari perjalanan spiritual jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar.

Pada akhirnya, dunia hanyalah cermin. Ia memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya. Bagi orang yang hanya mengejar kesenangan sesaat, dunia bisa menjadi jebakan. Namun bagi mereka yang mampu membaca maknanya, dunia berubah menjadi sekolah kebijaksanaan.

Mungkin karena itulah Imam Ali a.s menolak sikap yang terburu-buru mencela dunia. Dunia telah berbicara melalui pergantian siang dan malam, melalui kelahiran dan kematian, melalui keberhasilan dan kegagalan. Ia terus mengingatkan manusia tentang keterbatasannya sekaligus membuka peluang untuk bertumbuh.

Baca Juga  Diam di Hadapan Kezaliman: Mengapa Imam Husain Mengajarkan bahwa Netralitas Bisa Menjadi Dosa

Maka persoalannya bukan apakah kita harus meninggalkan dunia atau mencintainya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, atau sebagai jalan menuju tujuan yang lebih tinggi?

Di situlah letak perbedaannya. Dunia yang sama bisa menjadi penjara bagi sebagian orang, tetapi menjadi ladang surga bagi yang lain.

Bagikan:
Terkait
Komentar