Fitnah dan Kaburnya Kebenaran: Mengapa Membuka Fakta adalah Jalan Melawannya

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika kebohongan tidak datang dengan wajah yang buruk. Ia justru mengenakan pakaian kebenaran, mengutip kata-kata yang benar, mengangkat simbol-simbol yang suci, bahkan berbicara atas nama agama dan keadilan. Pada saat seperti itulah masyarakat memasuki wilayah yang paling berbahaya: fitnah. Bukan sekadar tuduhan palsu, melainkan keadaan ketika batas antara yang hak dan yang batil menjadi kabur.

Di tengah situasi seperti itu, Imam Ali bin Abi Thalib a.s menawarkan satu pelajaran yang terasa sangat relevan hingga hari ini. Menurut beliau, fitnah tidak selalu lahir dari kekuatan kebatilan semata. Justru ia menjadi kuat karena mampu mencampurkan sedikit kebenaran dengan banyak kepalsuan. Campuran itulah yang membuat orang kehilangan arah.

Dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali a.s menggambarkan akar persoalan ini dengan kalimat yang sangat mendalam:

إِنَّمَا بَدْءُ وُقُوعِ الْفِتَنِ أَهْوَاءٌ تُتَّبَعُ وَأَحْكَامٌ تُبْتَدَعُ يُخَالَفُ فِيهَا كِتَابُ اللَّهِ… وَلَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هَذَا ضِغْثٌ وَمِنْ هَذَا ضِغْثٌ فَيُمْزَجَانِ، فَهُنَالِكَ يَسْتَوْلِي الشَّيْطَانُ عَلَى أَوْلِيَائِهِ

“Sesungguhnya awal munculnya fitnah adalah ketika hawa nafsu diikuti dan aturan-aturan baru diciptakan sehingga bertentangan dengan Kitab Allah. (Seandainya kebatilan berdiri sendiri, niscaya orang mudah mengenalinya. Seandainya kebenaran tampil murni tanpa bercampur dengan kebatilan, para penentang pun kehilangan alasan). Akan tetapi, sebagian diambil dari yang benar dan sebagian dari yang batil, lalu keduanya dicampurkan. Di situlah setan menguasai para pengikutnya”

Kalimat ini mengandung satu kenyataan yang sering luput disadari. Kebatilan hampir tidak pernah berhasil jika tampil apa adanya. Ia membutuhkan serpihan-serpihan kebenaran agar tampak meyakinkan. Sebuah propaganda akan lebih mudah dipercaya bila diselipi fakta. Sebuah kebohongan menjadi kuat ketika dibungkus dengan slogan yang benar. Sebuah kezaliman sering kali mencari legitimasi melalui simbol-simbol yang dihormati masyarakat.

Baca Juga  Haji Bara’ah: Ketika Ibadah Menjadi Pernyataan Sikap terhadap Penindasan

Di titik inilah fitnah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar konflik. Ia menciptakan kabut. Orang baik mulai saling mencurigai. Sahabat berubah menjadi lawan. Musuh justru tampak sebagai sekutu. Yang lantang berbicara belum tentu berada di pihak kebenaran, sementara yang diam belum tentu bersalah.

Imam Ali melukiskan keadaan itu dengan bahasa yang sangat puitis ketika menggambarkan dunia sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. Beliau berkata bahwa manusia hidup di tengah fitnah yang menginjak mereka dengan kaki-kakinya, menghancurkan mereka dengan kuku-kukunya, lalu berdiri tegak di atas kepala mereka. Dalam keadaan seperti itu, manusia kehilangan arah. Tidur mereka berubah menjadi keterjagaan yang melelahkan, sedangkan celak mata mereka adalah air mata.

Gambaran tersebut bukan sekadar deskripsi sejarah. Ia adalah potret setiap masyarakat yang kehilangan kejernihan dalam membedakan benar dan salah. Ketika informasi saling bertabrakan, ketika opini lebih dihargai daripada fakta, ketika emosi mengalahkan akal sehat, fitnah sedang bekerja dengan sangat efektif.

Karena itu, Imam Ali a.s tidak hanya menjelaskan apa itu fitnah. Beliau juga menunjukkan cara menghadapinya. Menariknya, obat yang beliau pilih bukanlah memperbanyak slogan, bukan pula membalas propaganda dengan propaganda. Yang beliau lakukan adalah membuka tabir.

Selama masa pemerintahannya, Imam Ali a.s berkali-kali menjelaskan siapa yang memulai konflik, apa motif di balik pemberontakan, dan bagaimana berbagai kelompok menggunakan simbol agama untuk kepentingan politik. Beliau berbicara tentang Muawiyah, Talhah, Zubair, Aisyah, maupun Khawarij bukan semata-mata untuk menyerang pribadi mereka. Yang beliau lakukan adalah memperjelas wajah sebuah persoalan agar masyarakat tidak terjebak dalam kabut.

Di sinilah letak pelajaran pentingnya. Fitnah tumbuh subur di tempat yang gelap. Ia berkembang ketika fakta disembunyikan, identitas disamarkan, dan kepentingan dibungkus dengan kata-kata yang indah. Sebaliknya, ketika kenyataan diungkap secara jujur, ruang gerak fitnah mulai menyempit.

Baca Juga  Doa: Inti Ibadah yang Mengubah Manusia dari Dalam

Namun, membuka fakta tentu bukan berarti menyebarkan aib atau membangun sensasi. Yang dimaksud Imam Ali a.s adalah menjelaskan persoalan dengan jernih sehingga masyarakat mampu melihat siapa yang sedang membela nilai dan siapa yang sekadar memanfaatkan nilai. Tujuannya bukan memperbesar permusuhan, melainkan mengembalikan kemampuan manusia untuk membedakan cahaya dari bayang-bayangnya.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini terasa semakin mendesak pada era media digital. Informasi beredar dalam hitungan detik. Potongan video, kutipan yang dipenggal, gambar yang dimanipulasi, hingga narasi yang sengaja dibangun dapat membentuk opini sebelum kebenaran sempat berbicara. Di ruang seperti itu, fitnah tidak lagi bergerak di medan perang, melainkan melalui layar telepon genggam.

Yang membuat keadaan semakin rumit adalah kenyataan bahwa hampir semua narasi modern mengklaim membawa kebenaran. Setiap kelompok memiliki dalil, data, bahkan simbol moralnya sendiri. Persis seperti yang digambarkan Imam Ali a.s berabad-abad lalu, sebagian kebenaran dicampur dengan sebagian kebatilan hingga keduanya sulit dipisahkan.

Karena itu, keberanian terbesar bukan hanya membela apa yang diyakini benar, melainkan terus-menerus menguji apakah kebenaran itu masih utuh atau sudah bercampur dengan kepentingan, fanatisme, dan hawa nafsu. Sebab fitnah tidak selalu datang dari luar diri. Ia juga bisa lahir ketika seseorang lebih mencintai kelompoknya daripada kebenaran itu sendiri.

Pada akhirnya, pelajaran Imam Ali a.s mengingatkan bahwa pertempuran melawan fitnah bukan pertama-tama dilakukan dengan kekuatan, melainkan dengan kejernihan. Ketika fakta diterangi, ketika wajah-wajah yang bersembunyi di balik simbol mulai tampak, dan ketika masyarakat kembali mampu membedakan hak dari batil, fitnah kehilangan tanah tempatnya bertumbuh.

Mungkin itulah sebabnya mengapa membuka tabir kenyataan selalu menjadi tindakan yang menakutkan bagi para pembuat fitnah. Sebab kebohongan hanya dapat hidup selama kebenaran masih tertutup debu.

Baca Juga  Ketika Cahaya Islam Menembus Kegelapan Jazirah Arab
Bagikan:
Terkait
Komentar