Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs dalam Pertemuan dengan Peserta Sidang ke-17 tentang Shalat
Apresiasi terhadap Gerakan Tabligh Shalat
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pertama-tama, saya secara tulus dan mendalam mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara lelaki dan perempuan yang bertanggung jawab dalam upaya menyebarkan (mempromosikan) shalat. Di mana pun ini adalah hal yang baik dan bernilai; khususnya di universitas-universitas.
Saya memohon kepada Allah Swt. agar memberikan kepada Anda sekalian, kepada Bapak Qara’ati, serta para pelaksana lainnya dalam pekerjaan besar ini—yang telah memiliki tekad dan menanam “pohon yang baik” ini di bumi, dan alhamdulillah hari ini telah berbuah dengan baik—taufik dan umur panjang, sehingga insyaAllah mereka dapat melanjutkan pekerjaan ini.
Pentingnya menegakkan shalat dan menyebarkannya bersumber dari pentingnya shalat itu sendiri. Ketika kita melihat dalam syariat suci Islam begitu banyak dorongan, anjuran, dan perhatian terhadap shalat—baik dalam Al-Qur’an, dalam sabda Nabi yang mulia, maupun dalam ucapan para maksum—kita memahami bahwa shalat, di antara keseluruhan “obat” untuk menyembuhkan penyakit jasmani, rohani, individu, dan sosial manusia, adalah unsur utama atau salah satu unsur yang paling utama.
Seluruh kewajiban syariat dan menjauhi semua yang diharamkan membentuk satu rangkaian “obat” yang diresepkan oleh Tuhan untuk memperkuat jiwa dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat manusia—perbaikan masyarakat dan individu. Namun dalam rangkaian ini terdapat unsur-unsur kunci, dan dapat dikatakan bahwa shalat adalah yang paling kunci di antara unsur-unsur tersebut.
Shalat sebagai Pilar Kekuasaan dan Peradaban
«الَّذینَ إِن مَكَّنّاهُم فِی الأَرضِ أَقامُوا الصَّلاةَ»
“(Yaitu) orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan shalat.” (QS. Al-Hajj: 41)
Orang-orang beriman, para pejuang di jalan Allah, dan para pengorban di jalan penguatan ajaran Ilahi adalah seperti ini: ketika “Kami memberi mereka kekuasaan di bumi”, banyak hal yang harus mereka lakukan—menegakkan keadilan dan lain-lain—namun hal pertama adalah: “mereka mendirikan shalat.”
Apa rahasia dalam shalat sehingga penegakannya begitu penting?
Tentang shalat telah banyak dibahas. Setiap manusia memiliki dalam dirinya suatu nafsu yang liar, seperti gajah mabuk. Jika Anda menjaganya dan terus-menerus memukulnya (mengendalikannya), ia tidak akan membinasakan Anda; perilakunya akan terkendali, bahkan justru menjadi sarana kemajuan Anda.
Nafsu adalah kumpulan dorongan instingtif manusia. Jika dorongan ini dikendalikan dengan benar, diarahkan pada jalan yang tepat, dan digunakan secara benar, maka ia akan mengantarkan manusia ke puncak kesempurnaan. Masalahnya adalah ketika ia “mabuk” (tidak terkendali). Maka harus ada pengendali.
Jika di dunia ada kezaliman, itu akibat mabuknya hawa nafsu satu atau beberapa orang atau kelompok. Jika ada perbuatan keji, demikian juga. Jika ada penghinaan terhadap manusia dan perampasan martabat manusia, demikian juga. Jika ada kemiskinan—bahkan sebagian besar masyarakat dunia hidup dalam kekurangan nikmat Ilahi—itu juga karena hal yang sama.
Hawa nafsu kelompok zalim melahirkan kezaliman. Kelompok arogan melahirkan penindasan. Kelompok yang serakah dan tanpa belas kasihan melahirkan kemiskinan dan kelaparan.
Hawa nafsu inilah yang sejak awal sejarah hingga kini menyebabkan berbagai kerusakan di dunia. Dan semakin manusia maju dalam menggunakan kemampuan yang Allah titipkan padanya, kerusakan ini bukan berkurang, tetapi justru bertambah:
«چو دزدی با چراغ آید گزیدهتر برد کالا»
“Jika pencuri datang dengan lampu, ia akan lebih teliti dalam mencuri.”
Seorang zalim yang memiliki bom atom berbeda dengan yang hanya memiliki pedang. Hawa nafsu menjadi semakin berbahaya.
Hal seperti ini ada dalam diri setiap manusia. Semua manusia memiliki “gajah mabuk” dalam dirinya yang harus dikendalikan. Pengendalian ini dilakukan dengan mengingat Allah (dzikrullah); dengan merasa membutuhkan Tuhan; dengan merasakan kehinaan diri di hadapan keagungan-Nya; dan dengan menyadari keburukan diri di hadapan keindahan mutlak Allah. Semua ini bersumber dari dzikir.
Manusia yang bertakwa adalah yang selalu menjaga dirinya dan selalu ingat (kepada Allah), sehingga ia tidak menjadi sumber kejahatan, kezaliman, dan kerusakan. Dzikir Ilahi terus-menerus melarangnya dan menahannya.
Dzikir dan Shalat sebagai Pengendali Nafsu
«إِنَّ الصَّلاةَ تَنهىٰ عَنِ الفَحشاءِ وَالمُنكَرِ»
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Makna “mencegah” bukan berarti mengikat tangan dan kaki manusia atau mematikan naluri. Sebagian orang mengira bahwa jika shalat, maka otomatis kemungkaran hilang. Tidak. Maksudnya adalah bahwa ketika Anda shalat, “penasihat batin” dalam diri Anda—yang hidup melalui shalat—terus-menerus mengingatkan Anda tentang keburukan perbuatan keji dan mungkar. Pengulangan ini berpengaruh dan membuat hati menjadi tunduk dan khusyuk.
Karena itu shalat harus diulang: puasa setahun sekali; haji seumur hidup sekali; tetapi shalat, setiap hari beberapa kali.
Di sinilah letak pentingnya shalat.
Jika shalat ditegakkan, maka dari dalam diri manusia hingga tingkat masyarakat dan bahkan pemerintahan—betapapun besar masyarakat itu—akan tercipta keamanan. Hati manusia aman, tubuh manusia aman, dan masyarakat pun aman. Inilah efek shalat.
Tugas Anda—yang mengelola lembaga penegakan dan penyebaran shalat di berbagai tempat dan kalangan, terutama di kalangan pemuda dan mahasiswa—adalah membawa masyarakat kepada keadaan “ingat kepada Allah” secara kolektif.
Sebagian besar dosa kita berasal dari kelalaian. Shalat yang terus diulang ini menghilangkan kelalaian tersebut.
Jasad dan Ruh Shalat: Jangan Kosong dari Makna
Telah banyak dibicarakan bahwa shalat memiliki jasad (lahir) dan ruh (batin). Ini harus diperhatikan. Shalat memiliki bentuk dan makna. Kita harus berhati-hati agar jasad shalat tidak kosong dari ruhnya.
Kami tidak mengatakan bahwa shalat tanpa ruh tidak memiliki efek sama sekali—tetap ada sedikit efek. Namun shalat yang ditekankan oleh Islam, Al-Qur’an, Nabi, dan para Imam adalah shalat yang jasad dan ruhnya sempurna.
Bentuk shalat—bacaan, rukuk, sujud, meletakkan dahi di tanah, mengangkat tangan, membaca keras atau pelan—semua itu dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ruhani tertentu. Setiap bagian memiliki rahasia masing-masing.
Namun ruh shalat adalah perhatian (kesadaran penuh). Kita harus tahu apa yang sedang kita lakukan. Shalat tanpa perhatian—sebagaimana disebutkan—pengaruhnya kecil.
Seseorang dapat menggunakan sebuah berlian berharga dengan dua cara:
- Sebagai permata berharga
- Atau sebagai batu timbangan untuk menimbang lada dan kunyit!
Ini juga penggunaan, tetapi penggunaan yang tidak layak. Demikian pula shalat—ia sangat berharga, jangan diperlakukan seperti itu.
Kadang seseorang shalat seperti rutinitas harian—seperti menggosok gigi atau berolahraga. Kadang ia shalat dengan perasaan hadir di hadapan Tuhan. Ini berbeda.
Kita selalu berada di hadapan Tuhan—baik sadar atau lalai. Namun dalam shalat, kita harus dengan sadar menghadap-Nya: bersuci, mempersiapkan diri, dan merasa hadir di hadapan-Nya.
Bukan sekadar mengucapkan kata-kata seperti:
«الحمد للَّه ربّ العالمین، الرّحمن الرّحیم، مالک یوم الدین…»
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan…”
Tanpa perhatian, itu hanya gelombang suara di udara. Yang diminta adalah menghadirkan hati kepada Allah dan berbicara dari hati.
Ruh ini tidak dapat dicapai tanpa jasad. Tidak bisa seseorang berkata: “Saya cukup berdzikir saja dan tidak perlu shalat.” Tidak. Bentuk shalat itu diperlukan.
Dalam riwayat, bahkan dianjurkan hal-hal kecil: ke mana melihat saat berdiri, sujud, atau rukuk. Semua ini membantu menghadirkan perhatian.
Pentingnya shalat sangat besar. Imam Shadiq (as) bersabda:
«لَیْسَ مِنّا مَنِ اسْتَخَفَّ بِالصَّلاةِ»
“Bukan dari golongan kami orang yang meremehkan shalat.”
Shalat wajib (17 rakaat) jika dilakukan dengan baik hanya memerlukan sekitar 30–34 menit. Sementara kita sering menghabiskan waktu lebih lama untuk hal-hal yang tidak penting.
Tanda Kemunafikan dalam Shalat
Di kalangan pemuda, perhatian terhadap shalat harus lebih besar. Shalat memberi cahaya hati, harapan, dan kebahagiaan batin. Jika seseorang shalat dengan perhatian, ia akan merasakan kenikmatan yang tidak ada dalam kenikmatan materi.
Sebaliknya, rasa malas dalam shalat adalah ciri kemunafikan:
«وَإِذا قاموا إِلَى الصَّلاةِ قاموا كُسالىٰ یُراؤُنَ النّاس»
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas dan ingin dilihat manusia.” (QS. An-Nisa: 142)
Pemuda harus dibiasakan shalat dengan baik sejak dini. Shalat yang baik bukan sekadar suara yang indah, tetapi shalat dengan kehadiran hati.
Masalah kekurangan masjid dan tempat shalat di pusat-pusat keramaian harus diperhatikan pemerintah. Dalam setiap proyek besar—metro, stasiun, bandara, perumahan—harus ada masjid atau tempat shalat.
Seperti tidak mungkin ada kota tanpa jalan, demikian pula tidak seharusnya ada kota tanpa masjid.
Dalam perjalanan seperti penerbangan, jadwal harus memperhatikan waktu shalat. Jika tidak memungkinkan, fasilitas shalat di pesawat harus disediakan.
Dibanding sebelum revolusi, kondisi sekarang jauh lebih baik, tetapi masih perlu peningkatan. Tanda-tanda Islam—seperti azan dan masjid—harus tampak jelas di kota-kota.
Semoga Allah memberikan taufik. Pekerjaan terkait shalat adalah pekerjaan besar. Semoga semua yang terlibat termasuk dalam golongan:
«وَالمُقیمینَ الصَّلاةَ»
“Orang-orang yang mendirikan salat.” (QS. An-Nisa: 162)
Semoga Allah memberi kita semua keberkahan dari shalat.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Shalat part 2: Batas Menutup Aurat Dalam Shalat
Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)







