

KHAMENEI.ID – Ada yang lebih berbahaya daripada melakukan kesalahan: kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang salah. Sebab, selama seseorang masih bersedia menegur dirinya sendiri, masih ada pintu yang terbuka untuk kembali. Namun, ketika suara hati mulai bungkam, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan, kebiasaan menjelma pembenaran dan pembenaran perlahan membentuk watak

KHAMENEI.ID– Ada kecenderungan menarik dalam cara manusia memaknai kemenangan. Kita sering mengukurnya dari hasil akhir: jabatan yang diraih, bisnis yang berkembang, persoalan yang terselesaikan, atau lawan yang berhasil dikalahkan. Padahal, dalam pandangan Al-Qur’an, kemenangan tidak pernah lahir begitu saja. Ia tumbuh dari kualitas batin yang membentuk cara seseorang menjalani hidup: iman

KHAMENEI.ID– Di tengah sejarah Islam yang dipenuhi peristiwa besar, ada satu momentum yang terus mengundang perbincangan lintas abad: Ghadir Khum. Sebagian orang mendekatinya sebagai bagian dari sejarah, sebagian lain melihatnya sebagai fondasi kepemimpinan spiritual setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Namun, di balik beragam penafsiran itu, ada satu hal yang sulit dibantah:

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus berulang dari masa ke masa: Al-Qur’an hanya berbicara tentang salat, puasa, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Selebihnya; politik, ekonomi, keluarga, ilmu pengetahuan, bahkan cara berjalan dan berbicara dianggap wilayah yang harus diatur oleh akal manusia semata. Pandangan semacam ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengerdilkan cakrawala Al-Qur’an.

KHAMENEI.ID– Di mata manusia, kepemimpinan sering kali diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki seseorang. Semakin luas wilayah yang dipimpin, semakin tinggi pula kedudukannya. Namun, Al-Qur’an memperkenalkan satu jenis kepemimpinan yang sama sekali berbeda. Ia tidak lahir dari pemilihan, warisan politik, ataupun kemenangan di medan perang. Ia adalah amanah ilahi yang

KHAMENEI.ID– Ada keyakinan yang sering mengendap dalam benak banyak orang: urusan negara adalah urusan penguasa. Ketika keadaan memburuk, yang disalahkan adalah pemerintah. Ketika keadilan terasa menjauh, masyarakat merasa cukup menjadi penonton yang mengeluh dari kejauhan. Padahal, dalam pandangan Islam, nasib sebuah masyarakat tidak pernah hanya berada di tangan pemimpinnya. Rakyat bukan

KHAMENEI.ID– Tidak semua orang menunggu kematian dengan tenang. Sebagian besar manusia menghindarinya, menundanya dalam percakapan, bahkan mengusir bayangannya dari pikiran. Namun dalam sejarah Islam, ada seorang manusia yang justru menantikan kematian tertentu dengan kerinduan yang nyaris tak dapat dipahami: syahadah. Bagi Imam Ali bin Abi Thalib a.s, kematian bukan akhir perjalanan,

KHAMENEI.ID– Ada orang yang berbicara panjang tentang agama, tetapi kata-katanya cepat terlupakan. Ada pula orang yang nyaris tak banyak berbicara, namun kehadirannya saja sudah mengubah suasana. Wajahnya tenang, sikapnya rendah hati, dan cara hidupnya menghadirkan sesuatu yang sulit dijelaskan: orang lain tiba-tiba teringat kepada Tuhan. Barangkali, inilah salah satu bentuk dakwah

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang cukup mengakar di tengah masyarakat: semakin tersembunyi sebuah amal, semakin tinggi nilainya. Sebaliknya, ketika sebuah kebaikan dipublikasikan, muncul kecurigaan bahwa di baliknya terselip hasrat mencari pujian. Pandangan ini membuat banyak orang berada dalam dilema. Haruskah setiap amal disembunyikan demi menjaga keikhlasan? Ataukah ada saat ketika sebuah kebaikan

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang masih sering bertahan hingga kini: ajaran Ahlul Bait hanya berbicara tentang ibadah, doa, atau persoalan spiritual. Seolah-olah warisan mereka hanya mengisi ruang-ruang masjid dan majelis taklim, lalu berhenti ketika manusia kembali berhadapan dengan urusan keluarga, pekerjaan, masyarakat, hingga tata kelola negara. Padahal, jika menelusuri jejak para Imam

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang telah lama hidup di benak banyak orang: agama seharusnya berbicara tentang surga, sedangkan politik mengurus dunia. Masjid dianggap tempat ibadah, sementara persoalan geopolitik, perang, ekonomi, dan hubungan internasional seolah bukan bagian dari mimbar keagamaan. Cara pandang seperti ini membuat agama tampak sunyi di hadapan berbagai persoalan besar









