

KHAMENEI.ID – Ada yang lebih berbahaya daripada melakukan kesalahan: kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang salah. Sebab, selama seseorang masih bersedia menegur dirinya sendiri, masih ada pintu yang terbuka untuk kembali. Namun, ketika suara hati mulai bungkam, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan, kebiasaan menjelma pembenaran dan pembenaran perlahan membentuk watak

KHAMENEI.ID– Ada ibadah yang agung karena kemegahannya. Ada pula yang justru membentuk manusia karena kesetiaannya untuk terus diulang. Shalat Jumat termasuk yang kedua. Ia tidak hadir sebagai peristiwa besar yang hanya sesekali datang, melainkan sebagai janji yang terus diperbarui setiap pekan. Di situlah letak kekuatannya: bukan sekadar mengumpulkan manusia dalam satu

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang sering berulang dalam kehidupan beragama: jika Tuhan memang menghendaki sesuatu tetap hidup, maka manusia tidak perlu bersusah payah menjaganya. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Para syuhada akan selalu dikenang. Nilai-nilai luhur tidak akan pernah hilang. Namun sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak kebenaran terkubur bukan karena

KHAMENEI.ID– Tidak ada yang lebih dekat dengan manusia selain keluarganya. Seorang ayah rela bekerja tanpa mengenal lelah demi anak-anaknya. Seorang ibu sanggup mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanannya demi orang-orang yang dicintainya. Di dalam rumah, cinta menemukan bentuknya yang paling nyata: perhatian, pengorbanan, dan kesetiaan. Namun agama sesekali mengajukan pertanyaan yang tidak

KHAMENEI.ID– Ada sebuah ironi yang terus berulang dalam sejarah kawasan Timur Tengah. Atas nama keamanan, pasukan asing datang. Atas nama stabilitas, pangkalan militer dibangun. Atas nama perdamaian, persenjataan terus ditambah. Namun yang tertinggal justru kota-kota yang porak-poranda, hubungan antarnegara yang memburuk, dan masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang konflik yang tak kunjung

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia justru semakin mudah kehilangan arah. Kita diburu tuntutan untuk segera berhasil, terdorong memenangkan perdebatan, dan sering kali merasa benar tanpa sempat bertanya apakah kita masih berlaku adil kepada orang lain. Di ruang digital, emosi lebih cepat menyebar daripada kebenaran. Dalam situasi seperti

KHAMENEI.ID– Di banyak ruang publik hari ini, agama kerap didorong untuk tinggal di sudut yang paling pribadi. Ia dipersilakan mengisi hati, menghibur jiwa, dan menemani doa-doa malam, tetapi diminta berhenti sebelum memasuki urusan masyarakat, keadilan, ekonomi, atau tata kelola kehidupan. Seolah-olah agama hanya pantas berbicara tentang surga, sementara bumi harus diserahkan

KHAMENEI.ID– Ada tokoh yang dikenang karena jabatan. Ada yang diingat karena kemenangan di medan perang. Namun ada pula sosok yang melampaui riwayat hidupnya sendiri, hingga namanya berubah menjadi sebuah cara berpikir, sebuah jalan hidup, bahkan sebuah mazhab. Qasem Soleimani termasuk dalam kategori terakhir. Yang diwariskannya bukan sekadar kisah kepahlawanan, melainkan seperangkat

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika berkumpul untuk membicarakan ajaran Ahlul Bait bukan sekadar kegiatan keagamaan. Ia adalah tindakan yang bisa mengantar seseorang ke penjara, pengasingan, bahkan kematian. Pada masa itu, setiap majelis kecil yang memperbincangkan nilai-nilai Islam yang diwariskan keluarga Nabi saw menjadi ruang perlawanan terhadap kekuasaan yang berusaha membungkam kebenaran. Karena

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah pertemuan kecil lebih berharga daripada sebuah panggung besar. Sekelompok orang duduk melingkar, saling bertukar cerita, mengenang keteladanan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang nyaris tenggelam oleh arus zaman. Dari luar, ia tampak seperti perjumpaan biasa. Namun dari dalam, ia adalah ruang yang menjaga ingatan kolektif sebuah umat.

KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tak dapat dihibur oleh kata-kata manusia. Ada pula duka yang justru disentuh oleh langit. Begitulah tradisi Islam menggambarkan hari-hari terakhir kehidupan Sayidah Fatimah a.s setelah wafatnya Rasulullah saw. Putri tercinta Nabi saw itu hanya hidup sekitar 75 hari setelah kepergian ayahnya. Hari-hari itu dipenuhi kesedihan yang begitu