

KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tidak lahir karena kekalahan. Ia justru muncul ketika kemenangan telah lewat, peperangan telah usai, tetapi sahabat-sahabat seperjuangan satu per satu telah tiada. Kesedihan semacam itulah yang pernah menyelimuti hati Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Bukan kesedihan seorang pemimpin yang kehilangan kekuasaan, melainkan duka seorang manusia yang

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang sering kita jumpai dalam percakapan sehari-hari. Di satu sisi, kita bangga dengan produk dalam negeri dan menyerukan agar masyarakat mencintai hasil karya bangsa sendiri. Namun di sisi lain, ketika hendak membeli sesuatu, tak sedikit orang yang justru mencari merek luar negeri karena dianggap lebih terpercaya. Di

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan yang kian menguat di ruang publik kita: menilai segala sesuatu hanya dari hasil yang tampak. Ketika sebuah program berhasil, pujian mengalir. Ketika ada kekurangan, kritik datang bertubi-tubi. Dalam suasana seperti itu, sering kali satu hal yang tak terlihat justru luput dari perhatian: niat. Padahal, dalam kehidupan

KHAMENEI.ID– Sudah lebih dari enam dekade, Palestina menjadi luka yang tak kunjung sembuh di tubuh dunia Islam. Generasi berganti, pemimpin datang dan pergi, rezim tumbang lalu digantikan rezim baru, tetapi satu kenyataan tetap bertahan: penderitaan rakyat Palestina terus berlangsung di hadapan mata dunia. Yang lebih menyakitkan bukan hanya karena tragedi

KHAMENEI.ID– Di ruang publik, perdebatan tentang kekuasaan hampir selalu berakhir pada kecurigaan. Ketika seseorang mendekati pemerintahan, memasuki lingkaran pengambil keputusan, atau mendukung sebuah sistem politik, tidak sedikit yang langsung menuduhnya sedang mengejar dunia. Seolah-olah kekuasaan adalah wilayah yang secara otomatis mencemari kesucian niat. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Yang sering

KHAMENEI.ID – Perang ideologi tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berganti nama. Ketika Uni Soviet runtuh pada awal 1990-an, banyak pengamat Barat mengira sejarah telah mencapai titik akhirnya. Liberalisme dan demokrasi liberal dinyatakan sebagai pemenang mutlak. Tidak ada lagi rival besar yang dianggap mampu menandingi model politik dan ekonomi Barat.

KHAMENEI.ID – Tidak banyak bangsa yang dijajah hanya karena kalah perang. Sebagian besar justru kehilangan kemandiriannya jauh sebelum peluru pertama ditembakkan. Mereka tertinggal dalam ilmu pengetahuan, bergantung pada teknologi asing, dan perlahan kehilangan kemampuan menentukan nasibnya sendiri. Dalam dunia modern, kekuasaan tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tentara atau luas wilayah.

Dalam momentum kelahiran Zainab Kubra, sosok perempuan agung dalam sejarah Islam, kita diajak untuk merenungkan kembali penghargaan mendalam terhadap para pelayan kemanusiaan. Para perawat, dokter, dan tenaga medis yang setiap hari berhadapan langsung dengan penderitaan dan kesulitan, sesungguhnya tengah menjalani ujian besar kemanusiaan. Mereka adalah pilar-pilar kasih sayang di tengah

KHAMENEI.ID – Beberapa dekade lalu, tidak banyak orang yang membayangkan bahwa negara-negara Asia akan menjadi pusat perkembangan teknologi dunia. Bahasa Inggris dianggap sebagai satu-satunya gerbang menuju ilmu pengetahuan modern. Universitas-universitas Barat menjadi kiblat akademik yang nyaris tak tergantikan. Jika seseorang ingin mengikuti perkembangan sains mutakhir, ia harus membaca jurnal dari Amerika

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika hampir segala sesuatu dipertontonkan, keikhlasan menjadi barang yang semakin sulit ditemukan. Media sosial mengajarkan manusia untuk menghitung jumlah suka, memburu pengakuan, dan menampilkan setiap langkah sebagai pencapaian. Bahkan aktivitas yang tampak mulia pun sering kali tidak luput dari godaan pencitraan. Dalam suasana seperti itu, pertanyaan lama

KHAMENEI.ID– Di era banjir informasi, manusia semakin mudah memilih siapa yang ingin dipercaya. Ada tokoh yang dikagumi karena kecerdasannya, ada yang dihormati karena jasa-jasanya, dan ada pula yang diikuti karena popularitasnya. Namun justru di tengah derasnya arus figur publik, influencer, pemimpin politik, dan tokoh agama, muncul satu pertanyaan mendasar: bagaimana









