

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Ada pertanyaan menarik yang jarang dibahas ketika kita berbicara tentang kehidupan Nabi Muhammad as. Apa sebenarnya beban terberat yang beliau pikul selama menjalankan risalah kenabian? Banyak orang mungkin mengira jawabannya adalah penolakan kaum Quraisy, ancaman pembunuhan, perang yang bertubi-tubi, atau pengasingan yang memaksanya meninggalkan tanah kelahiran. Semua itu memang

KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang sering muncul ketika membicarakan iman dan perubahan sosial: jika Tuhan Mahakuasa, mengapa manusia masih diminta untuk menolong agama-Nya? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab pada pandangan pertama, gagasan “menolong Allah” terasa paradoksal. Bagaimana mungkin manusia yang lemah dan terbatas dapat menolong

KHAMENEI.ID– Ada ironi besar dalam sejarah modern. Sebuah bangsa bisa kehilangan tanahnya, rumahnya dihancurkan, anak-anaknya dibunuh, dan pemimpinnya dipenjara. Namun bangsa itu tetap hidup. Bahkan semakin kuat. Itulah kisah Palestina. Selama puluhan tahun, banyak orang mengira persoalan Palestina telah selesai. Sejak berdirinya negara Israel pada 1948, dunia menyaksikan bagaimana rakyat Palestina

KHAMENEI.ID– Ada sebuah ironi yang sering terjadi dalam kehidupan modern. Kita mengagungkan hasil, tetapi melupakan tangan-tangan yang menghasilkan. Kita menikmati gedung tinggi, jalan raya, listrik, makanan, dan teknologi, tetapi jarang berhenti sejenak untuk memikirkan orang-orang yang bekerja di balik semua itu. Padahal dalam pandangan Islam, kerja bukan sekadar cara mencari

KHAMENEI.ID– Pada setiap peringatan Maulid Nabi, jutaan umat Islam di berbagai belahan dunia merayakan kelahiran Muhammad saw dengan rasa cinta dan hormat. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: mengapa sosok yang hidup lebih dari empat belas abad lalu masih begitu berpengaruh hingga hari ini? Mengapa nama Nabi

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa yang tidak mengubah sejarah melalui pedang, melainkan melalui langkah kaki. Langkah seorang lelaki tua yang berjalan menuju sebuah makam di padang gersang Karbala. Tidak ada pasukan yang mengiringi. Tidak ada pidato kemenangan. Hanya kesedihan yang begitu dalam dan cinta yang begitu kuat. Lelaki itu bernama Jabir bin

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang semakin bising oleh perebutan kekuasaan, ada satu pertanyaan lama yang terus relevan hingga hari ini: apakah seorang pemimpin cukup hanya mampu mengelola negara, atau ia juga harus mampu memimpin jiwa manusia? Pertanyaan itulah yang sesungguhnya berada di jantung peristiwa Ghadir Khum, sebuah peristiwa yang bagi

KHAMENEI.ID – Di tengah terik padang pasir yang membakar, ribuan orang berhenti melangkah. Mereka baru saja menyelesaikan Haji Wada’, haji terakhir Nabi Muhammad saw. Sebagian telah berjalan jauh meninggalkan rombongan, sebagian lain masih tertinggal di belakang. Namun pada hari itu, di sebuah tempat bernama Ghadir Khum, sejarah Islam seakan diminta

Selama seratus tahun, Barat dengan uang, senjata, dan propaganda telah berusaha merenggut jati diri perempuan Muslim. Namun, hari ini, suara kebangkitan terdengar. Imam Ali Kamenei, dalam pidatonya yang bersejarah di hadapan para wanita cendekia dari seluruh dunia Islam, membongkar tipu daya Barat dan menawarkan visi kebanggaan serta kemuliaan bagi perempuan

KHAMENEI.ID– Di masa-masa paling panas sebuah perjuangan, sering kali manusia tergoda untuk menganggap ibadah sebagai sesuatu yang sekunder. Ketika ketidakadilan merajalela, ketika penindasan harus dilawan, dan ketika perubahan tampak begitu mendesak, muncul pertanyaan yang terdengar logis: mengapa masih sibuk berbicara tentang shalat? Pertanyaan semacam itu ternyata bukan hanya milik zaman