

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Ada satu gagasan yang berulang kali muncul dalam perdebatan modern: agama sebaiknya dipisahkan dari politik. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan bagi sebagian orang terdengar masuk akal. Politik dianggap wilayah kekuasaan yang keras dan penuh kompromi, sementara agama dipandang sebagai urusan pribadi yang suci dan spiritual. Namun benarkah keduanya memang

KHAMENEI.ID – Setiap masyarakat selalu bergulat dengan satu pertanyaan yang sama: siapa yang berhak memimpin dan untuk apa kekuasaan digunakan? Sejarah manusia dipenuhi pergantian raja, presiden, panglima, dan penguasa. Namun, di tengah panjangnya perjalanan sejarah itu, ada satu peristiwa yang dalam pandangan Islam memiliki makna jauh melampaui penunjukan seorang pemimpin.

KHAMENEI.ID – “Allahu Akbar” bukan sekadar slogan keagamaan; melainkan sebuah “doktrin politik-keamanan” yang menantang tatanan kekuasaan hierarkis di dunia. Dalam pandangan dunia materialis, “kekuasaan” diukur melalui indikator keras (hard indicators) — PDB, hulu ledak nuklir, dan hak veto politik. Dalam tatanan ini, bangsa-bangsa yang tertindas konsisten didefinisikan sebagai bangsa “kecil”,

KHAMENEI.ID – Pernahkah Anda membayangkan bahwa menjadi seorang ibu yang mengasuh anak di rumah, atau seorang istri yang menciptakan ketenangan bagi suaminya, ternyata memiliki bobot peradaban yang luar biasa? Di tengah gemerlap karier dan gelar akademik, sebuah suara dari Timur Tengah justru mengingatkan dunia pada satu fakta mendasar: tidak ada

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika manusia dinilai dari jumlah pengikut, gelar, jabatan, dan pencapaian yang terpampang di ruang publik, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apa sebenarnya yang membuat seseorang bernilai di hadapan Tuhan? Pertanyaan itu menjadi semakin jelas ketika kita berbicara tentang Fatimah Az-Zahra. Banyak orang mengenalnya sebagai putri Nabi

KHAMENEI.ID– Ada banyak hal yang dianggap menentukan masa depan manusia: pendidikan, lingkungan, teknologi, bahkan sistem politik. Kita sibuk membicarakan kualitas sekolah, kurikulum nasional, dan kecanggihan kecerdasan buatan. Namun sering kali kita melupakan satu sosok yang diam-diam membentuk manusia jauh sebelum ia mengenal dunia luar: ibu. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, peran

KHAMENEI.ID– Ada satu paradoks besar dalam kehidupan modern. Semakin banyak orang berbicara tentang perubahan, tetapi semakin sedikit yang mampu bertahan di jalan yang dipilihnya. Kita hidup di zaman yang bergerak cepat. Hari ini seseorang bersemangat memperjuangkan sebuah nilai, besok ia meninggalkannya. Hari ini sebuah masyarakat bersatu mempertahankan keyakinan, beberapa tahun

KHAMENEI.ID– Ada kebiasaan yang terus berulang dalam kehidupan berbangsa: ketika masyarakat dianggap bermasalah, rakyatlah yang pertama kali disalahkan. Ketika korupsi merajalela, ketika etika publik merosot, ketika kejujuran terasa semakin langka, yang sering muncul adalah keluhan tentang moral masyarakat yang memburuk. Seolah-olah sumber persoalan selalu berada di bawah. Padahal, sejarah menunjukkan

KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang semakin sering terlihat di dunia modern: semakin banyak orang berbicara tentang spiritualitas, tetapi semakin sedikit yang merasa perlu terlibat dalam persoalan keadilan. Kita hidup di zaman ketika meditasi menjadi tren, ceramah motivasi spiritual mudah ditemukan, dan pembicaraan tentang ketenangan batin semakin populer. Banyak orang berusaha memperbaiki

KHAMENEI.ID– Ada satu gejala menarik dalam kehidupan keagamaan modern. Semakin banyak anak muda yang tertarik kepada agama, tetapi tidak selalu memahami dasar-dasar pemikiran yang menopangnya. Mereka hadir dalam majelis, mengikuti peringatan hari-hari besar keagamaan, mengunggah kutipan-kutipan spiritual di media sosial, bahkan meneteskan air mata ketika mendengar kisah para tokoh suci.