

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID– Ada negeri yang miskin karena tak memiliki sumber daya. Ada pula negeri yang sebenarnya kaya, tetapi gagal mengenali kekayaannya sendiri. Di antara keduanya, persoalannya bukan semata-mata jumlah minyak, gas, tambang, atau modal yang tersedia. Persoalan yang lebih dalam adalah kemampuan sebuah bangsa melihat apa yang berada di hadapannya, lalu mengubahnya

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menentukan arah sebuah peradaban: di mana agama harus ditempatkan ketika manusia berbicara tentang kemajuan? Di ruang modern, pertanyaan itu sering dianggap telah selesai. Kemajuan dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, kebebasan individu, pertumbuhan ekonomi. Agama, jika masih diperlukan, cukup ditempatkan di ruang batin di masjid, gereja,

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak hanya kehilangan wilayah, tetapi juga kehilangan keyakinan bahwa dirinya masih mampu menentukan nasib sendiri. Kekuasaan asing datang bukan selalu dengan tank dan serdadu. Ia bisa hadir melalui ekonomi, politik, kebudayaan, bahkan melalui keyakinan bahwa hanya mereka yang kuat yang berhak menentukan arah dunia. Di

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar selesai: apakah kemajuan manusia harus dibayar dengan meninggalkan agama? Dalam sejarah modern, pertanyaan itu kerap dijawab seolah-olah sudah final. Agama, kata mereka, boleh tinggal di ruang batin; sebagai keyakinan pribadi, doa, atau upacara, tetapi jangan dibawa terlalu jauh ke dalam kehidupan bersama.

KHAMENEI.ID– Ada jenis ketakutan yang tidak membuat seseorang berlari. Ia justru membuat seseorang tetap duduk, berbicara dengan tenang, bahkan tampak rasional. Namun diam-diam ketakutan itu mengubah cara ia melihat kenyataan. Takut kehilangan harta. Takut kehilangan jabatan. Takut dicemooh. Takut dituduh. Takut salah langkah. Takut pada suasana yang sedang berkembang. Takut pada

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika ancaman terhadap agama tidak datang dalam bentuk larangan beribadah. Tidak ada pintu masjid yang ditutup, tidak ada kitab yang dibakar, tidak pula azan yang dilarang terdengar. Ancaman justru datang lebih halus: agama tetap ada, tetapi kehilangan daya untuk menerangi pikiran dan membentuk watak. Di situlah persoalan dakwah

KHAMENEI.ID– Ada pekerjaan yang terlalu penting untuk diseret ke dalam pertengkaran politik. Pendidikan adalah salah satunya. Sebab ketika orang-orang dewasa sibuk membelah diri berdasarkan kubu, yang dipertaruhkan bukan sekadar hubungan antarkelompok, melainkan masa depan anak-anak yang belum selesai belajar memahami dunia. Gagasan itu terasa kuat dalam pesan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei

KHAMENEI.ID– Ada kebiasaan yang diam-diam mengendap dalam banyak ruang kehidupan: menganggap usia sebagai ukuran kebijaksanaan, jabatan sebagai tanda keunggulan, dan kedekatan sebagai alasan untuk mendapatkan kepercayaan. Seolah-olah semakin lama seseorang hidup, semakin layak ia memimpin. Seolah-olah senioritas dengan sendirinya melahirkan kemampuan. Islam menawarkan ukuran yang berbeda. Dalam pandangan itu, perubahan memang

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah masyarakat tampak kuat dari luar, tetapi gelisah di dalam. Negara memiliki institusi, pemilu berlangsung, kekuasaan berganti, tetapi hati orang-orang tetap dipenuhi kecemasan. Di titik itulah agama tidak cukup dipahami sebagai kumpulan ajaran yang tersimpan dalam kitab. Ia dituntut hadir sebagai kekuatan yang membentuk kehidupan. Dalam pandangan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika agama begitu mudah dibicarakan sebagai urusan pribadi. Ia ditempatkan di ruang yang sunyi: masjid, rumah, hati manusia. Sementara kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, dan urusan masyarakat dianggap berada di wilayah lain yang lebih “realistis”. Seolah-olah keduanya memang harus dipisahkan. Sejarah Islam justru bermula dari kegelisahan yang berbeda. KetikaRasulullah Muhammad









