

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Lautan manusia bergerak dalam satu arus yang sama. Dari benua yang berjauhan, dari bahasa yang tak saling dimengerti, dari sejarah yang sering kali saling bertentangan—semuanya berkumpul di satu titik. Di tanah suci, dunia seakan dipadatkan menjadi satu ruang, satu waktu, satu arah. Pemandangan ini selalu memunculkan pertanyaan besar: apakah haji