KHAMENEI.ID– Ada bentuk penjajahan yang tidak membutuhkan tentara. Ia tidak selalu datang dengan kapal perang, pagar kawat, atau bendera asing yang dikibarkan di atas gedung pemerintahan. Ia bisa bekerja lebih halus: melalui buku yang kita baca, teori yang kita anggap ilmiah, kebiasaan yang kita tiru, bahkan melalui cara kita memahami siapa diri kita sendiri.
Dalam pidato di hadapan sejumlah mahasiswa, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menggambarkan salah satu wajah dunia modern dalam dua atau tiga abad terakhir: dunia yang terbelah antara negara-negara yang menguasai dan negara-negara yang dikuasai. Pembelahan itu, menurutnya, bukan sekadar persoalan militer atau ekonomi. Ada sesuatu yang lebih dalam: kemampuan pihak yang dominan untuk menyebarkan pandangan hidupnya kepada mereka yang berada di bawah pengaruhnya.
Pembagian antara negara dominan dan negara yang berada di bawah dominasi bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ada sejarah panjang yang membuat sebagian negeri memperoleh keunggulan atas negeri lain. Mengapa Eropa, terutama dalam beberapa abad terakhir, tampil sebagai pusat kekuatan dunia? Apa yang membuat satu kawasan mampu bergerak lebih cepat, sementara kawasan lain tertinggal?
Pertanyaan itu penting. Namun gagasan yang hendak ditunjukkan Syahid Ali Khamenei qs bukan terutama tentang dari mana keunggulan itu bermula. Yang lebih menarik adalah apa yang terjadi setelah sebuah negara atau kelompok negara berhasil menjadi dominan.
Sebab kekuasaan memiliki kebiasaan untuk berkembang. Ia tidak puas hanya dengan menguasai wilayah atau sumber daya. Ia cenderung ingin menguasai ukuran tentang apa yang disebut maju, rasional, modern, bahkan beradab.
Di titik ini, dominasi memasuki wilayah yang jauh lebih dalam.
Negara yang memiliki kemajuan dan rasa percaya diri tidak hanya mengekspor barang. Mereka juga mengekspor kebiasaan, tradisi, gagasan, dan pandangan tentang dunia. Apa yang semula merupakan pengalaman historis sebuah masyarakat perlahan dapat tampil sebagai standar universal. Buku, penelitian, pendidikan, kebudayaan, dan berbagai produk pengetahuan menjadi kendaraan untuk memindahkan cara pandang itu dari satu tempat ke tempat lain.
Yang menarik, proses tersebut tidak selalu berlangsung melalui paksaan terbuka. Sering kali ia bekerja justru karena pihak yang menerima merasa sedang memperoleh sesuatu yang lebih baik.
Sebuah buku datang membawa pengetahuan. Sebuah teori hadir dengan bahasa ilmiah. Sebuah kebiasaan diperkenalkan sebagai tanda kemajuan. Sebuah gaya hidup tampak sebagai simbol modernitas. Sedikit demi sedikit, masyarakat yang berada di bawah pengaruh mulai memandang dunia melalui kacamata yang dibuat di tempat lain.
Di sinilah dominasi memperoleh bentuk yang paling efektif: ketika sesuatu yang berasal dari luar tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang asing.
Orang tidak merasa sedang menerima sebuah sistem nilai. Ia merasa sedang belajar. Tidak merasa sedang meniru kebudayaan lain. Ia merasa sedang menjadi modern. Tidak merasa sedang meninggalkan ukuran yang pernah dimilikinya. Ia hanya merasa sedang mengikuti perkembangan zaman.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak pernah hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki senjata lebih banyak atau modal lebih besar. Kekuasaan juga berkaitan dengan siapa yang memiliki kemampuan menentukan cerita.
Siapa yang mendefinisikan kemajuan? Siapa yang menentukan masyarakat seperti apa yang disebut maju? Siapa yang menetapkan ukuran keberhasilan? Dan siapa yang membuat orang lain percaya bahwa ukuran tersebut berlaku bagi semua manusia?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin relevan pada zaman ketika pertukaran informasi berlangsung tanpa batas. Jika dahulu penyebaran pandangan hidup berlangsung melalui buku, penelitian atau lembaga pendidikan, kini ia dapat bergerak melalui layar telepon dalam hitungan detik. Budaya, bahasa, gaya hidup dan gagasan berkeliling dunia dengan kecepatan yang nyaris tidak memberi kesempatan kepada seseorang untuk bertanya dari mana semua itu berasal.
Namun persoalannya bukan apakah setiap pengaruh dari luar harus ditolak. Dunia memang dibangun dari pertukaran. Tidak ada masyarakat yang hidup sepenuhnya terisolasi. Pengetahuan tidak memiliki paspor, dan kebudayaan selalu saling mempengaruhi.
Yang patut dipersoalkan adalah ketimpangan di balik pertukaran itu.
Sebab pertukaran menjadi problematis ketika hanya satu pihak yang terus-menerus dianggap sebagai sumber pengetahuan, sementara pihak lain ditempatkan sebagai penerima. Ketika satu masyarakat terbiasa menjelaskan dirinya dengan teori yang dibuat orang lain, tetapi tidak pernah merasa memiliki hak untuk menawarkan penjelasan tentang dunia. Ketika rasa percaya diri sebuah bangsa perlahan bergantung pada pengakuan dari pusat kekuatan di luar dirinya.
Syahid Ali Khamenei qs bahkan menyinggung sesuatu yang lebih jauh: perencanaan agar keadaan tersebut terus berlangsung. Sistem dominasi, dalam gambaran ini, bukan hanya keadaan yang terjadi secara kebetulan. Ia dapat dipelihara melalui perencanaan ilmiah dan sistematis agar hubungan antara pihak yang dominan dan yang didominasi tidak mudah berubah.
Gagasan itu membawa kita pada persoalan yang lebih sunyi daripada perang: bagaimana sebuah masyarakat kehilangan kemampuan membayangkan dirinya sendiri.
Barangkali inilah bentuk dominasi yang paling sulit dikenali. Penjajahan wilayah dapat berakhir ketika tentara pergi. Ketergantungan ekonomi dapat terlihat dalam angka perdagangan dan utang. Tetapi ketergantungan cara berpikir jauh lebih samar. Ia bisa tetap hidup bahkan setelah sebuah bangsa secara politik telah merdeka.
Seseorang dapat hidup di negeri yang merdeka, berbicara dengan bahasanya sendiri, mengibarkan benderanya sendiri, tetapi diam-diam percaya bahwa segala sesuatu yang datang dari luar selalu lebih maju daripada apa yang lahir dari tanahnya sendiri.
Pada titik itu, persoalannya bukan lagi siapa yang memerintah sebuah negeri. Persoalannya adalah siapa yang menentukan horizon pikiran orang-orang di dalamnya.
Karena itu, melawan dominasi tidak selalu berarti menutup pintu dari dunia. Sebaliknya, mungkin yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk membuka pintu tanpa kehilangan rumah. Menerima pengetahuan tanpa kehilangan daya kritis. Belajar dari kemajuan bangsa lain tanpa menganggap diri sendiri selalu lebih rendah. Berhubungan dengan dunia tanpa menyerahkan hak untuk menentukan arah perjalanan sendiri.
Sebuah masyarakat yang percaya diri tidak harus menolak dunia. Ia hanya tidak membiarkan dunia menentukan seluruh isi kepalanya.
Dan mungkin, pada akhirnya, kemerdekaan yang paling sulit bukanlah kemerdekaan sebuah wilayah. Ia adalah kemerdekaan untuk berpikir, kemampuan untuk memandang dunia dengan mata sendiri, memilih apa yang layak diterima, mempertanyakan apa yang selama ini dianggap mutlak, lalu berani membayangkan masa depan yang tidak seluruhnya ditulis oleh mereka yang pernah berdiri di atas kita.







