KHAMENEI.ID– Ada orang yang memiliki ilmu, tetapi tak pernah mengajarkannya. Ada yang diberi mimbar, tetapi memilih diam. Ada pula yang memiliki pengaruh besar, namun menggunakannya hanya untuk memperbesar dirinya sendiri. Dalam pandangan agama, semua itu bukan sekadar pilihan hidup. Kelak, ia akan menjadi pertanyaan.
Kita sering membayangkan hari kiamat sebagai saat ketika manusia dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosa besar. Padahal, ada jenis pertanyaan lain yang jauh lebih sunyi, tetapi tak kalah berat: apa yang kita lakukan terhadap kesempatan yang pernah Allah titipkan?
Semakin besar ruang yang dimiliki seseorang untuk memengaruhi orang lain, semakin besar pula amanah yang dipikulnya. Seorang guru, dosen, ulama, khatib, penulis, pemimpin, atau siapa pun yang memiliki kesempatan mendidik manusia, sesungguhnya sedang memegang sesuatu yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya.
Sering kali manusia sibuk mengejar posisi. Jabatan dianggap sebagai prestasi, popularitas dipandang sebagai keberhasilan, dan pengaruh menjadi ukuran kesuksesan. Namun agama mengajukan sudut pandang yang berbeda. Semua itu bukan hadiah, melainkan titipan. Dan setiap titipan selalu diikuti pertanyaan.
Di titik inilah sebuah doa indah dari Shahifah Sajadiyah menghadirkan perspektif yang menggugah. Imam Sajjad a.s memohon kepada Allah:
اللَّهُمَّ … وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا تَسْأَلُنِي غَدًا عَنْهُ
“Ya Allah… gunakanlah aku untuk melakukan apa yang kelak akan Engkau tanyakan dariku pada hari esok (hari kiamat)”
Doa ini terasa sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Yang diminta bukan umur panjang, bukan jabatan tinggi, bahkan bukan kemudahan hidup. Yang dipohon justru agar seluruh tenaga, waktu, kemampuan, dan kesempatan dipakai untuk sesuatu yang memang akan bernilai di hadapan Allah.
Seakan-akan doa itu sedang mengingatkan bahwa tidak semua kesibukan memiliki arti. Banyak aktivitas menyita waktu, tetapi tak memiliki bobot ketika dihadapkan kepada pengadilan Ilahi. Manusia bisa sangat sibuk, tetapi sebenarnya sedang menjauh dari tujuan penciptaannya.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah penyakit zaman modern. Kita dipaksa terus bergerak, mengejar target demi target, memenuhi jadwal yang tak pernah selesai. Hari-hari terasa penuh, tetapi hati justru kosong. Kita produktif menurut ukuran dunia, tetapi belum tentu produktif menurut ukuran akhirat.
Padahal umur bukan sekadar jumlah tahun yang dijalani. Umur adalah ruang yang disediakan Allah agar manusia mengisi misi kehidupannya. Karena itu, Imam Sajjad a.s melanjutkan doanya dengan permohonan yang sangat menyentuh agar seluruh hari-harinya digunakan untuk tujuan yang memang Allah ciptakan baginya.
Betapa banyak energi habis untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak akan pernah ditanyakan. Berapa banyak waktu dihabiskan untuk memperdebatkan perkara sepele, mengejar pengakuan manusia, atau mengumpulkan pujian yang cepat menghilang. Sementara kesempatan membimbing, menolong, mengajar, menghibur, atau menyebarkan ilmu justru dibiarkan lewat begitu saja.
Gagasan ini kemudian menyentuh satu sisi yang sering terlupakan: setiap kemampuan adalah amanah. Bukan hanya ulama yang akan ditanya tentang ilmunya. Bukan hanya pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Orang tua akan ditanya tentang keluarga. Guru tentang muridnya. Penulis tentang gagasan yang disebarkannya. Pengusaha tentang kekayaannya. Bahkan setiap orang akan ditanya tentang waktu yang pernah dimilikinya.
Yang menarik, doa tersebut tidak berhenti pada permohonan agar dapat berbuat baik. Imam Sajjad a.s juga memohon agar kebaikan itu tidak rusak oleh penyakit hati.
Beliau berdoa agar Allah menjauhkan dirinya dari kesombongan, dari rasa bangga terhadap amal sendiri, dari kebiasaan mengungkit-ungkit kebaikan, bahkan dari kegemaran merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebab amal yang besar pun dapat kehilangan nilainya hanya karena hati yang dipenuhi keakuan.
Inilah paradoks kehidupan spiritual. Semakin tinggi seseorang di mata manusia, semakin ia membutuhkan kerendahan hati di hadapan dirinya sendiri.
Karena itu doa tersebut juga memuat permohonan yang luar biasa:
“Ya Allah, jangan Engkau tinggikan kedudukanku di hadapan manusia, kecuali Engkau rendahkan diriku di hadapan diriku sendiri dengan kadar yang sama”
Kalimat ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak diukur oleh tepuk tangan manusia, melainkan oleh kemampuan menjaga hati tetap rendah ketika penghormatan datang dari segala arah.
Di zaman media sosial, pesan ini terasa semakin relevan. Kini seseorang dapat dikenal jutaan orang hanya dalam hitungan hari. Ilmu dapat tersebar dengan cepat. Ceramah dapat ditonton jutaan kali. Tulisan dapat viral dalam semalam. Namun semua itu menghadirkan ujian baru: apakah pengaruh tersebut digunakan untuk membimbing manusia atau sekadar membangun citra diri?
Popularitas bisa menjadi jalan menuju pahala yang terus mengalir. Tetapi ia juga dapat berubah menjadi beban yang akan dipertanyakan Allah apabila tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa banyak kesempatan yang kita miliki. Yang menentukan adalah bagaimana kesempatan itu digunakan. Sebab Allah tidak hanya memberi nikmat, tetapi juga meminta laporan atas nikmat tersebut.
Mungkin itulah sebabnya doa Imam Sajjad a.s tidak meminta kehidupan yang lebih mudah. Beliau justru meminta agar Allah menempatkannya tepat pada pekerjaan yang kelak menjadi jawaban terbaik ketika semua pertanyaan diajukan.
Sebab pada hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih membahagiakan selain mampu berkata bahwa waktu, ilmu, pengaruh, dan kesempatan yang pernah dimiliki telah diusahakan untuk tujuan yang memang Allah kehendaki. Itulah amanah yang tidak hanya dijalani, tetapi juga dipertanggungjawabkan dengan penuh keikhlasan.







