KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang sering luput kita sadari. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula godaan untuk merasa lebih penting daripada orang lain. Semakin luas pengetahuan, semakin mudah seseorang menganggap dirinya paling benar. Bahkan kekayaan dan pengaruh sosial, yang semestinya menjadi amanah, kerap berubah menjadi alasan untuk merendahkan sesama.
Kesombongan tidak selalu tampil dalam bentuk suara yang keras atau sikap yang kasar. Ia bisa hadir dalam cara seseorang memandang orang lain, dalam keengganannya menerima kritik, atau dalam keyakinan bahwa dirinya selalu lebih layak didengar. Karena itu, penyakit ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar perilaku lahiriah. Ia bersemayam di dalam hati, tumbuh perlahan, lalu membentuk cara pandang terhadap dunia.
Islam memandang kesombongan sebagai salah satu penyakit jiwa yang paling merusak. Menariknya, obat yang ditawarkan bukan sekadar nasihat moral, melainkan ibadah yang dilakukan secara terus-menerus. Di antara semua ibadah itu, shalat menempati posisi paling penting. Namun tentu bukan sekadar shalat yang dilakukan sebagai rutinitas, melainkan shalat yang dikerjakan dengan hati yang hadir, penuh kesadaran, dan diliputi kekhusyukan.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah menjelaskan hakikat ini dengan sangat indah. Beliau berkata:
فَرَضَ اللَّهُ الْإِيمَانَ تَطْهِيرًا مِنَ الشِّرْكِ وَالصَّلَاةَ تَنْزِيهًا عَنِ الْكِبْرِ
“Allah mewajibkan iman untuk menyucikan manusia dari kemusyrikan, dan mewajibkan shalat untuk membersihkan manusia dari kesombongan”
Kalimat singkat itu membuka cara pandang yang berbeda tentang shalat. Selama ini banyak orang memahami shalat sebagai kewajiban yang harus ditunaikan agar tidak berdosa. Padahal, di balik setiap gerakannya tersimpan proses pembentukan karakter. Shalat bukan hanya hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga terapi yang perlahan mengikis ego manusia.
Ketika seseorang berdiri menghadap Allah, semua atribut dunia kehilangan maknanya. Pangkat, gelar, kekayaan, popularitas, bahkan kecerdasan, tidak lagi menjadi pembeda. Semua orang berdiri sejajar menghadap Kiblat yang sama. Raja dan rakyat, profesor dan buruh, pejabat dan petani, seluruhnya mengucapkan kalimat yang sama: Allahu Akbar. Bukan dirinya yang besar, melainkan Allah Yang Mahabesar.
Di titik inilah akar kesombongan mulai diguncang. Sebab kesombongan tumbuh ketika manusia meletakkan dirinya sebagai pusat kehidupan. Shalat membalik seluruh orientasi itu. Manusia diajak menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Namun kesadaran itu tidak lahir hanya dari gerakan fisik. Ia tumbuh ketika hati benar-benar hadir. Rukuk bukan sekadar membungkukkan badan, melainkan melatih jiwa untuk tunduk. Sujud bukan hanya menyentuhkan dahi ke tanah, melainkan mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah dan suatu hari akan kembali menjadi tanah.
Semakin dalam seseorang merasakan makna ini, semakin sulit baginya memandang rendah orang lain.
Gagasan ini kemudian dijelaskan lebih luas oleh Imam Ali a.s dalam Nahj al-Balaghah. Beliau menerangkan bahwa Allah menjaga orang-orang beriman melalui shalat, zakat, dan puasa agar mereka tidak terjerumus ke dalam kesombongan. Beliau bersabda:
وَعَنْ ذَلِكَ مَا حَرَسَ اللَّهُ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِالصَّلَوَاتِ وَالزَّكَواتِ وَمُجَاهَدَةِ الصِّيَامِ فِي الْأَيَّامِ الْمَفْرُوضَاتِ، تَسْكِينًا لِأَطْرَافِهِمْ، وَتَخْشِيعًا لِأَبْصَارِهِمْ، وَتَذْلِيلًا لِنُفُوسِهِمْ، وَتَخْفِيضًا لِقُلُوبِهِمْ، وَإِذْهَابًا لِلْخُيَلَاءِ عَنْهُمْ
“Melalui shalat, zakat, dan puasa yang diwajibkan, Allah menjaga hamba-hamba-Nya yang beriman. Ibadah itu menenangkan anggota badan mereka, menundukkan pandangan mereka, melatih jiwa mereka menjadi rendah hati, melembutkan hati mereka, serta menghilangkan kesombongan dari diri mereka”
Perhatikan bagaimana Imam Ali a.s tidak hanya berbicara tentang pahala ibadah. Beliau menggambarkan perubahan psikologis yang lahir dari ibadah. Tubuh menjadi tenang, pandangan menjadi lebih lembut, hati menjadi rendah, dan ego perlahan memudar. Artinya, ibadah bukan sekadar ritual spiritual, tetapi proses pendidikan karakter yang berlangsung sepanjang hidup.
Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini terasa sangat relevan dengan dunia modern. Krisis terbesar umat manusia hari ini sering kali bukan kekurangan teknologi atau sumber daya, melainkan melimpahnya ego. Dari ego lahir kerakusan. Dari kerakusan muncul penyalahgunaan kekuasaan. Dari sana tumbuh penindasan, korupsi, eksploitasi, hingga hilangnya penghormatan terhadap hak orang lain.
Kita menyaksikan bagaimana individu maupun bangsa saling berlomba menunjukkan superioritas. Yang kuat merasa berhak menekan yang lemah. Yang kaya merasa boleh menguasai yang miskin. Yang berilmu terkadang memandang rendah mereka yang berbeda pandangan. Semua itu berakar pada penyakit yang sama: merasa diri lebih tinggi daripada orang lain.
Di sinilah shalat menemukan relevansi sosialnya. Shalat yang khusyuk melahirkan manusia yang sadar akan keterbatasannya. Kesadaran itu membuat seseorang lebih mudah bersikap adil, lebih ringan meminta maaf, dan lebih lapang menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih miskin, atau lebih rendah kedudukannya.
Karena itu, kebutuhan terhadap shalat yang khusyuk justru semakin besar ketika seseorang memperoleh kekuasaan, ilmu, atau kekayaan. Mereka yang memegang pengaruh paling luas juga menghadapi godaan kesombongan yang paling besar. Tanpa latihan spiritual yang terus-menerus, keberhasilan dapat berubah menjadi sumber keangkuhan.
Barangkali itulah sebabnya Islam tidak menjadikan shalat sebagai ibadah musiman, melainkan kewajiban yang diulang lima kali sehari. Manusia tidak cukup sekali diingatkan bahwa dirinya hanyalah hamba. Ego selalu tumbuh kembali, dan shalat terus-menerus memangkasnya sebelum ia menjelma menjadi kesombongan yang merusak diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan shalat bukan hanya seberapa sempurna bacaan atau gerakannya, tetapi seberapa jauh ia mengubah cara kita memandang sesama. Jika setelah bertahun-tahun mendirikan shalat seseorang masih gemar meremehkan orang lain, mudah menghina, atau merasa paling benar, mungkin yang bergerak baru tubuhnya, sementara hatinya belum benar-benar bersujud.
Shalat yang khusyuk sejatinya bukan sekadar perjalanan menuju Allah. Ia juga merupakan perjalanan pulang menuju kemanusiaan tempat setiap orang belajar bahwa kebesaran yang sesungguhnya hanya milik Allah, sementara manusia menjadi mulia justru ketika mampu merendahkan egonya.






