KHAMENEI.ID – Persatuan umat Islam sering dibicarakan seolah-olah ia hanya memiliki satu bentuk: semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Padahal, persatuan memiliki tingkatan. Ia dapat dimulai dari sesuatu yang paling sederhana—tidak saling menyerang—lalu berkembang menjadi kerja sama, saling menguatkan, hingga cita-cita membangun sebuah peradaban bersama.
Dalam pandangan Syahid Imam Ali Khamenei qs, persatuan dunia Islam memiliki beberapa jenjang. Tingkatan paling rendah sekalipun sebenarnya sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam: masyarakat, negara, bangsa, dan mazhab Islam tidak saling menyerang, tidak saling berkonfrontasi, dan tidak saling merugikan.
Barangkali terdengar sederhana. Namun justru perkara sederhana itulah yang berkali-kali gagal diwujudkan.
Dari tidak bermusuhan menuju saling menguatkan
Persatuan tidak berhenti pada sikap untuk tidak saling menyerang. Tingkat berikutnya adalah ketika umat Islam mampu berdiri bersama menghadapi musuh yang sama. Negara-negara dan masyarakat Muslim bukan hanya menahan diri dari konflik internal, tetapi juga saling melindungi ketika salah satu di antara mereka menghadapi ancaman.
Setelah itu, persatuan memasuki tahap yang lebih tinggi: sinergi.
Setiap negara Muslim memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda. Ada yang unggul dalam ilmu pengetahuan, ada yang memiliki sumber daya alam dan kekayaan, ada yang mempunyai kemampuan pertahanan, sementara negara lain memiliki posisi politik dan strategis yang lebih kuat. Perbedaan itu, dalam perspektif persatuan, seharusnya tidak menjadi sumber persaingan, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi.
Negara yang lebih maju dalam satu bidang dapat membantu negara lain yang masih tertinggal. Kekayaan dapat dipertemukan dengan ilmu. Ilmu dapat dipertemukan dengan teknologi. Kekuatan politik dapat dipertemukan dengan kepentingan bersama. Dengan demikian, kemajuan satu bagian dari dunia Islam tidak berhenti sebagai keuntungan bagi dirinya sendiri, tetapi ikut mengangkat bagian lainnya.
Namun masih ada tingkatan yang lebih tinggi.
Persatuan, pada tingkat puncaknya, adalah ketika dunia Islam bergerak bersama menuju peradaban Islam baru—sebuah peradaban yang berakar pada ajaran Islam, tetapi mampu menjawab kebutuhan dan tantangan zaman modern.
Itulah, menurut Imam Khamenei, tujuan akhir yang hendak dicapai Republik Islam Iran: bukan sekadar membangun hubungan baik antarnegara Muslim, melainkan mewujudkan peradaban Islam yang baru dan sesuai dengan tuntutan zaman.
Jika persatuan paling dasar saja gagal
Masalahnya, dunia Islam bahkan masih kesulitan memenuhi tingkatan persatuan yang paling dasar.
Jika negara-negara Muslim sekurang-kurangnya tidak saling menyerang dan mampu berdiri bersama menghadapi musuh bersama, banyak tragedi yang terjadi di dunia Islam mungkin dapat dicegah.
Palestina menjadi contoh paling nyata.
Persoalan Palestina bukan sekadar konflik politik biasa. Bagi Imam Khamenei, tragedi itu merupakan salah satu luka terbesar dunia Islam: sebuah bangsa terusir dari tanahnya sendiri, sementara pihak lain datang dan menguasai wilayah tersebut. Di Gaza, penderitaan dan kehancuran terus menjadi gambaran nyata dari konflik itu. Di Tepi Barat, persoalan juga tidak berhenti.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya tentang siapa yang memiliki senjata paling banyak atau negara mana yang memiliki kekuatan terbesar. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa dunia Islam tidak mampu memenuhi bahkan tingkat persatuan yang paling sederhana?
Sebab ketika negara-negara Muslim terpecah, pihak yang berhadapan dengan mereka memperoleh ruang untuk bertindak lebih leluasa.
Hal yang sama, menurut pandangan tersebut, dapat dilihat dalam berbagai konflik lain di dunia Islam. Yaman, kawasan Afrika Utara, dan berbagai persoalan di Timur Tengah menunjukkan bagaimana perpecahan internal dapat berubah menjadi sumber penderitaan yang panjang.
Perang tidak selalu lahir karena umat Islam kekurangan kekuatan. Kadang masalahnya justru karena kekuatan yang ada tidak bergerak dalam arah yang sama.
Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan
Di sinilah gagasan persatuan menjadi penting untuk dipahami secara lebih luas. Persatuan tidak selalu berarti menghilangkan perbedaan mazhab, tradisi, kebudayaan, atau kepentingan nasional. Dunia Islam memang terdiri atas masyarakat yang beragam.
Yang dituntut adalah kemampuan untuk hidup bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menghancurkan.
Karena itu, tingkatan pertama persatuan sesungguhnya sangat mendasar: jangan saling menyerang. Setelah itu, pertahanan bersama. Kemudian kerja sama dan sinergi. Dan pada tingkat tertinggi, cita-cita membangun peradaban bersama.
Dengan kerangka semacam ini, persatuan bukan sekadar slogan yang terdengar indah dalam pidato keagamaan. Ia menjadi sebuah proses bertahap yang membutuhkan kesadaran politik, kedewasaan sosial, kerja sama ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, dan keberanian untuk mengatasi politik perpecahan.
Tantangan terbesar adalah tangan-tangan pemecah belah
Persoalannya, keinginan untuk bersatu tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Ada kepentingan-kepentingan yang justru memperoleh keuntungan dari perpecahan.
Dari Afrika Utara hingga Asia Timur, berbagai komunitas Muslim menghadapi tekanan dan konflik. Dari Timur hingga Barat dunia Islam, persoalan muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam situasi semacam itu, persatuan menjadi bukan sekadar pilihan ideal, tetapi kebutuhan strategis.
Karena itu, Imam Khamenei menyerukan agar para pemikir dan tokoh berpengaruh di dunia Islam memikirkan persoalan ini secara serius. Generasi muda Muslim memiliki ketertarikan terhadap persatuan, tetapi keinginan tersebut membutuhkan kesadaran dan keteguhan untuk menghadapi berbagai upaya yang mendorong perpecahan.
Pada akhirnya, persatuan tidak dibangun dalam satu malam. Ia dimulai dari kemampuan untuk menahan tangan agar tidak menyakiti saudara sendiri. Kemudian berkembang menjadi keberanian untuk berdiri bersama ketika menghadapi ancaman. Dari sana tumbuh kerja sama, saling menguatkan, dan akhirnya sebuah visi bersama tentang masa depan.
Sebab sebuah umat yang memiliki jumlah besar, wilayah luas dan sumber daya melimpah belum tentu memiliki kekuatan apabila seluruh unsur itu bergerak sendiri-sendiri. Sebaliknya, ketika perbedaan mampu dikelola dalam satu kepentingan bersama, sesuatu yang jauh lebih besar dapat lahir: kekuatan umat dan peradaban yang tidak mudah dipatahkan oleh perpecahan.







