

KHAMENEI.ID – Ada yang lebih berbahaya daripada melakukan kesalahan: kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang salah. Sebab, selama seseorang masih bersedia menegur dirinya sendiri, masih ada pintu yang terbuka untuk kembali. Namun, ketika suara hati mulai bungkam, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan, kebiasaan menjelma pembenaran dan pembenaran perlahan membentuk watak

KHAMENEI.ID – Di tengah derasnya arus informasi, pertarungan narasi, dan krisis moral yang melanda dunia modern, umat Islam sering mencari berbagai strategi untuk bangkit. Ada yang menawarkan reformasi politik, ada yang menekankan pembangunan ekonomi, sementara yang lain mengusulkan penguasaan teknologi sebagai jalan keluar. Semua itu penting. Namun, Imam Ali Khamenei qs

KHAMENEI.ID – Banyak orang beranggapan bahwa lembaga keagamaan akan lebih dihormati jika menjauh dari persoalan politik, konflik sosial, dan isu-isu besar yang membelah masyarakat. Logikanya sederhana: semakin netral, semakin sedikit musuh; semakin sedikit musuh, semakin tinggi kehormatan. Namun menurut Imam Ali Khamenei qs, cara berpikir semacam itu adalah sebuah kekeliruan

KHAMENEI.ID– Ada kalanya sebuah kalimat terdengar begitu sederhana, tetapi justru mengguncang fondasi sebuah zaman. Ia pendek, mudah diucapkan, bahkan akrab di telinga umat Islam. Namun sejarah membuktikan bahwa kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah gagasan yang sanggup mengubah manusia, masyarakat, bahkan arah peradaban. Kalimat itu adalah lā ilāha illā

KHAMENEI.ID – Menurut Imam Ali Khamenei qs, kejayaan Islam tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari pembinaan manusia yang kemudian melahirkan masyarakat berperadaban. Ketika berbicara tentang lahirnya peradaban Islam, banyak orang langsung membayangkan penaklukan kota-kota besar, berdirinya pemerintahan Madinah, atau meluasnya wilayah kekuasaan kaum Muslim. Padahal, menurut beliau, semua itu hanyalah

KHAMENEI.ID – Selama puluhan tahun, Asia Barat—atau yang lebih sering disebut Timur Tengah—dipandang sebagai panggung tempat negara-negara adidaya memainkan pengaruhnya. Perang, kudeta, intervensi militer, hingga perebutan sumber daya seolah menjadi pola yang terus berulang. Banyak pemerintahan berganti, banyak perjanjian ditandatangani, tetapi arah kawasan nyaris selalu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan besar dari

KHAMENEI.ID – Kata perubahan selalu terdengar indah. Ia identik dengan kemajuan, pembaruan, dan harapan. Hampir semua orang sepakat bahwa sebuah bangsa harus terus berubah agar mampu menjawab tantangan zaman. Namun, benarkah semua perubahan selalu membawa kebaikan? Atau justru ada perubahan yang sesungguhnya merupakan jalan halus untuk menghapus identitas sebuah bangsa? Pertanyaan

KHAMENEI.ID – Di banyak ruang diskusi, satu tuduhan hampir selalu muncul ketika berbicara tentang negara Islam: jika ulama terlibat dalam pemerintahan, bukankah itu berarti agama sedang memonopoli kekuasaan? Dari pertanyaan itulah lahir berbagai istilah seperti “pemerintahan ulama”, “rezim para mullah”, atau “negara yang dikuasai kaum agama”. Istilah-istilah itu terdengar sederhana, tetapi

KHAMENEI.ID – “Menurut Imam Ali Khamenei, kehormatan ulama tidak lahir dari sikap diam, melainkan dari keberanian hadir ketika agama, keadilan, dan nasib masyarakat dipertaruhkan.” Ada anggapan yang terus berulang dari zaman ke zaman: agama akan lebih dihormati jika menjauh dari politik. Ulama dianggap cukup mengurus mimbar, masjid, kitab, dan ibadah.

KHAMENEI.ID – Ada anggapan yang terus berulang setiap kali ulama berbicara tentang politik, keadilan, atau persoalan dunia. “Bukankah lebih baik ulama fokus mengajar agama? Bukankah mereka akan lebih dihormati jika tidak ikut dalam konflik sosial dan politik?” Bagi sebagian orang, pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun dalam pandangan Imam Ali

KHAMENEI.ID – Ada ironi besar dalam sejarah dunia modern. Negara-negara yang hari ini paling lantang berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan justru dibangun di atas jejak panjang kolonialisme, perampasan kekayaan bangsa lain, dan dominasi politik global. Di sisi lain, banyak negeri Muslim yang dahulu menjadi pusat ilmu pengetahuan