

KHAMENEI.ID – Ada yang lebih berbahaya daripada melakukan kesalahan: kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang salah. Sebab, selama seseorang masih bersedia menegur dirinya sendiri, masih ada pintu yang terbuka untuk kembali. Namun, ketika suara hati mulai bungkam, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan, kebiasaan menjelma pembenaran dan pembenaran perlahan membentuk watak

KHAMENEI.ID – Selama bertahun-tahun, kata perlawanan atau resistensi sering dipersempit menjadi istilah militer. Ia identik dengan perang, konflik, atau pertempuran bersenjata. Padahal, dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, resistensi memiliki makna yang jauh lebih luas. Ia bukan sekadar respons terhadap agresi, melainkan sebuah paradigma untuk membangun kembali martabat dunia Islam.

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang semakin menguat di tengah masyarakat modern: jangan mencampuri urusan orang lain. Biarkan setiap orang memilih jalannya sendiri, mengambil keputusannya sendiri, lalu menanggung akibatnya sendiri. Sekilas terdengar bijaksana. Namun dalam kehidupan yang dibangun di atas persaudaraan, sikap semacam itu justru menyisakan satu pertanyaan penting: jika kita melihat seseorang

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang diam-diam mengakar dalam hidup banyak orang: kita hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan. Padahal, dalam kehidupan, ada sesuatu yang sering kali lebih berat daripada tindakan, yaitu kesempatan yang sengaja dibiarkan berlalu. Kata-kata yang seharusnya diucapkan tetapi ditahan. Sikap yang seharusnya diambil tetapi dihindari.

KHAMENEI.ID– Setiap tahun jutaan manusia bergerak menuju satu titik yang sama: Karbala. Mereka datang dari berbagai kota, bangsa, bahasa, bahkan latar belakang kehidupan yang berbeda. Yang mereka pilih bukan perjalanan singkat dengan kenyamanan penuh, melainkan langkah demi langkah sepanjang puluhan kilometer. Tidak ada panggung hiburan, tidak ada hadiah di garis akhir.

KHAMENEI.ID – Selama puluhan tahun, Amerika Serikat diposisikan sebagai pusat gravitasi politik dunia. Kekuatan ekonomi, dominasi militer, jaringan aliansi, hingga pengaruh budaya menjadikannya simbol dari tatanan internasional pasca-Perang Dingin. Namun, benarkah dominasi itu akan bertahan selamanya? Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengemukakan pandangan yang berbeda dari narasi arus

KHAMENEI.ID – Di tengah zaman yang dipenuhi ledakan informasi, manusia sering menganggap seni sekadar pelengkap kehidupan. Ia ditempatkan di ruang hiburan, galeri, panggung pertunjukan, atau rak buku puisi. Ketika ekonomi memburuk atau politik memanas, seni kerap dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda. Padahal, menurut Imam Ali Khamenei qs, justru di situlah

KHAMENEI.ID – Dalam pandangan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, senyuman bukan sekadar ekspresi sosial atau basa-basi, melainkan unsur vital yang membedakan kehidupan surgawi dari kehidupan neraka. Beliau menegaskan bahwa “kehidupan tanpa kebahagiaan dan tanpa senyuman adalah kehidupan neraka,” sementara “kehidupan surgawi adalah kehidupan dengan senyuman.” Pernyataan tegas ini

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan yang diam-diam menguasai hidup manusia modern: menghitung segala sesuatu. Kita menghitung peluang keberhasilan, menghitung modal, menghitung risiko, bahkan menghitung kemungkinan gagal sebelum benar-benar melangkah. Logika menjadi kompas utama, sementara angka dipercaya sebagai penentu nasib. Padahal, sejarah kehidupan berkali-kali menunjukkan bahwa tidak semua hal yang menentukan masa depan

KHAMENEI.ID– Di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berpendapat, kata amar makruf nahi mungkar sering kali terdengar sebagai slogan yang kehilangan ruhnya. Ia kerap dipersempit menjadi urusan menegur kesalahan orang lain, bahkan tak jarang berubah menjadi pembenaran untuk menghakimi. Padahal, jika ditelusuri dari sumber ajaran Islam, konsep ini jauh lebih luas.

KHAMENEI.ID– Peradaban modern sering dipuji sebagai puncak pencapaian manusia. Teknologi melesat, ilmu pengetahuan berkembang tanpa jeda, dan batas-batas geografis seolah lenyap oleh derasnya arus informasi. Namun di balik kemajuan itu, sebuah pertanyaan mendasar tetap menggantung: benarkah manusia hari ini semakin beradab? Hari peringatan Isra Mikraj atau Maulid Nabi saw sering mengajak