

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID– Ada kebiasaan yang diam-diam mengendap dalam banyak ruang kehidupan: menganggap usia sebagai ukuran kebijaksanaan, jabatan sebagai tanda keunggulan, dan kedekatan sebagai alasan untuk mendapatkan kepercayaan. Seolah-olah semakin lama seseorang hidup, semakin layak ia memimpin. Seolah-olah senioritas dengan sendirinya melahirkan kemampuan. Islam menawarkan ukuran yang berbeda. Dalam pandangan itu, perubahan memang

KHAMENEI.ID – Dalam penafsiran Imam Khamenei pada Ayat 23–24 Surah Al-Baqarah, Al-Quran tidak sekadar meminta manusia percaya. Ia memberi ruang bagi keraguan, lalu mengubah keraguan itu menjadi sebuah tantangan yang harus dijawab. Pada ayat-ayat sebelumnya, Al-Qur’an mengajak manusia mengenali Allah swt melalui penciptaan dirinya dan seluruh lingkungan kehidupannya. Manusia diperintahkan

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Khamenei dalam Surah Al-Baqarah ayat 22, melanjutkan pembahasan sebelumnya, namun kali ini titik tekannya adalah bagaimana kaum musyrik Quraisy sebenarnya mengakui Allah swt sebagai Pencipta, tetapi menyerahkan pengaturan alam kepada berhala-berhala. Dari sini pembahasan bergerak kepada makna tauhid rububiyah dan relevansinya dengan ketaatan manusia kepada selain

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah masyarakat tampak kuat dari luar, tetapi gelisah di dalam. Negara memiliki institusi, pemilu berlangsung, kekuasaan berganti, tetapi hati orang-orang tetap dipenuhi kecemasan. Di titik itulah agama tidak cukup dipahami sebagai kumpulan ajaran yang tersimpan dalam kitab. Ia dituntut hadir sebagai kekuatan yang membentuk kehidupan. Dalam pandangan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika agama begitu mudah dibicarakan sebagai urusan pribadi. Ia ditempatkan di ruang yang sunyi: masjid, rumah, hati manusia. Sementara kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, dan urusan masyarakat dianggap berada di wilayah lain yang lebih “realistis”. Seolah-olah keduanya memang harus dipisahkan. Sejarah Islam justru bermula dari kegelisahan yang berbeda. KetikaRasulullah Muhammad

KHAMENEI.ID– Setiap bangsa memiliki cara sendiri untuk mengingat para pahlawannya. Ada yang mengabadikan nama mereka di jalan, mendirikan patung, menulisnya dalam buku sejarah, atau menjadikan hari kematian mereka sebagai hari peringatan. Namun ingatan yang paling kuat barangkali bukanlah yang terpahat di batu. Ia hidup dalam cerita: tentang bagaimana seseorang menjalani hari-harinya,

KHAMENEI.ID– Ada banyak cara untuk mengenang seorang pemimpin. Namanya dapat diabadikan dalam peringatan tahunan, wajahnya dipasang di dinding, kisahnya diceritakan dari mimbar ke mimbar. Tapi ada satu cara mengenang yang jauh lebih berat: mencoba hidup dengan nilai yang pernah ia perjuangkan. Di sinilah persoalan kepemimpinan Imam Ali a.s menjadi relevan. Mengenal

KHAMENEI.ID– Setiap zaman punya cara sendiri untuk memuja masa lalu. Kita menuliskan nama tokoh besar di spanduk, mencetak wajahnya di poster, menggelar seminar tentang pemikirannya, lalu merasa telah cukup dekat dengannya. Padahal ada jarak yang sering luput kita sadari: jarak antara mengagumi seorang tokoh dan meniru cara hidupnya. Pada pesan Ayatollah

KHAMENEI.ID – Imam Khamenei: Dunia Sedang Bergerak dari Tatanan Dominasi Menuju Tatanan Baru Selama berabad-abad, dunia seolah menerima satu aturan tidak tertulis: ada negara yang berhak menguasai, dan ada negara yang ditakdirkan untuk dikuasai. Ada pusat kekuasaan yang menentukan arah politik, ekonomi, dan kebudayaan, sementara negara-negara lain ditempatkan sebagai pengikut.

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa diuji bukan hanya oleh krisis yang datang dari luar, melainkan oleh cara ia memahami krisis itu sendiri. Di tengah kerusuhan, tekanan politik, dan kegaduhan informasi, selalu muncul suara yang menawarkan jalan keluar yang tampak sederhana: duduklah, berundinglah, selesaikan masalah dengan Amerika. Ada pula seruan lain









