

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Ada ironi besar dalam kehidupan modern hari ini. Manusia hidup semakin dekat secara teknologi, tetapi semakin jauh secara hati. Kita bisa mengirim pesan ke belahan dunia lain dalam hitungan detik, tetapi sering gagal menyapa tetangga sendiri dengan hangat. Kita tahu kabar perang, bencana, dan tragedi dari seluruh dunia, tetapi

KHAMENEI.ID– Sejarah selalu punya cara aneh untuk mengulang dirinya. Kekuasaan yang tampak paling perkasa sering justru sedang menyembunyikan ketakutannya yang paling besar. Hari ini Amerika tampak menjulang sebagai simbol dominasi dunia modern. Pangkalan militernya tersebar di berbagai penjuru bumi. Pengaruh ekonominya masuk ke ruang-ruang paling pribadi kehidupan manusia. Film-filmnya membentuk

KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan manusia modern kepada dirinya sendiri: kalau Nabi saw saja setiap hari memohon perlindungan kepada Tuhan, lalu sebenarnya apa yang begitu beliau takutkan? Kita hidup di zaman yang sibuk membangun citra diri. Orang takut miskin, takut gagal, takut kehilangan popularitas, takut tertinggal dari tren.

KHAMENEI.ID– Saat ini, dalam kehidupan modern: manusia semakin mudah mengakses informasi, tetapi semakin sulit menemukan kebijaksanaan. Kita hidup di zaman ketika orang bisa berbicara tentang apa saja hanya bermodal keberanian tampil, bukan kedalaman ilmu. Media sosial dipenuhi pendapat yang diucapkan dengan penuh keyakinan, bahkan ketika pengetahuan sebenarnya nyaris tidak ada.

Dunia modern memuja produktivitas. Kita dilatih menjadi mesin-mesin efisien yang bekerja, berproduksi, dan mengonsumsi tanpa henti. Namun, dibalik semua gemerlap kesuksesan, ada keheningan yang mencekik: kelelahan jiwa yang tak terobati, kesepian di tengah keramaian, dan rumah yang terasa asing. Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, mengingatkan kita pada sebuah

Selama berpuluh-puluh tahun, para pemikir dan aktivis sosial sibuk merumuskan strategi besar untuk menyelamatkan peradaban. Seminar digelar. Dana mengucur. Lembaga internasional dibentuk. Namun, ironisnya, tingkat depresi, kenakalan remaja, dan disintegrasi keluarga justru meningkat. Mengapa? Mungkin karena kita semua salah fokus. Menurut Pemimpin Revolusi Islam, Imam Sayyid Ali Khamenei, akar dari

KHAMENEI.ID – Di zaman ketika manusia tak pernah berhenti menatap layar, berpindah dari satu informasi ke informasi lain, ada satu penyakit batin yang justru semakin tumbuh diam-diam: lupa. Bukan lupa terhadap jadwal atau pekerjaan, melainkan lupa terhadap makna hidup, lupa terhadap Allah swt, bahkan lupa terhadap dirinya sendiri. Dalam salah

KHAMENEI.ID– Ada satu penyakit yang diam-diam menghambat banyak bangsa berkembang: gengsi untuk belajar. Sebagian orang lebih rela terlihat pintar daripada benar-benar menjadi pintar. Mereka takut dianggap tertinggal, malu bertanya, alergi mengakui kelemahan, dan akhirnya memilih hidup dalam ilusi kebesaran masa lalu. Padahal sejarah tidak pernah bergerak karena nostalgia. Ia bergerak

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang diam-diam sedang diperebutkan di zaman modern: bukan sekadar pasar, politik, atau teknologi, melainkan imajinasi manusia. Terutama imajinasi anak muda. Hari ini, hampir setiap layar di dunia dipenuhi wajah-wajah yang dirancang untuk dikagumi. Industri hiburan global terus memproduksi tokoh-tokoh populer: selebritas, aktor, influencer, penulis sensasional, hingga figur

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an berbicara tentang manusia. Ketika kitab suci itu hendak menjelaskan tentang iman, pengkhianatan, kesetiaan, atau keteguhan moral, ia tidak selalu menunjuk raja-raja besar, panglima perang, atau para filsuf. Kadang justru yang diangkat adalah seorang perempuan yang hidupnya tampak biasa, bekerja di rumah kecil,