

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

KHAMENEI.ID— Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah manusia: hampir semua orang memuji keadilan, tetapi tidak banyak yang siap menanggung konsekuensinya. Orang ingin pemimpin yang bersih, selama kebersihan itu tidak menyentuh kepentingannya. Mereka mendukung perubahan, selama perubahan itu tidak mengganggu privilese yang telah lama dinikmati. Kisah pemerintahan Ali bin Abi

KHAMENEI.ID— Ada satu pemandangan yang selalu berulang setiap tahun setelah Ramadan berakhir: masjid mulai sepi, lantunan doa perlahan menghilang, dan manusia kembali tenggelam dalam ritme hidup yang tergesa-gesa. Malam-malam yang sebelumnya dipenuhi shalat, tangis, dan tilawah berubah kembali menjadi layar ponsel, jadwal pekerjaan, dan kesibukan tanpa jeda. Ramadan lewat begitu

Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana seorang perempuan bekerja sepanjang hari seperti laki-laki, pulang ke rumah, lalu memulai “shift kedua” sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak—tanpa ada satu pun dokumen internasional yang mengakui beban ganda ini? Dunia itu bukan fiksi ilmiah. Itulah realitas yang diciptakan oleh dokumen-dokumen hak

“Keluarga bukan sekadar unit sosial—ia adalah batu penjuru peradaban.” Itulah pesan tegas yang disampaikan Imam Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pengumuman bersejarah pada 13 September 2016. Sebuah dokumen kebijakan yang tidak hanya mengatur, tetapi merancang ulang seluruh tatanan kehidupan berkeluarga dalam bingkai masyarakat Islam. Berikut ini terjemahan resmi

KHAMENEI.ID – Dalam dunia politik modern yang dipenuhi diplomasi, negosiasi, dan janji kerja sama internasional, Imam Ali Khamenei qs mengajukan satu peringatan yang terdengar keras sekaligus kontras: “Jangan percaya kepada musuh.” Kalimat itu bukan sekadar slogan politik, melainkan inti dari pandangannya tentang hubungan dunia Islam dengan kekuatan-kekuatan global yang ia anggap

KHAMENEI.ID – Di era ketika riset ilmiah diukur oleh jumlah publikasi, ranking universitas, dan dana sponsor internasional, muncul pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: benarkah ilmu hari ini sepenuhnya bebas? Di sini, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap dunia ilmu bukan hanya keterbelakangan, tetapi juga hilangnya kemandirian

KHAMENEI.ID – Setiap kali terjadi serangan teroris, konflik global, atau ketegangan politik di dunia Islam, gelombang Islamofobia kembali menguat. Media internasional ramai menampilkan wajah Islam yang keras, menakutkan, dan penuh kekerasan. Namun dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs justru melihat fenomena ini dari sudut yang berbeda: serangan terhadap

KHAMENEI.ID— Ada satu ironi besar dalam kehidupan modern hari ini: manusia semakin mahir menyembunyikan kesalahan, tetapi semakin sulit mengakui luka batinnya sendiri. Kita hidup di zaman ketika citra lebih penting daripada kejujuran. Media sosial dipenuhi pencitraan kebahagiaan, kesuksesan, dan kesalehan, sementara di balik layar banyak orang diam-diam lelah, kosong, dan

KHAMENEI.ID— Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur di tengah hiruk-pikuk dunia Islam hari ini: mengapa umat dengan jumlah lebih dari satu miliar manusia justru terus tampak terpecah, mudah ditekan, dan kehilangan arah? Padahal sejarah pernah mencatat, dari rahim peradaban Islam lahir ilmu pengetahuan, tata sosial, hingga kekuatan politik