Kajian Keislaman

Terlena oleh Pujian, Lupa Mengadili Diri Sendiri

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

Jihad Tabyin: Saat Para Intelektual Wajib Bicara

Suatu bangsa bisa runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kalah dalam menjelaskan kebenaran. Kekalahan itu sunyi, tak berdarah, namun merambat pelan melalui kabut keraguan, simpang-siur informasi, dan kata-kata setengah hati dari mereka yang seharusnya berbicara. Di sinilah sebuah konsep penting mengemuka: Jihad Tabyin (Jihad Narasi) atau perjuangan dalam menjelaskan

Etika Pejuang: Mengapa Akhlak Adalah Benteng Terkuat Sebuah Gerakan

Sejarah sering mengajarkan bahwa kekuatan dibangun dari senjata, strategi, dan keberanian. Namun ada pelajaran yang jarang disadari: banyak gerakan runtuh bukan karena kalah di medan perang, melainkan karena retak dari dalam. Imam Ali Khamenei qs memandang bahwa benteng sebuah gerakan tidak pertama-tama berdiri di atas kekuatan fisik, tetapi di atas

Haji dan Persatuan Umat Islam: Ritual Spiritual atau Manifesto Perlawanan Global?

Lautan manusia bergerak dalam satu arus yang sama. Dari benua yang berjauhan, dari bahasa yang tak saling dimengerti, dari sejarah yang sering kali saling bertentangan—semuanya berkumpul di satu titik. Di tanah suci, dunia seakan dipadatkan menjadi satu ruang, satu waktu, satu arah. Pemandangan ini selalu memunculkan pertanyaan besar: apakah haji

Membersihkan Hati dengan Istighfar: Ketika Dosa Tak Lagi Terlihat, Tapi Terasa

Ada satu hal yang jarang kita akui dengan jujur: hati kita tidak selalu bersih. Ia mungkin tampak tenang di permukaan, tetapi di dalamnya tersimpan lapisan-lapisan yang tak kasatmata—cinta yang salah arah, kebencian yang berlebihan, keinginan yang tak terkendali, dan keterikatan yang diam-diam mengikat jiwa. Kita menjalaninya seperti biasa, tanpa merasa

Mengapa Rasulullah Menekankan Kesempurnaan dalam Pekerjaan yang Tampak Sederhana? 

  Dari Liang Kubur Sa’ad bin Mu’adz, Pelajaran Besar tentang Profesionalisme dalam Islam Di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa, ketika pekerjaan kerap dipandang sekadar rutinitas yang harus segera selesai, sebuah kisah klasik dari sejarah Islam menghadirkan jeda yang menggetarkan. Bukan tentang perang besar, bukan pula tentang pidato politik, melainkan tentang

Tafsir surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 4)

Tafsir إِیّاکَ نَعبُدُ Setelah kesadaran tentang “مٰلِکِ یَومِ الدّین” menegaskan bahwa seluruh hidup manusia akan bermuara pada satu hari pertanggungjawaban di bawah kekuasaan mutlak Tuhan, maka secara alami lahirlah satu sikap batin yang paling mendasar: penyerahan diri sepenuhnya. Dari titik inilah ayat beralih menjadi sebuah pernyataan yang tidak lagi sekadar

Tafsir Surah Alfatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 3)

Tafsir Ayat مَلِکِ یَومِ الدّین Setelah ayat-ayat awal Surah Al-Fatihah menuntun kita mengenal Tuhan sebagai Rabb semesta alam dan sumber kasih sayang yang tak terbatas, Al-Qur’an kemudian membawa kesadaran kita melangkah lebih dalam, menuju satu kenyataan yang tak terelakkan: “مٰلِکِ یَومِ الدّین” — Pemilik Hari Pembalasan. Di titik ini, hubungan

Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 2)

Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim Ar-Rahman dan Ar-Rahim keduanya diambil dari akar kata “Rahmat”, namun dengan dua perhatian dan sudut pandang yang berbeda. Ar-Rahman: Adalah sighah mubalaghah (bentuk hiperbolis). Dalam bahasa Arab, salah satu bentuk mubalaghah adalah fa’lan. Rahman menunjukkan banyaknya rahmat dan limpahan rahmat; menunjukkan luasnya lingkaran rahmat Ilahi. Ar-Rahim:

Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)

Bismillahirrahmanirrahim Kami telah menyampaikan pendahuluan mengenai keharusan menafsirkan Al-Qur’an dan keharusan merujuk kepadanya, serta metode kerja tafsirnya. Ringkasnya adalah bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, kami lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat berbahasa Persia saat ini, yaitu mengetahui terjemahan yang jelas dan lancar dari Al-Qur’an, kemudian menjelaskan konsep-konsep Al-Qur’an pada tingkat menengah. (Maksud