Kajian Keislaman

Terlena oleh Pujian, Lupa Mengadili Diri Sendiri

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

Antara Mimbar dan Istana: Siapa Sebenarnya yang Terseret Dunia?

Ada kecenderungan yang kian menguat dalam perbincangan publik: membelah rohaniwan ke dalam dua kubu yang seolah saling berseberangan—“pro-pemerintah” dan “non-pemerintah”. Yang satu dianggap dekat dengan kekuasaan, yang lain dipersepsikan lebih “murni”. Dari sana, lahirlah penilaian moral yang tergesa: yang ini bernilai, yang itu tercela. Padahal, pembelahan semacam itu bukan hanya

Hukum Tanpa Empati? Pesan Etika Peradilan dalam Pemikiran Imam Ali Khamenei qs

Ruang sidang sering dibayangkan sebagai tempat yang dingin. Meja kayu yang berat, palu hakim yang keras, berkas perkara yang menumpuk. Segalanya terasa tegas, pasti, dan tak kenal kompromi. Di sana, hukum bekerja seperti mesin: presisi, tajam, dan menentukan. Namun, dalam salah satu pandangan yang dinisbatkan kepada Imam Ali Khamenei, ada

Mengenal Konsep Wilayat Faqih (5) Dari Wacana ke Revolusi: Bagaimana Ide Menggerakkan Massa

Ada masa ketika sebuah gagasan tampak kecil, bahkan rapuh—dibicarakan di ruang-ruang terbatas, diperdebatkan oleh segelintir orang, dan diragukan oleh banyak pihak. Tapi sejarah sering bergerak dengan cara yang tak terduga. Ia diam-diam mengumpulkan energi, menumbuhkan keyakinan, hingga pada satu titik berubah menjadi gelombang besar yang tak bisa dibendung. Gelombang itu

Tidak Zalim Bahkan pada Musuh: Standar Tinggi yang Dilupakan Banyak Orang

Penjelasan Singkat Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Tentang Sebuah Hadis عَن اَبی عَبدِ اللهِ عَلَیهِ السَّلام قالَ: یَنبَغی لِلمُؤمِنِ اَن یَکونَ فیهِ ثَمانُ خِصالٍ وَقورٌ عِندَ الهَزاهِزِ صَبورٌ عِندَ البَلاءِ شَکورٌ عِندَ الرَّخاءِ قانِعٌ بِما رَزَقَهُ اللهُ لا یَظلِمُ الاَعداءَ وَ لا یَتَحامَلُ لِلاَصدِقاءِ بَدَنُهُ مِنهُ فی تَعَبٍ وَ النّاسُ مِنهُ

Mengenal Konsep Wilayat Faqih (4) Perjuangan Tanpa Tujuan Adalah Kelelahan yang Panjang

Ada masa ketika masa depan terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Gelap, sunyi, dan membingungkan. Orang-orang bergerak, tetapi tak benar-benar tahu ke mana hendak menuju. Dalam situasi seperti itu, yang paling melelahkan bukanlah perjuangan itu sendiri, melainkan ketiadaan arah. Dan sejarah, berkali-kali, menunjukkan bahwa satu gagasan yang tepat bisa mengubah

Lebih Mulia dari Sahabat? Paradoks Iman Tanpa Pernah Melihat Nabi

  Ada satu pertanyaan yang mungkin diam-diam pernah terlintas di benak banyak orang beriman: seandainya kita hidup di masa Nabi, melihat langsung sosoknya, menyaksikan mukjizatnya, berjalan bersamanya di medan perjuangan—bukankah itu puncak keimanan? Bukankah tak ada yang bisa melampaui generasi para sahabat? Sebuah riwayat lama justru mengguncang asumsi itu. Dikisahkan,

Manfaat Haji; Rumah Tuhan untuk Semua, dan Ilusi Kekuatan Musuh

Umat Jika pada bagian sebelumnya haji dipahami sebagai perjalanan menaklukkan ego, maka ayat berikutnya membuka lapisan yang lebih luas: haji bukan hanya perjalanan spiritual pribadi, tetapi juga proyek peradaban. Ia bukan sekadar ibadah individu, melainkan pertemuan akbar umat manusia yang sarat manfaat—manfaat spiritual, sosial, bahkan politik dalam arti paling luas.

Haji, Persatuan, dan Harapan: Membaca Ayat-Ayat Ketahanan dalam Pesan Haji

Setiap tahun, jutaan orang pulang dari Mekkah dengan label baru: haji. Gelar sosial yang melekat, foto kenangan yang tersimpan, kisah perjalanan yang diceritakan ulang. Namun sebuah pertanyaan sering luput diajukan: apa sebenarnya yang dibawa pulang dari perjalanan itu selain pengalaman spiritual pribadi? Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah dalam banyak

Mengenal Konsep Wilayat Faqih (3)  Mengkaji Ulang Makna Kekuasaan dalam Islam: Pemerintahan, Tujuan atau Sekadar Alat Kekuasaan?

Kekuasaan selalu memikat. Ia menjanjikan pengaruh, kendali, dan—sering kali—kehormatan. Dalam percakapan sehari-hari, ketika orang menyebut “pemerintahan”, yang terbayang biasanya adalah kursi-kursi tinggi, keputusan besar, dan tangan-tangan yang menentukan arah nasib banyak orang. Namun, di balik gemerlap itu, terselip satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah pemerintahan memang tujuan utama,