

KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tidak lahir karena kekalahan. Ia justru muncul ketika kemenangan telah lewat, peperangan telah usai, tetapi sahabat-sahabat seperjuangan satu per satu telah tiada. Kesedihan semacam itulah yang pernah menyelimuti hati Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Bukan kesedihan seorang pemimpin yang kehilangan kekuasaan, melainkan duka seorang manusia yang

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang diam-diam hidup dalam cara banyak orang memandang kehidupan. Dunia dianggap sebagai satu wilayah, akhirat wilayah yang lain. Yang satu urusan pekerjaan, kekuasaan, ekonomi, dan keseharian; yang lain urusan ibadah, doa, dan kehidupan setelah mati. Seolah-olah keduanya dipisahkan oleh tembok tebal yang baru akan terbuka ketika

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang berulang dalam sejarah manusia: ketika seseorang menggantungkan nasibnya kepada kekuatan yang tampak besar, justru di saat paling genting ia ditinggalkan sendirian. Kekuasaan yang semula dipuja berubah menjadi pintu yang tertutup rapat. Persahabatan yang tampak kokoh ternyata hanya berlangsung selama kepentingan masih berjalan searah. Fenomena itu bukan

KHAMENEI.ID– Setiap peradaban memiliki momen-momen yang mengubah arah sejarah. Ada peristiwa yang tidak hanya mengguncang sebuah bangsa, tetapi juga meninggalkan jejak yang terus memengaruhi perjalanan manusia berabad-abad kemudian. Dalam pandangan Islam, salah satu momen terbesar itu adalah kelahiran Nabi Muhammad saw, sebuah peristiwa yang bukan sekadar kelahiran seorang manusia, melainkan

KHAMENEI.ID– Perubahan besar dalam sejarah sering kali tampak lahir dari jalan-jalan yang dipenuhi manusia. Dari rapat umum, demonstrasi, revolusi, atau gelombang solidaritas yang melintasi batas negara. Namun jika ditelusuri lebih dalam, setiap perubahan sosial sesungguhnya berawal dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: hati manusia. Kita kerap mengira bahwa sejarah digerakkan

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan lama yang masih bertahan hingga hari ini: menganggap usia sebagai ukuran utama kelayakan. Semakin tua seseorang, semakin besar haknya untuk memimpin. Sebaliknya, semakin muda seseorang, semakin kuat keraguan yang diarahkan kepadanya. Seolah-olah tahun yang lebih banyak otomatis menghadirkan kebijaksanaan yang lebih dalam. Namun sejarah Islam menyimpan

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang sering diwariskan dari generasi ke generasi tentang takwa. Ketika kata itu disebut, yang segera muncul dalam benak banyak orang adalah ibadah pribadi: shalat yang khusyuk, puasa yang sempurna, zikir yang panjang, atau kemampuan menjauhi dosa-dosa individu. Semua itu memang bagian dari takwa. Namun, apakah takwa

KHAMENEI.ID– Di tengah arus informasi yang kian deras, pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri sebagai penjamin kebenaran. Ia justru bisa menjadi pintu masuk bagi kekeliruan, jika tidak disertai satu hal yang kerap diabaikan: kesadaran terhadap zaman. Sebuah gagasan lama yang kini terasa semakin relevan, bahwa menjadi berilmu tanpa memahami konteks zaman

KHAMENEI.ID– Di banyak ruang kerja, di balik meja-meja rapat dan laporan kinerja, manusia sering diam-diam terjebak pada satu hal yang tampak sederhana tetapi menentukan arah seluruh hidup: kepada siapa sebenarnya ia menaruh harapan. Apakah kepada Tuhan, atau kepada penilaian manusia yang selalu berubah-ubah? Di titik inilah sebuah pesan lama kembali

KHAMENEI.ID– Di banyak momen sejarah sebuah bangsa, ada satu titik ketika kata “diam” tidak lagi netral. Ia berubah menjadi tanda tanya yang menggantung di atas kepala publik: mengapa kita berhenti bergerak, padahal zaman terus melaju? Di titik seperti inilah gagasan tentang kerja dan keterlibatan menjadi lebih dari sekadar anjuran moral;

KHAMENEI.ID– Di dalam sejarah panjang pemikiran Islam, ada satu cabang yang kerap bekerja diam-diam, namun sesungguhnya menentukan arah kehidupan publik: fikih politik. Ia tidak lahir sebagai teori yang rapi di atas meja akademik, melainkan tumbuh di tengah riwayat, percakapan, dan praktik sosial yang hidup. Dalam tradisi Syiah, akar fikih politik









