

KHAMENEI.ID – Tafsir QS Al-Baqarah Ayat 6–7 tentang Hati yang Tertutup Ketika kepentingan dan hawa nafsu membuat seseorang menolak kebenaran, meski telah melihatnya dengan jelas. Ada orang yang berubah hanya karena mendengar satu kalimat kebenaran. Ada pula yang berkali-kali diingatkan, tetapi tetap bergeming. Al-Qur’an mengakui kenyataan itu sejak awal Surah

KHAMENEI.ID– Ada satu jenis kekalahan yang paling menyakitkan dalam hidup manusia: bukan ketika kita kalah karena lemah, melainkan ketika kita kalah karena tidak menyadari apa yang sedang terjadi di depan mata. Kita tidak melihat ancaman, tidak membaca perubahan, dan tidak memahami permainan yang sedang berlangsung. Saat kesadaran datang, semuanya sudah

KHAMENEI.ID – Industri bernilai puluhan miliar dolar, puluhan persen lalu lintas internet, dan puluhan ribu korban perempuan setiap tahunnya. Inilah sisi lain dari “kebebasan” yang begitu digembar-gemborkan oleh Barat. Pertanyaannya, apakah ini yang disebut kemajuan? Dalam pidatonya pada pertemuan akbar dengan kaum perempuan di tanggal 12 Azar 1404 HS, Pemimpin

KHAMENEI.ID – Bayangkan, di salah satu negara paling maju di dunia, hampir separuh anak-anak tumbuh tanpa figur seorang ayah. Inilah realitas pahit yang kini membayangi Barat—sebuah kawasan yang selama ini mengklaim diri sebagai pelopor peradaban dan kebebasan. Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, dalam pertemuan dengan ribuan

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika ukuran keberhasilan sering ditentukan oleh jabatan, jumlah pengikut di media sosial, atau besarnya rekening bank, kita mudah terjebak pada satu ilusi: bahwa kehormatan lahir dari apa yang tampak. Gelar, kursi kekuasaan, dan status sosial seolah menjadi penentu nilai seseorang. Padahal, sejarah manusia berulang kali menunjukkan bahwa

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang sering berulang dalam cara sebagian orang memandang kehidupan. Dunia dianggap sebagai sesuatu yang rendah, penuh tipu daya, dan harus dijauhi. Kekayaan dicurigai, kemajuan dipandang dengan waswas, bahkan kenikmatan hidup kadang dianggap sebagai penghalang menuju Tuhan. Akibatnya, lahir pandangan bahwa semakin jauh seseorang dari urusan dunia,

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah manusia. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula kegelisahan yang dirasakan. Semakin tinggi jabatan yang diraih, semakin kuat ketakutan untuk kehilangan. Di tengah kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan kemudahan hidup modern, manusia justru sering terjebak dalam perlombaan tanpa garis akhir. Barangkali karena

KHAMENEI.ID– Ada satu sisi dari kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s yang jarang dibicarakan. Orang mengenalnya sebagai ksatria yang tak terkalahkan, panglima perang yang disegani, sekaligus hakim yang adil dan pemimpin yang bijaksana. Namun di balik keberanian dan keteguhannya, ada seorang manusia yang berkali-kali menangis karena kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya.

KHAMENEI.ID– Malam-malam Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang sulit dijelaskan hanya dengan angka. Ribuan orang memenuhi masjid, musala, dan ruang-ruang ibadah. Tangan-tangan terangkat. Mata-mata basah. Bibir-bibir bergetar mengucapkan doa yang mungkin sudah dihafal sejak kecil, atau justru baru pertama kali diucapkan dengan sungguh-sungguh. Yang menarik, di antara kerumunan itu ada pelajar,

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang sering luput kita sadari dalam kehidupan modern. Kita mengeluh tak punya waktu untuk beribadah, tetapi tanpa sadar sanggup menghabiskan puluhan menit menunggu sesuatu yang bahkan tidak penting. Kita duduk berlama-lama menonton iklan sebelum acara favorit dimulai, menunggu kendaraan datang, menunggu teman yang terlambat, atau sekadar menggulir

KHAMENEI.ID– Lima puluh tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, sesuatu yang nyaris tak terbayangkan terjadi. Kursi yang dahulu diduduki seorang nabi yang membawa risalah tauhid dan keadilan kini ditempati oleh penguasa yang, menurut banyak catatan sejarah Islam, tenggelam dalam kemewahan, penyimpangan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Yang lebih mengejutkan bukanlah kemunculan penguasa